Sukses

Review Garmin Instinct Solar: Sensor Lengkap dan Baterai Tahan Lama Berkat Tenaga Surya

Liputan6.com, Jakarta - Sekitar sebulan lebih saya menggunakan jam tangan Garmin Instinct Solar yang diperkenalkan ke pasar Indonesia pada akhir September kemarin.

Secara garis besar, jam tangan ini mengunggulkan sensor yang lengkap untuk berbagai kebutuhan dan baterai yang mampu bertahan lama daripada generasi sebelumnya berkat teknologi pengisian daya bertenaga surya.

Kira-kira, bagaimana performa jam tangan ini? Simak ulasannya berikut ini.

Desain dan Layar

Garmin Instinct Solar mengusung bodi jam tangan dengan dimensi 45 x 45 x 15.3 mm. Meski layarnya berjenis monokrom, ia masih cukup baik dilihat mata ketika terpapar sinar matahari langsung asalkan setelan kecerahan pada jam dibuat maksimal.

Smartwatch Bertenaga Surya Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Di sekeliling layar terdapat 5 tombol: 3 tombol di tepi kiri dan 2 tombol di sebelah kanan, yang terdiri dari tombol CTRL, GPS, BACK-SET, DOWN-ABC, dan UP-MENU. Untuk desain secara umum, jujur saja jam tangan ini tidak begitu istimewa bagi saya lantaran di pasaran desain semacam ini serupa mudah ditemukan, terutama dari merek perangkat outdoor.

Di dalam boks unit Garmin Instinct Solar yang kami ulas, selain unit jam tangan terdapat buku panduan dan kartu garansi. Strap jam tangan ini berbahan silikon dengan warna senada bodi yang melingkari jam. Boleh jadi, pemilihan material silikon membuat jam tangan yang terlihat tebal ini tetap memiliki bobot ringan, yakni 52 gram saja.

Smartwatch Bertenaga Surya Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Tampilan antarmuka jam tangan ini (user interface) sama dengan jam tangan Garmin lainnya. Ia cukup intuitif, termasuk untuk pemula sekalipun, karena ikon-ikon di dalam menunya terbilang familiar dan representatif sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Di bawah layar, terdapat satu port pengisian daya dan sensor-sensor yang melakukan pengukuran berdasarkan aktivitas yang terekam lewat pergelangan tangan. Walau jam tangan ini berteknologi matahari, pengisian daya dari nol persen hanya dapat dilakukan dengan pengisi daya listrik.

2 dari 5 halaman

Aplikasi Garmin Connect

Pengguna perlu memasang aplikasi Garmin Connect yang tersedia untuk smartphone berbasis Android atau iOS. Aplikasi ini dapat membantu pengguna memaksimalkan fitur di jam tangan. Selain itu, pengguna dapat menambah teman atau kenalan lain yang juga memakai jam tangan Garmin, terlepas dari apa pun serinya.

Aplikasi Garmin Connect mengharuskan pengguna mengisi beberapa data, seperti jenis kelamin, tinggi, dan berat untuk menghasilkan penghitungan aktivitas secara lebih baik.

Sebetulnya, pengguna dapat melihat rekaman aktivitas langsung di jam tangan. Nah, aplikasi ini dapat menampilkan data dengan beberapa detail lainnya, baik secara numeral maupun grafik. Aplikasi ini juga menawarkan rekap data untuk aktivitas harian, mingguan, dan bulanan.

Beberapa fitur utama di aplikasi ini termasuk Activities, Health Stats, Performance Stats, dan Training. Dua macam Activities yang paling sering saya lakukan dengan memakai jam tangan ini adalah bersepeda dan berlari. Untuk bersepeda, metrik utama pada hasil pengukuran adalah waktu (durasi), jarak tempuh, dan kalori yang dibakar.

Di tengah-tengah aktivitas, ketika perlu berhenti sejenak untuk beristirahat, pengukuran dapat dihentikan untuk sementara (pause). Hal ini membuat pengukuran durasi betul-betul berfokus pada aktivitas yang dilakukan saja.

Sementara beberapa metrik tambahan lainnya termasuk kecepatan rata-rata, kecepatan maksimum, detak jantung rata-rata, detak jantung maksimum, elevasi, dan lainnya. Untuk detak jantung, aplikasi Garmin Connect menentukan lima zona dari zona 1 hingga zona 5. Semakin tinggi zona, semakin cepat denyut jantung

Rute yang dilalui selama beraktivitas juga ditampilkan pada peta dari Google yang terintegrasi di dalam aplikasi. Sepanjang rute tersebut, pengguna dapat memilih satu dari beberapa setelan data overlay, yakni kecepatan, denyut jantung, dan elevasi.

