Liputan6.com, Kupang: Lima dari delapan bersaudara sebuah keluarga di Desa Biloto, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, menderita lumpuh sejak masih berusia di bawah lima tahun. Anak-anak pasangan Fredik Bahan dan Milka Saba ini lahir normal, namun tidak bisa berjalan sejak bayi hingga sekarang.
Saat ditemui SCTV, baru-baru ini, Roman, 26 tahun, anak kedua Fredi yang normal, mengatakan ayahnya sudah pernah berusaha agar anak-anaknya dirawat di panti sosial. Mereka adalah Alfi (23 tahun), Ety (18), Yopri (15), dan Pace (11). Sedangkan Jemri, si bungsu yang berusia lima tahun sedang tidak berada di rumah. Namun, hingga kini, permintaannya itu tidak direspons pemerintah setempat. Fredi juga sudah memeriksakan anak-anaknya ke Pusat Kesehatan Masyarakat Siso di ibu kota kecamatan, bahkan pernah ditangani hingga ke Kupang. Namun, belum diketahui penyebab pasti penyakit yang membuat anak-anaknya lumpuh.
Fredi yang sehari-hari bekerja sebagai petani di pedalaman Pulau Timor ini tidak pernah membayangkan akan menanggung beban hidup begitu berat. Apalagi melihat penderitaan anak-anaknya. Mereka tinggal berdesakan di rumah yang sempit. Sementara Fredi dan istrinya setiap hari harus pergi ke kebun di Kampung Lalalik, sekitar lima kilometer dari rumah. Roman yang ditugasi menjaga empat adiknya di rumah.
Pemberitaan kasus polio yang gencar sekaligus mengangkat kasus-kasus kelumpuhan yang menyerang sejumlah keluarga. Termasuk yang dialami tiga bersaudara di Kecamatan Jambi Timur, Jambi. Mereka menderita lumpuh sudah belasan tahun dan hingga kini belum diketahui penyebab pasti penyakit yang membuat kedua kaki mereka lemah dan tidak sanggup menopang tubuh. Sebelum lumpuh, ketiga anak yatim piatu ini mengalami gejala yang hampir sama: sakit pada kedua kaki dan secara perlahan diikuti ketidakmampuan untuk berdiri tegak dan akhirnya lumpuh [baca: Di Jambi, Satu Keluarga Lumpuh].(TNA/Didimus Payong Dore)
Saat ditemui SCTV, baru-baru ini, Roman, 26 tahun, anak kedua Fredi yang normal, mengatakan ayahnya sudah pernah berusaha agar anak-anaknya dirawat di panti sosial. Mereka adalah Alfi (23 tahun), Ety (18), Yopri (15), dan Pace (11). Sedangkan Jemri, si bungsu yang berusia lima tahun sedang tidak berada di rumah. Namun, hingga kini, permintaannya itu tidak direspons pemerintah setempat. Fredi juga sudah memeriksakan anak-anaknya ke Pusat Kesehatan Masyarakat Siso di ibu kota kecamatan, bahkan pernah ditangani hingga ke Kupang. Namun, belum diketahui penyebab pasti penyakit yang membuat anak-anaknya lumpuh.
Fredi yang sehari-hari bekerja sebagai petani di pedalaman Pulau Timor ini tidak pernah membayangkan akan menanggung beban hidup begitu berat. Apalagi melihat penderitaan anak-anaknya. Mereka tinggal berdesakan di rumah yang sempit. Sementara Fredi dan istrinya setiap hari harus pergi ke kebun di Kampung Lalalik, sekitar lima kilometer dari rumah. Roman yang ditugasi menjaga empat adiknya di rumah.
Pemberitaan kasus polio yang gencar sekaligus mengangkat kasus-kasus kelumpuhan yang menyerang sejumlah keluarga. Termasuk yang dialami tiga bersaudara di Kecamatan Jambi Timur, Jambi. Mereka menderita lumpuh sudah belasan tahun dan hingga kini belum diketahui penyebab pasti penyakit yang membuat kedua kaki mereka lemah dan tidak sanggup menopang tubuh. Sebelum lumpuh, ketiga anak yatim piatu ini mengalami gejala yang hampir sama: sakit pada kedua kaki dan secara perlahan diikuti ketidakmampuan untuk berdiri tegak dan akhirnya lumpuh [baca: Di Jambi, Satu Keluarga Lumpuh].(TNA/Didimus Payong Dore)