Bursa Asia Melemah, Investor Tinggalkan Saham Teknologi

Bursa Asia kembali turun di tengah aksi jual saham teknologi, kekhawatiran investasi AI, dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 08:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia melanjutkan pelemahan pada awal perdagangan Jumat (23/10/2026), mengikuti penurunan Wall Street. Investor mulai mengurangi kepemilikan saham perusahaan teknologi raksasa setelah reli tajam sepanjang tahun ini dan beralih ke aset yang dinilai lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS dan yen Jepang.

Mengutip The Economic Times, Indeks saham regional MSCI Asia Pasifik turun 0,3%, memperpanjang pelemahan untuk hari kedua dan bertahan di sekitar level yang terakhir terlihat pada Juli. Bursa Taiwan tutup pada Jumat akibat topan. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 0,3% pada awal perdagangan Asia.

Pada perdagangan sebelumnya, Nasdaq 100 anjlok 2,9%, sedangkan Philadelphia Semiconductor Index merosot 6,7%. Keduanya mencatat penurunan terbesar sejak akhir Juni.

Saham Tesla dan Meta Platforms ikut tertekan setelah laporan keuangan perusahaan dirilis. Namun, investor tidak sepenuhnya meninggalkan pasar saham. Sebagian mengalihkan dana ke sektor defensif, seperti barang kebutuhan pokok dan utilitas, yang cenderung membagikan dividen.

Tekanan di sektor teknologi juga terlihat setelah produsen cip Korea Selatan, SK Hynix, membatalkan rencana penawaran umum perdana saham anak usahanya di AS, Solidigm, menyusul penolakan pemegang saham.

Investor Beralih ke Obligasi AS dan Yen

Aksi jual saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong investor mencari perlindungan di pasar obligasi. Obligasi pemerintah AS atau Treasury mencatat reli terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 17 basis poin menjadi 4,95%, menembus level 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan imbal hasilnya.

“Sentimen tampaknya semakin rapuh karena investor kembali mempertimbangkan aset terkait AI,” kata Eugene Leow, ahli strategi suku bunga senior DBS Bank. Ia menambahkan, tingginya imbal hasil obligasi AS mendorong investor melindungi portofolio dengan mencari keamanan di Treasury.

Yen Jepang juga menguat ke level 156,60 per dolar AS, sedangkan dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang negara anggota Grup 10. Obligasi pemerintah Australia turut mengikuti penguatan Treasury pada awal perdagangan Asia.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent bertahan di sekitar US$ 113,10 per barel setelah melonjak pada Kamis akibat serangan mematikan di Arab Saudi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan.

Sementara itu, harga emas mempertahankan pelemahan setelah turun 2,8% pada Kamis ke level sedikit di bawah US$ 4.205 per ons troi.

Kekhawatiran AI dan Konflik Timur Tengah

Saham teknologi yang mendorong reli pasar saham AS selama empat tahun terakhir kini menghadapi tekanan. Kinerja keuangan sejumlah perusahaan besar memicu kekhawatiran bahwa pemulihan sejak akhir Maret berlangsung terlalu cepat.

Perhatian investor pekan depan akan tertuju pada laporan keuangan Microsoft, Amazon, dan Alphabet, bersamaan dengan keputusan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar juga mulai mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga AS sekali lagi tahun ini.

Ketegangan Timur Tengah turut memengaruhi sentimen. Serangan pesawat nirawak di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang tanpa mengganggu operasional. Serangan di Bandara Internasional King Fahd juga menimbulkan korban, sementara kelompok Houthi mengklaim menyerang pelabuhan Yanbu.

Joseph Saluzzi dari Themis Trading menilai investor khawatir perang Iran akan meluas setelah pemilu AS dan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Menurutnya, reli obligasi turut menegaskan kecenderungan investor menghindari risiko.

Di China, saham juga menjadi sorotan setelah penurunan nilai pasar sebesar US$ 2,4 triliun dari puncak Mei mendorong pasar masuk ke wilayah bear market. Saham Alibaba anjlok paling dalam dalam dua bulan pada Kamis, menyeret Hang Seng Tech Index turun 5%.

Homin Lee dari Lombard Odier menilai sentimen investor terhadap pasar China masih sangat lemah. Tanpa katalis kebijakan atau teknologi baru, volatilitas diperkirakan berlanjut hingga awal 2027.