Peta Rute Bersepeda di Aplikasi Garmin Connect. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Misalnya, jika memilih data overlay kecepatan, pengguna antara lain dapat mengetahui di titik mana saja dia melaju dengan lambat atau cepat--warna rute akan berubah sesuai kecepatan yang direpresentasikan dengan gradasi warna dari biru (lambat) ke merah (cepat).

Beralih ke metrik hasil pengukuran aktivitas berlari, ia sebetulnya nyaris sama persis dengan bersepeda, kecuali Pace. Kamu yang menekuni olahraga berlari pasti familiar dengan istilah ini. Singkat kata, Pace merujuk pada waktu yang diperlukan seseorang untuk berlari menempuh jarak 1 kilometer--atau 1 mil, tergantung pada satuan jarak yang kamu tentukan di setelan jam.

Ada juga setelan Putaran (Lap) yang cocok buat kamu yang rutin berlatih di trek tetap seperti di gelanggang atau pusat olahraga. Metrik ini antara lain dapat membantu menjaga konsistensi waktu setiap putaran. Membaca metrik Lap dan Pace dapat memberikan wawasan lebih baik bagi kamu yang menargetkan pencapaian tertentu.

Menu Trainings di Aplikasi Garmin Connect. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Menu lain yang tak kalah penting adalah menu Trainings yang terdiri dari empat fitur utama, yaitu Workouts, Courses, PacePro Pacing Strategis, dan Segments. Di antara keempat fitur tersebut, yang paling penting menurut saya adalah Workouts dan PacePro Pacing Strategies. Adapun fitur Workouts, ia memuat puluhan macam aktivitas olahraga dengan kategori Beginner dan Intermediate dengan durasi dan tingkat kesulitan bervariasi.

PacePro Pacing Strategies di Aplikasi Garmin Connect. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Menetapkan PacePro Pacing Strategies sangat mudah. Pengguna dapat memilih Distance (jarak tempuh, mulai dari 5 kilometer), lalu menetapkan Goal Time dan Goal Paces. Aplikasi Garmin Connect selanjutnya akan membagi jarak tempuh tersebut menjadi beberapa bagian (split). Di sini berlaku asumsi bahwa kecepatan untuk setiap jarak tempuh yang telah dibagi bersifat konstan.

 

3 dari 5 halaman

Sensor

Salah satu pembeda utama antara jam tangan cerdas (smartwatch) dengan jam tangan biasa adalah sensor. Dulu, kebanyakan jam tangan pintar hanya dibekali sensor pengukur detak jantung (heart rate). Namun dari waktu ke waktu, pabrikan merilis produk yang kemampuan sensornya terus mengalami peningkatan.

Dibandingkan dengan pendahulunya, sensor di Garmin Instinct Solar ini telah mengalami peningkatan fungsi. Salah satunya, sensor di Garmin Instinct Solar dapat mengukur saturasi oksigen di dalam darah (Pulse OX). 

  • Pulse OX

Saturasi oksigen di dalam darah dinyatakan dalam persentase. Menurut organisasi nirlaba di bidang kesehatan Mayo Clinic, saturasi oksigen dalam darah normal berada di kisaran 95 hingga 100 persen.

Di bawah 90 persen, saturasi oksigen di dalam darah dikategorikan sangat rendah. Istilah klinis yang merujuk pada kondisi di mana seseorang mengalami kekurangan kadar oksigen di dalam darah adalah hipoksemia.

Perlu diketahui, saturasi oksigen di dalam darah memang berpengaruh langsung terhadap kebugaran seseorang. Belakangan, hal ini juga sempat menjadi perbincangan lantaran sebagian orang yang dinyatakan positif Covid-19 memiliki kadar oksigen dalam darah rendah. Saat itu sebagian orang terpacu untuk membeli alat pengukur oksigen dalam darah.

Skor Pulse OX di aplikasi Garmin Connect hasil pengukuran Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Menurut pengalaman saya mengenakan Garmin Instinct Solar, beberapa kali selepas berolahraga kadar oksigen dalam darah saya selalu mencapai 99 atau 100 persen. Di luar itu, angkanya berada di rentang normal antara 95 dan 100 persen.

