Sukses

WhatsApp Lahir Dari `Rasa Benci` Terhadap Password

Liputan6.com, Jakarta Kabar akuisisi aplikasi pesan instan WhatsApp oleh Facebook senilai US$ 19 miliar atau setara dengan Rp 233 triliun (kurs $1 = Rp 11.750), membuat banyak pihak terkejut.

Bermula dari sebuah aplikasi gratis, menetapkan biaya unduhan sekali seumur hidup, dan akhirnya WhatsApp diubah sebagai aplikasi berbayar dengan biaya US$ 0,99 per tahun.

Bahkan dari hanya memperoleh 10 ribu unduhan per hari, kini Whatsapp digunakan oleh sekitar 450 juta pengguna. WhatsApp sendiri didirikan pada tahun 2009 oleh dua mantan pekerja senior di raksasa online Yahoo! bernama Brian Acton dan Jan Koum. Lalu, bagaimana aplikasi ini bisa lahir?


Berawal Dari Lupa Password
Mengutip laman Wired, lahirnya WhatsApp diketahui terinspirasi dari lupanya kata sandi (password). Co-Founder WhatsApp, Jan Koum adalah salah satu dari jutaan orang yang tidak suka mengingat nama pengguna dan password dari sebuah akun.

Sekali waktu, selama musim panas, Koum pernah membuat sampai tiga kali akun Skype dan sebagian besar akunnya menghilang. Hal itu disebabkan karena Koum sulit untuk mengingat nama pengguna dan password.

`Kebencian` Koum terhadap password, membuatnya tidak ingin menggunakan password untuk memverifikasi identitas pengguna. Dari situlah ia bertekad untuk membuat layanan yang dapat bekerja dengan mudah dan cukup sekali log-in.


Tak Ingin Seperti Yahoo Messenger
Melihat ke belakang, pada 24 Februari 2009, tepat di hari ulang tahunnya - Koum mendaftarkan sebuah start-up yang akan membuat aplikasi digital untuk layanan telepon selular. Aplikasi yang dibuatnya itu diberi nama `WhatsApp`, yang kala itu memiliki pesaing berat bernama `Zap`.

Sebelum membentuk perusahaan tersebut Koum dikenal sebagai mantan karyawan Yahoo!. Pada tahun 2007, ketika usianya 31 tahun, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan memulai bisnisnya sendiri.

Meskipun pernah bekerja di Yahoo!, Koum tak ingin membuat WhatsApp terlihat seperti Yahoo Messenger. Pria kelahiran Ukraina, 24 Februari 1976 itu memutar otak agar serangkaian nomor telepon bisa menjadi kode untuk log-in. Ia pun berpikir bahwa sebagian besar pemilik ponsel pasti mengingat nomor teleponnya.


Kontak Sebagai Jejaring
Kemudian, nomor telepon yang terdaftar di daftar kontak ponsel dijadikan sebagai `jejaring sosial` dalam layanan pesan instan tersebut. Ide yang berasal dari kegelisahan Koum atas lupa password ini lantas menjadi daya tarik tersendiri bagi WhatsApp.

Ide itu membuat antar-pengguna WhatsApp tidak perlu repot mencari akun berdasarkan nama pengguna. Cukup hanya menyimpan nama dan nomor telepon dalam daftar kontak, pengguna secara otomatis sudah `berteman` dan dapat saling berkirim pesan via jaringan internet.

WhatsApp pertama kali dirilis pada Mei 2009 untuk sistem operasi iOS. Untuk memperluas konsep jejaring sosial di antara pengguna WhatsApp, Koum akhirnya memutuskan untuk mengembangkannya ke platform lain, termasuk Android, Symbian, BlackBerry, dan sebentar lagi Windows Phone.


Bersambung...