Sukses

Riset: 21 Persen Karyawan Ogah Ikut Meeting Virtual dengan Alasan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Studi terbaru yang dilakukan Kaspersky mengungkap, 21 persen karyawan mengonfirmasi bahwa mereka berpura-pura memasang pembaruan perangkat (software update) untuk menghindari panggilan atau meeting virtual.

Alasan ini masuk akal karena pembaruan perangkat lunak dapat mengganggu hari kerja, dengan sepertiga (35 persen) karyawan mengatakan bahwa mereka terlambat dihubungi akibat pembaruan.

Rapat yang terlalu sering kerap dianggap sebagai salah satu hal paling tidak menyenangkan dalam rutinitas pekerjaan.

Transisi ke pekerjaan jarak jauh dan meeting virtual tidak membantu masalah ini, karena banyak orang merasa jenuh akibat video call dan merasa lebih lelah di penghujung hari kerja. Demikian menurut riset Kaspersky, yang dikutip Tekno Liputan6.com, Jumat (28/5/2021).

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Kaspersky baru-baru ini, beberapa karyawan menemukan alasan untuk melewati beberapa panggilan, dengan berpura-pura bahwa perangkat kerja mereka tidak dapat dihubungi akibat pembaruan.

Para kolega mungkin mempercayai skenario tersebut, karena mereka juga pernah mengalami pembaruan perangkat.

Selain janji yang terlewat, 37 persen karyawan sayangnya juga kehilangan sebagian dari pekerjaan atau data mereka yang belum disimpan saat PC atau laptop mereka dihidupkan ulang setelah menginstal pembaruan.

 

2 dari 3 halaman

Kesempatan Melakukan Penundaan

Secara keseluruhan, beberapa karyawan melihat kondisi perangkat yang berhenti sementara ini sebagai kesempatan melakukan penundaan, dengan 27 persen responden mengakui bahwa mereka menginstal pembaruan untuk sengaja membuang waktu di tempat kerja.

Namun, sebagian besar karyawan tidak suka jika pekerjaan mereka terganggu, sehingga 65 persen berharap pembaruan dilakukan di luar jam kerja untuk menjaga produktivitas mereka.

IT Service and Asset Group Manager di Kaspersky, Egor Kharchenko, mengatakan biasanya pembaruan diunduh selama jam kerja dalam mode senyap dan tidak memengaruhi bisnis. Namun, untuk menerapkannya ke sistem, diperlukan restart.

"Tentu saja, beberapa urusan bisnis tidak bisa ditunda, jadi biasanya pengguna dapat memulai kembali dalam jangka waktu tertentu. Seperti yang dapat kita lihat, beberapa orang melewatkan pemberitahuan tersebut atau tidak ingin melakukannya sama sekali," tuturnya.

Oleh karena itu, kata Kharchenko, pengaktifan ulang yang diperlukan dapat terjadi pada saat yang paling tidak nyaman, tepat sebelum panggilan penting atau di saat mereka menulis email yang panjang.

 

3 dari 3 halaman

Rencanakan Pembaruan yang Tepat

Untuk membuat pembaruan nyaman bagi karyawan dan administrator TI, Kaspersky merekomendasikan departemen TI untuk melakukan hal berikut:

• Rencanakan pembaruan menjelang akhir hari kerja, saat perangkat masih aktif dan dapat mengunduh pembaruan yang diperlukan, tetapi aktivitas karyawan biasanya lebih rendah.

• Jika memungkinkan, gunakan wake-on-LAN. Teknologi ini memungkinkan workstation dihidupkan melalui jaringan, sehingga pembaruan dapat diunduh di luar jam kerja.

• Bagilah pengguna menjadi beberapa grup, termasuk satu grup percobaan. Perbarui satu per satu, sehingga departemen TI dapat membantu semua orang dengan tepat waktu jika terjadi kesalahan.

• Beri tahu staf tentang fungsi Simpan Otomatis (Autosave) yang tersedia di beberapa perangkat lunak produktivitas kantor--semua perubahan mereka akan disimpan secara otomatis.

• Instal solusi perlindungan titik akhir dengan fitur manajemen tambalan. Selain itu, teknologi deteksi perilaku dan pencegahan eksploitasi tidak memungkinkan pelaku kejahatan siber memanfaatkan masalah keamanan yang belum tertambal.