5 Penyanyi Dangdut yang Tak Ingin Anaknya Terjun ke Dunia Hiburan, Punya Alasan Berbeda

5 penyanyi dangdut yang tak ingin anaknya terjun ke dunia hiburan, mulai dari Ira Swara hingga Ayu Ting Ting, beserta alasan di baliknya.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 14:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dunia hiburan menawarkan popularitas, peluang karier, dan penghasilan yang menjanjikan. Namun, tidak semua penyanyi ingin anak-anaknya mengikuti jejak yang sama. Sejumlah penyanyi dangdut yang tak ingin anaknya terjun ke dunia hiburan justru memilih bersikap hati-hati karena memahami berbagai tantangan di balik gemerlap panggung.

Pengalaman panjang sebagai penyanyi membuat mereka mengetahui bahwa profesi di industri hiburan tidak selalu mudah dijalani. Jadwal kerja yang padat, waktu bersama keluarga yang terbatas, hingga lingkungan pergaulan menjadi beberapa hal yang mereka pertimbangkan sebelum mengizinkan anak menekuni bidang serupa.

Meski begitu, keinginan tersebut bukan berarti mereka menutup kesempatan bagi anak untuk mengembangkan bakat. Ada yang berharap anak lebih fokus pada pendidikan dan bisnis, sementara yang lain memilih memberikan kebebasan ketika anak sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depannya sendiri.

1. Ira Swara, Khawatir dengan Waktu Istirahat dan Kehidupan Keluarga

Ira Swara merupakan salah satu penyanyi dangdut senior yang pernah mengungkapkan keengganannya melihat sang putri, Yunia Syahrie atau Nia, mengikuti jejak kariernya sebagai penyanyi. Kekhawatiran tersebut muncul dari pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia hiburan.

Bagi Ira, menjadi penyanyi bukan sekadar tampil di atas panggung dan mendapatkan tepuk tangan penonton. Ada tuntutan pekerjaan yang terkadang sulit diprediksi, mulai dari jadwal tampil hingga perjalanan menuju lokasi acara. Kondisi tersebut dapat mengurangi waktu istirahat dan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga.

Pengalaman itu membuat Ira mempertimbangkan kembali apakah profesi serupa merupakan pilihan terbaik bagi putrinya. Ia tidak ingin Nia harus menghadapi kesibukan yang berpotensi mengganggu keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan kesehatan.

Selain persoalan waktu, Ira juga memiliki kekhawatiran terhadap lingkungan pergaulan di industri hiburan. Sebagai orang tua, ia tentu ingin putrinya tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan diri dan masa depannya.

Namun, keinginan sang ibu tidak lantas membuat Ira mengabaikan minat anak. Nia diketahui memiliki ketertarikan pada musik, meskipun arahnya lebih dekat dengan musik pop dan girlband Mawar. Ketika melihat keseriusan putrinya terhadap bidang tersebut, Ira akhirnya memberikan dukungan.

Sikap Ira memperlihatkan bahwa kekhawatiran orang tua tidak selalu berarti penolakan mutlak. Ia hanya ingin anaknya memahami konsekuensi sebuah profesi sebelum benar-benar memutuskan untuk menekuninya.

2. Lala Widy, Ingin Anaknya Fokus Menyelesaikan Pendidikan

Penyanyi dangdut Lala Widy juga termasuk figur yang belum ingin mengarahkan anaknya, Syahdu Widy, untuk mengikuti jejaknya sebagai penyanyi. Meskipun mengetahui sang anak memiliki ketertarikan pada aktivitas bernyanyi, Lala memilih agar Syahdu memprioritaskan pendidikan terlebih dahulu.

Bagi Lala, masa depan anak tidak seharusnya terlalu cepat diarahkan pada profesi yang memiliki ketidakpastian. Dunia tarik suara memang bisa membuka peluang untuk dikenal luas dan memperoleh penghasilan, tetapi perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan mulus.

