Sukses

Ngeri, Ini Jadinya jika Bumi Tak Lagi Disinari Matahari

Liputan6.com, California - Kita semua tahu, Matahari adalah bagian paling vital bagi Bumi. Ya, Pusat Tata Surya ini memang berperan penting sebagai energi untuk menopang kehidupan manusia. Berkat Matahari pula siklus siang dan malam terjadi di Bumi.

Lalu, apa yang terjadi jika tidak ada Matahari di Bumi? Dalam kasus ini, ambil waktu satu pekan. Apakah Bumi akan tetap hidup tanpa Matahari selama satu minggu?

Menurut informasi yang dilansir How Stuff Works, Jumat (23/2/2018), jika Matahari tidak menyinari Bumi selama satu minggu, siklus siang dan malam di Bumi otomatis tidak akan ada. Akibatnya, kehidupan bisa terancam.

Pertama, Bumi otomatis akan mendingin karena tak mendapat paparan sinar Matahari. Ilmuwan menafsir, suhu Bumi bisa menurun menjadi sekitar 017,8 derajat Celsius.

Meski suhu turun, Bumi masih bisa bertahan, manusia juga masih bisa hidup.

Fase berikutnya adalah absennya sinar Matahari yang tidak bisa memicu aktivitas fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan.

Dengan demikian, tanaman dan pepohonan yang ada di Bumi tidak akan tumbuh alias layu lalu mati. Akibatnya, tidak akan ada produksi oksigen dan hal ini dianggap fatal. Selain itu, para hewan yang memakan tanaman juga akan mati kelaparan karena semua tanaman di Bumi mati.

2 dari 3 halaman

Bagaimana Jika Tak Ada Satu Tahun?

Lalu, bagaimana jika Matahari tidak menyinari Bumi selama satu tahun atau lebih?

Suhu di Bumi ternyata akan lebih menurun hingga -73,3 derajat Celsius. Kondisi inilah yang kelak bisa membekukan semua kehidupan di Bumi. Tak ada sumber energi solar dan panas, semua bisa terancam mati.

Dampak berisiko lainnya adalah tak ada lagi tarikan gravitasi Matahari. Pada faktanya, gravitasi Matahari membuat Bumi bisa berotasi.

Tanpa tarikan gravitasi ini Bumi bisa 'melayang' ke mana-mana di luar angkasa. Ini bisa berpotensi sangat berbahaya karena Bumi bisa bertabrakan dengan komet, meteor, atau benda alam lainnya.

3 dari 3 halaman

Ukuran Matahari Ternyata Lebih Besar

Kita semua tahu ukuran Matahari tentu besar. Namun, studi yang dilakukan sejumlah ilmuwan mengungkap, ukuran matahari justru lebih besar dari yang diperkirakan.

Adalah Xavier Jubier dan Ernie Wright, astronom NASA yang meneliti ukuran Matahari dengan sekumpulan data di Solar Dynamics Observatory (SD). Mereka menyadari hal tersebut saat mengamati gerhana Matahari yang berlangsung di Amerika Serikat (AS).

Baik Jubier dan Wright mengaku proses pengukuran Matahari bukan perkara mudah. Apalagi, ukurannya berubah-ubah seiring dengan pergantian suhu panas yang tak tentu.

"Mengukur Matahari dengan penggaris ternyata lebih sulit dari yang kami pikir, karena ia benar-benar besar dari yang diperkirakan," ungkap Wright.

Pun demikian, Jubier dan Wright tidak dapat mengestimasikan secara detail berapa ukuran Matahari yang sebenarnya.

Mereka hanya merujuk pada ukuran terakhir yang ditetapkan International Astronomical Union, yang pada saat itu memperkirakan matahari memiliki radius 432.280 mil (695.700 kilometer).

Ukuran Matahari pertama kali diumumkan oleh seorang astronom Jerman bernama Arthur Auwers pada 1891.

Kala itu, ia menggunakan metode photosphere dengan mengamati ukuran Matahari secara langsung. Bedanya, waktu itu ukuran Matahari memiliki radius 432.470 mil (696.000 kilometer).

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
NASA: 2019 Jadi Tahun Terpanas Kedua dalam Sejarah
Artikel Selanjutnya
Perdana, NASA Temukan Planet Baru Seukuran Bumi yang Layak Huni