Sukses

Ilmuwan Kembangkan Permen Karet yang Bisa Putus Transmisi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan tengah mengembangkan permen karet yang nantinya ditujukan untuk memutus penularan Covid-19. Permen karet ini dikembangkan dengan protein nabati yang bisa berfungsi sebagai 'perangkap' untuk virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Dengan permen karet ini, ilmuwan berharap bisa mengurangi transmisi Covid-19 melalui pengurangan viral load dalam air liur. Para peneliti mencatat, orang yang telah divaksinasi lengkap masih dapat terinfeksi Covid-19 dan menjadi viral load yang serupa dengan mereka yang tidak divaksinasi.

"SARS-CoV-2 mereplikasi di kelenjar ludah, ketika kita tahu bahwa seseorang terinfeksi tengah bersin, batuk, atau berbicara, sebagian dari virus itu dapat dikeluarkan dan menulari orang lain," kata Ilmuwan University of Pennsylvania, Henry Daniell, dikutip dari The Indian Express, Selasa (7/12/2021).

Henry Daniell adalah pemimpin studi yang dipublikasikan pada jurnal Molecular Therapy. Daniell menyebut, permen karet ini mampu menetralisasi virus di kelenjar ludah. Dengan begitu ilmuwan bisa memangkas sumber transmisi virus penyebab Covid-19 ini.

Sebelum pandemi Covid-19, Daniell telah mempelajari protein antiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dalam konteks pengobatan hipertensi. Laboratoriumnya menumbuhkan protein ini dan protein lainnya yang mungkin memiliki potensi pengobatan terapeutik, menggunakan sistem produksi nabati yang dipatenkan.

Sistem ini disebut-sebut memiliki potensi untuk menghindari hambatan yang biasa terjadi pada sintesis obat protein. Menurut para ilmuwan, proses ini adalah produksi dan pemurnian yang mahal.

Disebutkan, receptor untuk ACE2 pada sel tubuh manusia juga mengikat protein di spike SARS-CoV-2. Menurut ilmuwan, spike ini yang dipakai untuk menginfeksi sel. Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa injeksi ACE2 bisa mengurangi viral load pada orang-orang dengan infeksi parah.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Permen Karet Diresapi Protein ACE2

Pekerjaan lain yang dilakukan Daniell dan koleganya, Hyun Koo, juga melibatkan penelitian untuk mengembangkan permen karet yang diresapi dengan protein nabati untuk mengganggu plak gigi.

Dengan menggabungkan wawasannya mengenai ACE2 dan teknologi ini, Daniell mencari tahu apakah permen karet yang diresapi dengan protein ACE2 yang tumbuh dari tumbuhan dapat menetralkan SARS-CoV-2 di rongga mulut.

Untuk menguji permen karet ini, tim menanam ACE2 pada tanaman, memasangkannya dengan senyawa lain yang memungkinkan protein melewati penghalang mukosa dan memfasilitasi pengikatan.

Para ilmuwan kemudian memasukkan bahan tanaman yang dihasilkan ke tablet permen karet rasa kayu manis. Ilmuwan juga menginkubasi sampel yang didapatkan dari swab nassofaring pasien positif Covid-19 di permen karet. Hasil terlihat bahwa ACE2 bisa menetralisasi virus SARS-CoV-2.

3 dari 4 halaman

Izin Melakukan Percobaan Klinis

Para ilmuwan kemudian memodifikasi virus yang memiliki patogen lebih sedikit ketimbang SARS-CoV-2 untuk mengekspresikan protein spike pada virus.

Mereka kemudian mengobservasi dan menemukan permen karet ini secara umum mampu mencegah virus masuk ke sel. Baik itu dengan cara menghalangi reseptor ACE2 pada sel atau dengan mengikat langsung ke protein spike.

Selanjutnya, tim mengekspos sampel ludah dari pasien Covid-19 ke permen karet ACE2 dan menemukan, level viral RNA bisa menurun secara drastis, bahkan hingga tidak terdeteksi.

Tim peneliti kini tengah bekerja mendapatkan izin untuk mengadakan percobaan klinis, guna mengevaluasi apakah pendekatan yang mereka lakukan aman dan efektif ketika diuji coba pada orang terinfeksi Covid-19.

Jika uji coba klinis membuktikan permen karet ini aman dan efektif, permen karet tersebut bisa diberikan ke pasien yang status infeksinya tidak diketahui, untuk mengurangi penularan virus kepada orang lain.

(Tin/Isk)

4 dari 4 halaman

Infografis: 5 Tips Tidur Malam Berkualitas di Masa Pandemi Covid-19