Ia memahami bahwa menjadi penyanyi dangdut membutuhkan pengorbanan yang besar. Pengalaman pada masa awal karier menjadi salah satu alasan yang memengaruhi pandangannya. Lala pernah menceritakan kesulitan yang dialaminya ketika belum memiliki kendaraan sendiri untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi tersebut, ia harus meminjam kendaraan dan menjalani berbagai keterbatasan bersama keluarganya. Pengalaman itu menunjukkan bahwa perjalanan seorang penyanyi tidak selalu dimulai dari kehidupan yang nyaman. Ada perjuangan panjang sebelum seseorang dapat menikmati hasil dari pekerjaannya.

Kesibukan sebagai penyanyi juga membuat Lala menyadari bahwa waktu untuk keluarga dan kehidupan pribadi dapat berkurang. Ia mengungkapkan penyesalannya karena aktivitas bernyanyi yang semakin padat membuat waktu yang dimilikinya terasa semakin terbatas.

Pengalaman tersebut membuatnya tidak ingin Syahdu buru-buru mengambil jalan yang sama. Lala ingin anaknya mempunyai kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan mengenali minatnya tanpa harus terbebani tuntutan pekerjaan sejak dini.

Meski demikian, sikap Lala bukan berarti bakat menyanyi Syahdu harus diabaikan. Keputusan untuk memprioritaskan pendidikan saat ini merupakan bentuk kehati-hatian agar sang anak memiliki bekal yang cukup sebelum menentukan pilihan karier pada masa mendatang.

3. Inul Daratista, Berharap Anaknya Meneruskan Bisnis Keluarga

Nama Inul Daratista juga masuk dalam daftar penyanyi dangdut yang pernah menyatakan tidak berharap anaknya, Yusuf Ivander Damares, mengikuti jejaknya di dunia hiburan. Alih-alih menjadi artis, Inul justru berharap putra semata wayangnya itu dapat meneruskan bisnis keluarga atau menekuni bidang lain.

Keinginan tersebut pernah disampaikan Inul ketika berbicara mengenai masa depan anaknya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih jika sang anak kelak mengelola bisnis yang telah dibangunnya.

Pilihan Inul cukup masuk akal jika melihat perjalanan kariernya. Ia telah melewati berbagai tantangan untuk membangun nama sebagai penyanyi dangdut sekaligus mengembangkan usaha di luar dunia musik. Pengalaman tersebut memberinya gambaran bahwa popularitas bukan satu-satunya jalan untuk mencapai keberhasilan.

Bagi Inul, kesempatan yang dimiliki anak sebaiknya dapat digunakan untuk membangun masa depan melalui jalur yang berbeda. Bisnis keluarga bisa menjadi salah satu pilihan karena sang anak memiliki kesempatan untuk belajar mengelola usaha dan mengembangkan apa yang telah dirintis orang tuanya.

Inul juga pernah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan putranya sejak usia dini. Ia sempat menyiapkan pendidikan anak usia dini ketika Yusuf masih sangat kecil, meskipun rencana tersebut kemudian ditunda setelah mendapat masukan dari dokter.

Hal itu menggambarkan betapa seriusnya Inul memikirkan perkembangan anak. Ia ingin memberikan bekal pendidikan yang baik, tetapi tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan dan tahapan tumbuh kembang putranya.

Di balik keinginannya agar Yusuf tidak menjadi artis, terdapat pula pengalaman emosional sebagai seorang ibu. Inul pernah mengungkapkan bahwa dirinya harus menunggu selama 13 tahun untuk mendapatkan momongan. Pengalaman tersebut membuatnya sangat menyayangi sang anak dan ingin memberikan kehidupan yang baik baginya.

Meski memiliki harapan tersendiri, pilihan karier Yusuf pada masa depan tetap menjadi hal yang perlu berkembang seiring pertambahan usia. Keinginan Inul lebih mencerminkan harapan seorang ibu yang ingin anaknya memiliki masa depan stabil dan kesempatan hidup yang lebih baik.

4. Iis Dahlia, Khawatir dengan Kerasnya Pergaulan Selebritas

Penyanyi dangdut Iis Dahlia juga pernah merasakan keraguan ketika anak-anaknya ingin berkarier di industri hiburan Tanah Air. Kekhawatirannya terutama berkaitan dengan lingkungan pergaulan yang menurutnya tidak selalu memberikan pengaruh positif.

