Bursa Asia Dibayangi Kekhawatiran Investasi AI dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Bursa Asia mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi AS, sementara harga minyak Brent naik menembus US$ 110 per barel.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 08:55 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis, di tengah pelemahan kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS). Kinerja keuangan sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar yang beragam memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan reli saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip The Economic Times, Kamis (22/10/2026), pada Pada awal perdagangan, saham Korea Selatan melemah 0,2%, sedangkan saham Jepang bergerak naik tipis. Investor juga mencermati kenaikan harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kepala Strategi Pasar di Raymond James Investment Management, Matt Orton, mengatakan laporan keuangan perusahaan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Ini semua tentang laporan keuangan,” kata Orton. “Ada ketegangan yang jelas di pasar antara jalur pertumbuhan perusahaan-perusahaan AI dan kemampuan untuk membiayai industri tersebut.”

 

Pengaruh Harga Minyak Dunia

Pergerakan pasar juga dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah. Minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$ 98 per barel setelah bergerak dalam rentang US$ 4 pada perdagangan Rabu. