Sukses

Segera Atasi Kecanduan Teknologi dengan Cara Ini

Liputan6.com, Jakarta - Kecanduan kerap identik dengan segala hal negatif, termasuk salah satunya kecanduan teknologi.

Pesatnya perkembangan teknologi membuat anak kecil, orang dewasa, hingga orang tua semakin gemar mengakses beragam perangkat berbasis teknologi.

Sayangnya, teknologi yang seharusnya bisa memudahkan kehidupan manusia justru menjadikan penggunanya menjadi sosok anti-sosial.

Lalu, adakah cara yang bisa ditempuh untuk mengobati seseorang yang dianggap menjadi seorang pecandu teknologi?

Seorang psikolog sekaligus pemilik Center for Internet and Technology Addiction di Hartford, Amerika Serikat David Greenfield, PhD menyebut langkah awal untuk mengatasi kecanduan teknologi, yakni dengan mengubah gaya hidup sang pengguna teknologi. Dengan begitu nantinya akan berujung pada pengurangan penggunaan teknologi.

"Proses ini sama saja dengan periode detoks (penyerapan racun) dan bisa me-reset kerja sistem saraf. Dengan sendirinya akan terjadi perubahan perilaku akibat berkurangnya intensitas penggunaan teknologi dan proses identifikasi pola, yang bisa disiapkan kemudian masuk pada modifikasi pola perawatan," ungkap Greenfield seperti diwartakan Everyday Health, Jumat (27/4/2018).

Dalam tahap yang lebih parah, bahkan dokter harus menyiapkan resep obat khusus untuk menenangkan pecandu teknologi dari perilaku kompulsif.

Selain berkonsultasi dengan psikolog atau dokter ahli, bagi anda atau orang terdekat yang merasa sebagai pecandu teknologi dapat mencoba hal mudah berikut untuk dipraktikkan di rumah.

 

2 dari 3 halaman

Lakukan Cara Ini

Mulailah untuk menyiapkan satu hari tanpa ponsel dan komputer selama 24 jam penuh.

Kamu bisa memulainya di akhir pekan, jika terasa cukup sukses mungkin porsinya bisa dibuat rutin setiap pekan di hari yang sama atau disesuaikan dengan kesibukan kamu di hari yang terasa lebih lowong.

Kedua, carilah kesibukan dan aktivitas di luar kegiatan yang membutuhkan koneksi internet.

Kamu juga bisa memulainya dengan menekuni kembali hobi lama yang sempat terabaikan, seperti bermain alat musik, berkebun, atau mencoba menu masakan baru.

Ketiga, disiplinkan diri dengan membuat jadwal penggunan teknologi setiap harinya. Tuliskan berapa jam telah kamu habiskan untuk menggunakan komputer, smartphone, dan tablet. Hal ini untuk mengendalikan pola penggunaan kamu terhadap perangkat pintar tersebut.

Keempat, jika kecenderungan kamu kecanduan pada perangkat smartphone atau tablet, sepertinya kamu bisa mencoba menginstal beberapa aplikasi yang dapat membantu mengurangi kecanduan.

Misalnya, aplikasi BreakFree atau Menthal yang dapat melacak penggunaan ponsel atau tablet kamu. 

3 dari 3 halaman

Kecanduan Teknologi, Pertanda Baik atau Buruk?

Teknologi seyogianya memang membantu manusia menjalankan segala aktivitasnya di kehidupan sehari-hari. Kini, teknologi berkembang semakin pesat.

Kemajuan teknologi menciptakan pola pasar yang tersegmentasi, mulai dari perangkat keras hingga lunak, semua punya porsinya. Teknologi dengan demikian menjadi 'alat' yang menyediakan solusi dengan upaya minim, pekerjaan konvensional manusia pun perlahan dipermudah.

Menurut Chris Stephenson, Head of Strategy and Planning PHD Asia Pacific, kemudahan yang ditawarkan teknologi--apalagi yang berbasis kecerdasan buatan--ternyata bisa memicu penggunanya kecanduan.

Secara psikologis, ia menjelaskan teknologi bisa memberikan dampak yang 'menghubungkan' dan memperkuat penggunanya.

"Mereka akan puas ketika pekerjaan dibantu dengan teknologi. Kepuasan ini ternyata membuat manusia bisa kecanduan. Dengan begitu, teknologi akan semakin sering digunakan. Bahkan, menurut riset kami 40 persen pengguna mengaku kecanduan dengan teknologi--ini dalam lingkup besar, seperti smartphone, internet, dan laptop. Pertanyaannya, apakah ini baik?" kata Chris di gelaran AdAsia 2017 pada akhir tahun lalu.

Jawabannya adalah tergantung pada masing-masing pengguna. Semakin besar peran teknologi menggantikan pekerjaan berat dan semakin intuitif dan simpel antarmukanya, tentu teknologi akan mengambil porsi pengguna. Pola ini secara otomatis membuat penggunanya ingin menggunakan lagi dan lagi.

"Contoh simpelnya adalah ketika kita semua pergi ke kantor atau sekolah lalu ponsel tertinggal di rumah, itu bisa jadi perasaan paling buruk. Rasa-rasanya, ada yang hilang dari kita. Fenomena ini tidak bisa kita tolak. Ini adalah pertanda bergabungnya teknologi dengan manusia," tandasnya.

Reporter: Ervina Anggraini

Sumber: Dream.co.id

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ibu Bekerja Cenderung Perfeksionis Saat Mengasuh Anak, Kenapa?
Artikel Selanjutnya
Posisi Putri Charlotte Masih Aman untuk Jadi Pemimpin Kerajaan Inggris