Sukses

Kaspersky Ungkap Bahaya Akun Palsu Bagi Bisnis

Liputan6.com, Jakarta - Elon Musk belum lama ini menunda transaksi pembelian Twitter senilai USD 44 miliar atau setara Rp 635 triliun karena akun palsu. Masih soal akun palsu, Facebook tahun lalu menghapus 6,5 juta akun palsu.

Tidak hanya itu, sejumlah pihak memperkirakan separuh akun Instagram yang ada adalah akun palsu.

Sebenarnya, bukan hanya perusahaan media sosial yang menangani masalah akun palsu. Bisnis seperti ritel online, e-commerce, bank dan lain-lain juga berisiko.

Kaspersky menilai, organisasi-organisasi ini perlu waspada terhadap akun palsu karena merugikan bisnis. Pakar Kaspersky Fraud Prevention menguraikan berbagai kasus umum:

Pencurian bonus

Saat sebuah perusahaan mengalokasikan anggaran untuk program loyalitasnya, tujuannya adalah untuk menarik pelanggan baru dan membantu membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan.

Namun, upaya membangun hubungan baik ini bisa rusak dengan maraknya penipu yang membuat akun palsu.

Para penipu online ini terpikat oleh potensi keuntungan. Secara global, terakumulasi USD 48 triliun poin loyalitas yang tidak terpakai.

Banyak dari program ini seperti yang menawarkan welcome bonus, biasanya mudah untuk mendaftar dan kerap tidak terlindungi oleh otentikasi dua faktor, sehingga memberikan banyak peluang untuk melakukan penipuan.

Penipu bisa menggunakan atau menjual kembali welcome bonus, kode promo, atau hadiah pendaftaran lainnya, atau dapat meningkatkan peluang memenangkan hadiah dalam promosi dengan berpartisipasi dari beberapa akun.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Ulasan Palsu

Kadang reseller tidak resmi juga bisa memanfaatkan skema ini, menggunakan welcome bonus dan menjualnya kembali di situs lain. Hal ini disertai dengan manfaat tambahan berupa lebih banyak poin bonus program loyalitas dan potensi imbalan finansial.

Akun palsu merugikan pembeli yang melakukan pembelian barang yang diinginkan tanpa diskon atau malah kehilangan kesempatan untuk membeli produk terbatas karena sudah dibeli.

Situasi ini pun berdampak negatif pada retailer dan merek, merusak kepercayaan pelanggan terhadap merek, membuat aktivitas pemasaran tidak efektif, hingga merusak hubungan yang dibangun lama dengan pembeli nyata.

Ulasan Palsu

Kaspersky mengungkap, 93 persen konsumen mengatakan, ulasan online berdampak pada keputusan pembelian mereka. Tidak mengherankan jika ulasan palsu jadi hal biasa.

Bagi beberapa dealer, situasi ini mungkin bermanfaat, tetapi dalam jangka panjang bisa membahayakan penjual maupun pasar yang mencantumkan produk.

Sebuah survei mengungkap, 67 persen konsumen khawatir tentang kredibilitas ulasan. 54 persen mengaku akan meninggalkan pembelian jika mendapati ulasan sebuah produk adalah palsu.

Selain itu, platform yang memungkinkan penempatan ulasan palsu juga bisa dituding melanggar hukum perlindungan konsumen.

3 dari 4 halaman

Pencucian Uang

Keaslian akun pelanggan sangatlah penting. Namun faktanya, sejumlah oknum palsu juga bisa ditemukan. Oknum palsu ini menjadi begal uang, rekening yang dipakai oleh pihak tidak bertanggung jawab dipakai untuk mencuci dana kriminal.

Meski dibuat orang sungguhan, akun palsu tidak dipakai untuk tujuan yang dimaksudkan, melainkan untuk menerima keuangan ilegal ke dalam akun mereka dan mentransfer ke pihak lain.

Penipu online, dalam hal ini memakai trik canggih untuk melakukan skema pencucian uang. Mulai dari alat otomatis, server proxy, alat administrasi jarak jauh, dan jaringan TOR untuk menghindari deteksi dan menghubungkan aktivitas mereka dengan skema sebelumnya.

 

 

4 dari 4 halaman

Bisa Bikin Organisasi Terkena Kasus Pelanggaran UU

Kehadiran pencucian uang tingkat tinggi di antara basis pelanggan bisa menyebabkan pelanggaran undang-undang anti money laundering dan kerugian reputasi serius bagi perbankan.

Bagi perbankan misalnya, mereka bisa dicurigai sebagai pihak yang membantu kegiatan pencucian uang dan menarik penegak hukum selama investigasi.

Oleh karenanya, selama masih mudah membuat akun palsu, penipu akan terus berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungan finansial atau manipulasi opini publik.

Platform digital harusnya bisa membuat penyesuaian untuk secara signifikan memperumit prosedur otentikasi. Meski begitu, di sisi lain, hal ini bisa mempengaruhi pengalamna pengguna dan menyebabkan potensi pengurangan pelanggan.

Metode lain adalah deteksi anti penipuan, baik itu melalui kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan analitik prediktif yang memungkinkan untuk menemukan akun palsu dan perilaku mencurigakan.

(Tin/Ysl)