Sukses

Selain Gerhana, Hari Ini ada Fenomena Cincin Api Soltis yang Baru Akan Terjadi 19 Tahun Lagi

Liputan6.com, Jakarta - Selain gerhana matahari cincin, hari ini juga berlangsung fenomena yang amat langkah. Fenomena langka yang dimaksud bernama Cincin Api Soltis.

Lapan menamakannya Cincin Api Soltis karena ada dua fenomena terjadi bersamaan, yakni gerhana matahari cincin terjadi berbarengan dengan titik balik matahari atau Soltis Juni (Soltis Utara).

Dikutip dari akun Instagram Pussainsa Lapan (@pussainsa_lapan), Cincin Api Soltis adalah hal yang cukup langka dialami. Bahkan, fenomena ini baru akan terjadi 19 tahun lagi dari sekarang.

"Cincin Api Soltis cukup langka dialami karena terjadi terakhir kali pada 21 Juni 164 dan akan terulang lagi pada 21 Juni 2039 atau 19 tahun dari sekarang," tulis Pussainsa Lapan, dikutip pada Minggu (21/6/2020).

2 dari 3 halaman

Waktu Siang Hari Lebih Lama di Belahan Bumi Utara

Soltis Juni sendiri merupakan waktu ketika matahari berada pada titik balik matahari (soltis) utara. Di mana, pada saat ini matahari berada pada posisi paling utara dari khatulistiwa.

Mengutip Live Space, saat terjadinya solstice, Bumi berada di kemiringan 23,4 derajat terhadap matahari.

Disebutkan pula, pada kondisi solstice ini, Kutup Utara Bumi miring langsung menghadap matahari. Selanjutnya, belahan Bumi bagian utara, akan mengalami siang hari lebih lama ketimbang malam hari, dibandingkan pada hari-hari lainnya pada 2020 ini.

Penambahan waktu siang hari tak dirasakan oleh Indonesia karena Indonesia berada di garis khatulistiwa.

 

3 dari 3 halaman

Gerhana Matahari Sebagian di Indonesia

Selain tidak merasakan waktu siang hari yang lebih lama, Indonesia juga tidak bisa menyaksikan gerhana matahari cincin yang terjadi 21 Juni 2020.

Lapan menyebut, sebagian wilayah Indonesia masih bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian, dengan tingkat ketertutupan antara 40-50 persen misalnya di Sulawesi Utara dan Kepulauan Talaud.

Sementara wilayah Indonesia yang bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan ketertutupan antara 30-40 persen antara lain adalah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Wilayah lain dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan tingkat ketertutupan lebih kecil, yakni di Kabupaten Berau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

(Tin/Isk)

BERANI BERUBAH: Ketika Bisnis dan Beramal Bersatu