Dalam pernyataannya pada 2019, Iis mengungkapkan ketakutannya terhadap kemungkinan anak-anaknya terpapar narkoba. Ia mengingatkan kedua anaknya agar menjauhi zat terlarang tersebut karena dapat merusak kehidupan dan masa depan seseorang.

Kekhawatiran Iis memperlihatkan sisi lain dari kehidupan keluarga selebritas. Ketika anak mulai memasuki lingkungan hiburan, orang tua tidak hanya perlu memikirkan kemampuan bernyanyi, akting, atau keterampilan lain. Mereka juga perlu mempertimbangkan bagaimana anak menghadapi tekanan sosial, menjaga batasan pribadi, dan memilih lingkungan pertemanan.

Industri hiburan mempertemukan banyak orang dari latar belakang berbeda. Kesempatan untuk berjejaring dan mengembangkan karier memang terbuka luas, tetapi anak yang belum cukup matang juga membutuhkan pendampingan agar mampu mengambil keputusan secara bijaksana.

Sebagai ibu yang telah lama bekerja di dunia hiburan, Iis memiliki pengalaman untuk memahami tantangan tersebut. Ia tentu ingin anak-anaknya dapat menjalani kehidupan dengan baik, tanpa harus kehilangan arah karena tekanan lingkungan atau keputusan yang berisiko.

Namun, kekhawatiran itu tidak serta-merta berarti setiap lingkungan selebritas berbahaya. Pesan utama yang disampaikan Iis lebih berkaitan dengan pentingnya kewaspadaan dan pendidikan mengenai risiko pergaulan.

Bagi orang tua, mendampingi anak yang ingin memasuki industri hiburan membutuhkan komunikasi yang terbuka. Anak perlu memahami risiko profesi yang dipilih, sedangkan orang tua perlu memberikan arahan tanpa mengabaikan kesempatan anak untuk berkembang.

5. Ayu Ting Ting, Tidak Ingin Masa Kecil Anak Terbuang

Berbeda dengan beberapa penyanyi yang secara tegas berharap anaknya memilih bidang lain, Ayu Ting Ting lebih menekankan pentingnya memberikan kebebasan kepada putrinya, Bilqis Khumairah Razak, untuk menikmati masa kecil.

Ayu pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin memaksakan Bilqis masuk ke dunia hiburan ketika masih kecil. Menurutnya, anak perlu memiliki kesempatan untuk bermain, belajar, dan menikmati masa pertumbuhan tanpa terbebani tuntutan pekerjaan.

Sikap tersebut muncul meskipun Bilqis telah menunjukkan ketertarikan pada sejumlah aktivitas seni. Putrinya diketahui menyukai kegiatan menari dan pernah mengikuti latihan balet. Bilqis juga memiliki kemampuan bernyanyi, meskipun menurut Ayu, saat itu sang anak belum terlalu menyukai aktivitas tersebut.

Ayu memilih tidak menjadikan bakat sebagai alasan untuk segera mengarahkan anak pada karier profesional. Baginya, kemampuan yang dimiliki seorang anak tetap dapat dikembangkan tanpa harus langsung menghasilkan uang atau popularitas.

Ketika Bilqis sudah lebih besar dan benar-benar ingin menjadi artis, Ayu menyatakan kesediaannya untuk mendukung keputusan tersebut. Artinya, ia tidak menutup pintu bagi sang putri untuk memasuki dunia hiburan, tetapi juga tidak ingin menentukan masa depan anak terlalu dini.

Pendekatan Ayu menunjukkan bahwa orang tua dapat membedakan antara mengenalkan bakat dan memaksakan profesi. Anak boleh mengikuti kegiatan seni untuk bersenang-senang dan belajar, tanpa harus menjadikannya pekerjaan sebelum siap.

Di tengah banyaknya anak selebritas yang mulai dikenal publik sejak usia muda, pandangan Ayu juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap masa kanak-kanak. Tumbuh kembang anak tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat mereka meraih popularitas atau mengikuti jejak kesuksesan orang tua.

Pada akhirnya, keputusan mengenai karier Bilqis akan bergantung pada minat dan kesiapan dirinya ketika dewasa. Ayu memilih menjadi orang tua yang memberikan arahan sekaligus ruang bagi anak untuk menentukan jalannya sendiri.