Dibandingkan dengan pengukuran detak jantung saja, proses pengukuran Pulse OX berlangsung lebih lama. Kadang kala, prosesnya tidak berhasil dalam satu kali pengukuran dan saya mesti mengulangi proses itu.

Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran standar alat medis, Garmin menekankan bahwa hasil pengukuran Pulse OX di produknya memang tidak dapat disetarakan. 

Namun di sisi lain, perusahaan meyakini bahwa kehadiran fitur ini dapat membantu pengguna untuk memantau dan memberikan wawasan penting yang menyangkut kesehatannya.

  • VO2Max

Fitur lain yang tak kalah penting adalah VO2Max. Barangkali di antara kamu ada yang pernah dengar istilah ini, kalau sering mengikuti berita tentang olahraga.

Singkat kata, VO2Max dapat dipahami sebagai serapan oksigen maksimal atau kapasitas aerobik maksimal. Secara istilah, ia merupakan laju konsumsi oksigen maksimal yang diukur selama latihan intens.

Skor VO2Max di aplikasi Garmin Connect hasil pengukuran Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Saya pernah beberapa kali mengukur VO2Max. Salah satu hasilnya, skor VO2Max saya mencapai 52 dan untuk laki-laki dengan berat dan tinggi badan saya, skor itu berada di antara 25 persen skor terbaik.

Bahkan, skor itu juga disebut setara dengan skor VO2Max standar laki-laki berumur 20 tahun, meski saya sebetulnya 10 tahun lebih tua.

Namun sama seperti Pulse OX, hasil pengukuran VO2Max di Garmin Instinct Solar juga sebetulnya tidak dapat disetarakan dengan hasil pengukuran standar medis.

  • Stress Tracking

Stress Tracking memungkinkan pengguna untuk mengetahui tingkat stres mereka dengan merujuk pada data variabilitas detak jantung. Pada praktiknya, perangkat Garmin menggunakan data detak jantung untuk menentukan jeda atau interval antara setiap detak jantung. Berapa lama jeda antar detak jantung itu berlangsung, diatur secara otonom oleh sistem saraf.

Skor Tingkat Stres di aplikasi Garmin Connect hasil pengukuran Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Jika interval antara detak jantung semakin bervariasi, berarti tingkat stres tubuh si pengguna lebih tinggi. Sebaliknya, apabila jeda antara detak jantung tidak terlalu bervariasi, berarti tingkat stres pun lebih rendah.

Tingkat stres ini dinyatakan dalam satuan 1 hingga 100. Angka ini dapat menjadi indikator bagi pengguna untuk berhenti dari melakukan aktivitas dan beristirahat.

Advanced Sleep Monitoring

Pengukuran kualitas tidur diperkirakan salah satunya berdasarkan pada detak jantung dan pergerakan selama tidur. Garmin membuat kategorisasi kualitas tidur menjadi empat, yakni Deep, Light, REM (Rapid Eye Movement), dan Awake.

Untuk menentukan pada fase tidur mana seseorang berada atau terjaga karena suatu hal, Garmin menggunakan gabungan analisis data photoplethysmography (PPG) dan actigraphy (ACT).

Proses ini melibatkan perubahan detak jantung, di mana data detak jantung lebih tidak menentu pada fase REM dan lebih rendah pada fase lainnya.

Skor Kualitas Tidur di aplikasi Garmin Connect hasil pengukuran Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Proses ini juga mempertimbangkan variabilitas detak jantung selama tidur. Hal lain yang juga turut diperhitungkan adalah pergerakan yang terpantau oleh sensor akselerometer.

Berdasarkan pengalaman saya, tidur dalam waktu lama tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas tidur itu sendiri. Cukup sering saya tidur selama 6 hingga 8 jam, tetapi saya mengalami fase Deep Sleep sebentar saja, bahkan tidak untuk satu menit pun. Namun untuk rentang durasi tidur yang sama, saya juga cukup sering mengalami fase Deep Sleep antara 1 hingga 4 jam. 

Beberapa kali saya membuat catatan dan membandingkan aktivitas apa saja yang saya lakukan seharian sebelum tidur.

Saya menemukan satu kesimpulan berdasarkan pengalaman empiris saya, yakni apabila konsumsi air pada hari tersebut tinggi, kualitas tidur saya cenderung baik dan itu berlaku sebaliknya. Selain itu, seberapa berat dan padat aktivitas di hari itu juga berpengaruh.

