Sukses

Aclima dan Google Terbitkan Data Kualitas Udara

Liputan6.com, Jakarta - Aclima dan Google menerbitkan data kualitas udara secara terbuka kepada komunitas peneliti.

Data itu diyakini akan sangat bermanfaat bagi para peneliti untuk mempelajari polusi udara pada tingkat detail. Selain itu, ia juga akan sangat berguna dalam mengidentifikasi sumber polusi dan menyarankan metode yang tepat untuk mengurangi emisi.

Mengutip Venture Beat, Sabtu (27/6/2020), CEO Aclima Davida Herzl, dalam sebuah sesi di acara bertajuk "Carbon, Pollution, and the Current Pandemic", menyatakan kedua perusahaan selama empat tahun terakhir telah melakukan lebih dari 42 juta pengukuran kualitas udara di seluruh wilayah California.

Google, pada praktiknya, melakukan integrasi antara platform penginderaan dan analisis Aclima ke kendaraan Google Street View. Selain itu, kedua perusahaan juga menempatkan sensor di beberapa titik di wilayah California.

Adapun polutan yang dianalisis di pengukuran yang dilakukan kedua perusahaan termasuk karbon dioksida (CO2), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), nitrat oksida (NO), metana (CH4), karbon hitam (BC), dan partikel-partikel halus.

2 dari 3 halaman

MIT dan Toyota Rilis Dataset Untuk Penelitian Sistem Kemudi Otonomos

Sebelumnya MIT dan Toyota merilis dataset untuk penelitian terkait sistem kemudi otonomos. Melalui dataset terbuka bernama DriveSeg itu, MIT dan Toyota berupaya untuk memajukan penelitian di bidang ini.

"Dataset ini diharapkan dapat mendorong para peneliti, industri, dan inovator lainnya untuk mengembangkan wawasan dan arah baru ke dalam pemodelan temporal AI," kata Bryan Reimer, Peneliti di MIT dikutip dari rilis resmi MIT, Jumat (26/6/2020).

Bryan menekankan bahwa kemitraan antara MIT dan Toyota sejak lama telah memungkinkan upaya penelitian ini terwujud yang diharapkan dapat memengaruhi teknologi keselamatan di masa depan.

 

3 dari 3 halaman

Kekuatan prediktif

Sementara itu, Rini Sherony, insinyur senior Toyota CSRC menyatakan bahwa kekuatan prediktif adalah bagian penting dari kecerdasan manusia.

"Setiap kali kita mengemudi, kita selalu melacak pergerakan lingkungan di sekitar kita untuk mengidentifikasi risiko potensial dan mengambil keputusan yang lebih aman. Dengan membagikan dataset ini, kami berharap dapat mempercepat penelitian tentang sistem kemudi otonomos dan fitur keselamatan canggih yang lebih selaras dengan kompleksitas lingkungan di sekitarnya," ujar Rini.

(Why/Ysl)