Alasan Penyanyi Dangdut Tidak Ingin Anaknya Mengikuti Jejak Karier Mereka

Dari kisah para penyanyi tersebut, terdapat beberapa alasan yang membuat orang tua di dunia hiburan berhati-hati ketika anak ingin mengikuti profesi serupa.

Pertama, jadwal kerja yang tidak menentu dapat membuat waktu istirahat dan kebersamaan keluarga berkurang. Pengalaman seperti yang dirasakan Ira Swara dan Lala Widy menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang musik membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga.

Kedua, ketidakpastian karier menjadi pertimbangan tersendiri. Popularitas tidak selalu bertahan lama, sementara perjalanan menuju kesuksesan dapat membutuhkan biaya, latihan, dan perjuangan panjang. Lala Widy, misalnya, ingin anaknya memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan sebelum mengambil keputusan besar.

Ketiga, lingkungan pergaulan dan keselamatan anak menjadi perhatian penting. Kekhawatiran Iis Dahlia terhadap narkoba menunjukkan bahwa orang tua perlu membekali anak dengan pemahaman mengenai risiko dan kemampuan menjaga diri.

Keempat, tersedianya pilihan karier lain membuat sebagian penyanyi ingin anaknya mencoba jalur berbeda. Inul Daratista berharap putranya dapat meneruskan bisnis keluarga, sedangkan Ayu Ting Ting memilih memberikan kebebasan kepada Bilqis untuk menentukan minatnya ketika dewasa.

Berbagai alasan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan orang tua tidak selalu didasarkan pada anggapan bahwa dunia hiburan merupakan profesi yang buruk. Pengalaman pribadi, kondisi keluarga, dan harapan terhadap masa depan anak turut memengaruhi sikap mereka.

Yang tidak kalah penting, anak tetap membutuhkan kesempatan untuk mengenali minat dan kemampuannya sendiri. Dukungan orang tua dapat diberikan melalui pendidikan, pendampingan, dan komunikasi terbuka, sehingga keputusan karier nantinya diambil dengan pertimbangan yang matang.

Tanya Jawab Seputar Penyanyi Dangdut

1. Siapa saja penyanyi dangdut yang tidak ingin anaknya terjun ke dunia hiburan?

Beberapa penyanyi yang pernah mengungkapkan kekhawatiran atau keengganan terhadap anaknya mengikuti jejak karier mereka antara lain Ira Swara, Lala Widy, Inul Daratista, dan Iis Dahlia. Ayu Ting Ting juga tidak ingin memaksakan putrinya memasuki dunia hiburan sejak kecil.

2. Mengapa Ira Swara sempat tidak ingin anaknya menjadi penyanyi?

Ira Swara mengkhawatirkan jadwal kerja dunia hiburan yang tidak menentu, berkurangnya waktu istirahat, serta terbatasnya waktu bersama keluarga. Ia juga memperhatikan lingkungan pergaulan di industri tersebut.

3. Mengapa Lala Widy ingin anaknya fokus pada pendidikan?

Lala Widy ingin putrinya, Syahdu Widy, menyelesaikan pendidikan dan tidak terburu-buru menekuni profesi penyanyi yang memiliki ketidakpastian. Ia juga memahami besarnya pengorbanan waktu dan tenaga dalam perjalanan karier sebagai penyanyi dangdut.

4. Apakah Inul Daratista melarang anaknya menjadi artis?

Inul pernah menyatakan tidak berharap putranya, Yusuf Ivander Damares, mengikuti jejaknya di dunia hiburan. Ia lebih berharap sang anak dapat meneruskan bisnis keluarga atau menekuni bidang lain. Harapan tersebut mencerminkan keinginannya agar putranya memiliki pilihan masa depan yang berbeda.

5. Apakah anak penyanyi dangdut harus mengikuti karier orang tuanya?

Tidak. Anak memiliki hak untuk menentukan minat dan pilihan kariernya sendiri ketika sudah cukup dewasa. Orang tua dapat memberikan arahan dan menjelaskan berbagai risiko, tetapi keputusan idealnya mempertimbangkan bakat, kesiapan, pendidikan, serta keinginan anak.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6