  • Body Battery

Layaknya kendaraan atau alat elektronik, ada indikator Body battery yang skornya dihitung berdasarkan pada kombinasi analisis detak jantung, tingkat stres, kualitas tidur, dan data aktivitas lainnya.

Body Battery di perangkat Garmin berkisar antara 0 hingga 100 dengan rincian: 0 hingga 25 (rendah), 26 hingga 50 (sedang), 51 hingga 75 (tinggi), dan 76 hingga 100 (sangat tinggi).

Skor Body Battery di aplikasi Garmin Connect hasil pengukuran Garmin Instinct Solar. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Penghitungan Body Battery di perangkat Garmin menggunakan algoritma dari Firstbeat Analytics, perusahaan Finlandia yang pada pertengahan tahun ini diakusisi oleh Garmin.

Angka body battery dapat berkurang dan bertambah. Tentu, ia akan berkurang seiring dengan aktivitas yang dilakukan sepanjang hari, terlebih jika aktivitas pada hari itu jauh lebih banyak dan berat dibandingkan dengan rata-rata aktivitas rutin harian. Untuk meningkatkan kembali body battery, ada dua cara simpel yang dapat ditempuh, yakni beristirahat dan tidur.

4 dari 5 halaman

PowerGlass

Salah satu mekanisme pengisian daya bertenaga surya di jam tangan Garmin seri Solar menggunakan teknologi yang bernama PowerGlass. Ia merupakan lensa transparan yang memiliki kemampuan fotovoltaik untuk menyerap cahaya dan mengonversinya menjadi energi listrik sebagai sumber tenaga jam tangan. Posisi PowerGlass terletak tepat di bawah lapisan GorillaGlass.

Selain PowerGlass, Garmin juga menyematkan strip berwarna hitam yang sekilas tampak seperti bezel yang melingkari area layar. Namun, strip itu bukanlah bezel, melainkan semacam versi mini dari panel surya pada umumnya dan terdiri dari sekumpulan sel fotovoltaik. Strip ini terletak antara bodi dan area layar jam tangan.

Kecuali ketika pengguna melakukan pengisian daya secara eksternal dari sumber listrik, baik PowerGlass maupun strip panel surya selalu berfungsi secara aktif dan menyerap cahaya sebagai sumber tenaga. Maka dari itu, pengisian daya akan berlangsung efektif jika tidak ada benda menghalangi layar jam tangan dari paparan sinar matahari.

Tentu saja, intensitas sinar matahari sangat berpengaruh langsung terhadap daya yang tersimpan. Karena itu, untuk kinerja maksimum, pengisian daya sebaiknya dilakukan ketika sinar matahari cerah.

Daya Tahan Baterai

Soal daya tahan baterai, di atas kertas Instinct Solar bisa menyala hingga 38 jam dengan kondisi GPS aktif, dari yang awalnya hanya 30 jam pada seri Instinct biasa. Sementara ketika mode Max Battery GPS aktif, baterai bertahan hingga 75 jam dari yang tadinya 70 jam saja.

Lalu ketika GPS mati dan fitur smartwatch aktif, baterai bertahan hingga 30 hari dari yang tadinya 24 hari saja. Di mode Expedition GPS Activity, baterai mampu menyokong perangkat untuk menyala selama 50 hari dari yang awalnya 28 hari.

Data tersebut di atas saya peroleh ketika menyimak presentasi dari Garmin Indonesia beberapa waktu lalu. Menurut pengalaman saya pribadi, dengan eksposur sinar matahari pada intensitas tinggi dan pemakaian aktif fitur smartwatch, GPS, dan sinkronisasi dengan aplikasi Garmin Connect, saya hampir tidak pernah mengisi daya baterai lewat listrik rumah, kecuali ketika pada hari-hari tertentu di mana saya memang berdiam diri seharian di rumah.

Saya sempat khawatir, apakah jam tangan ini akan mengalami panas berlebih jika pengisian daya dari sinar matahari berlangsung kontinu selama berjam-jam. Namun untungnya, jam tangan ini memiliki sistem perlindungan dari hal tersebut dan ia dengan sendirinya berhenti melakukan pengisian, jika sistem mendeteksi suhu internal melebih ambang batas tertinggi.

Hal lain yang juga ingin saya tekankan adalah pengguna sebaiknya tidak menambahkan lapisan pelindung layar tambahan. Bagi beberapa model smartwatch dari kompetitor, terutama yang mengadopsi layar sentuh, lapisan pelindung tambahan bisa dibilang merupakan aksesori yang direkomendasikan. Namun, tidak demikian dengan smartwatch Garmin, mengingat jam tangan Garmin dioperasikan melalui beberapa tombol di tepi bodinya.

Khusus untuk seri Solar, lapisan tambahan ini akan mengurangi intensitas cahaya matahari yang diserap oleh Power Glass. Dampaknya, konversi ke energi listrik untuk baterai pun akan menjadi lebih rendah. Namun, meski tidak setangguh lensa safir seperti yang ditemukan pada seri Garmin fēnix 6X Sapphire, lensa Power Glass juga dirancang untuk mampu menahan goresan.

Manajemen Daya

Fitur lain yang tak kalah penting dari Garmin Instinct Solar adalah Power Manager. Fitur ini terdiri dari dua menu, yakni Battery Saver dan Power Modes. Pada kondisi kapasitas baterai tersisa 90 persen, menurut pengalaman saya, sistem menunjukkan bahwa unit jam tangan saya akan menyala selama 11 hari ke depan, sesuai dengan preferensi setelan saya.

Secara default, informasi daya baterai yang tersisa dan paparan sinar matahari terhadap jam tangan ditunjukkan di tampilan muka (watch face). Khusus untuk paparan sinar matahari, jam tangan hanya menampilkan paparan selama enam jam terakhir. Namun, akumulasi harian paparan sinar matahari ini juga dapat dilihat di aplikasi Garmin Connect di menu Solar Intensity.

Ketika saya menyalakan Battery Saver dengan sisa daya baterai yang sama, secara signifikan sistem menampilkan bahwa jam tangan ini akan berfungsi hingga 71 hari ke depan, dengan sejumlah pembatasan tentunya. Saat Battery Saver aktif, ia otomatis mematikan sensor detak jantung (Heart Rate), oksimetri nadi (Pulse OX), dan banyak fitur lainnya.

Saya pribadi tidak pernah mengaktifkan Battery Saver karena saya kira, saya tidak perlu takut kehabisan daya baterai sebab jam tangan ini secara konstan menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

Beralih ke Power Modes, ada dua opsi untuk mengatur manajemen daya, yakni Max. Battery dan Jacket Mode. Di Max Battery, pengguna dapat menentukan sistem navigasi yang akan menjadi acuan jam tangan dalam menentukan lokasi atau fitur berbasis sistem navigasi lainnya, yakni GPS + GLONASS, GPS + GALILEO, dan UltraTrac.

Di antara ketiga sistem navigasi itu, konsumsi daya GPS + GALILEO paling tinggi, disusul oleh GPS + GLONASS dengan selisih dua jam lebih hemat. Sementara UltraTrac memiliki konsumsi daya paling rendah dengan selisih 35 jam lebih irit daripada GPS + GALILEO.

Pada kondisi tertentu, mungkin saja pengguna mengenakan jam pada lengan jaket, baju hangat, atau pakaian lengan panjang lainnya. Di sinilah fungsi Jacket Mode berperan. Salah satu perbedaan paling mendasar antara Jacket Mode dan Max. Battery adalah sensor detak jantung sengaja dimatikan ketika pengguna mengaktifkan Jacket Mode karena sensor tidak langsung menempel pada pergelangan tangan.

5 dari 5 halaman

Kesimpulan

Di antara sejumlah fitur Garmin Watch yang telah diulas di atas, satu hal yang paling membuat saya terkesan adalah teknologi pengisian daya bertenaga surya. Dengan demikian, pengguna tak perlu khawatir akan kehabisan daya jam tangan lebih cepat, terlebih ketika fitur GPS dan beberapa sensor lainnya dinyalakan ketika menjalankan aktivitas.

Teknologi bernama PowerGlass ini boleh jadi akan direplikasi tak hanya oleh merek jam tangan lain, tetapi juga smartphone. Memang, teknologi ini belum dapat direalisasikan secara komersial pada smartphone; yang ada baru sebatas prototipe saja yang dipamerkan di ajang teknologi seperti Mobile World Congress; dan sisanya masih berupa paten teknologi yang bersifat teoretis. 

Namun, ke depannya bukan tidak mungkin smartphone bertenaga surya akan diproduksi secara massal. Akhir kata, PowerGlass milik Garmin ini betul-betul layak mendapat acungan jempol dan bagi mereka yang sangat aktif dan memerlukan jam tangan cerdas dengan daya tahan baterai lebih panjang, Garmin Instinct Solar ini dapat menjadi salah satu opsi.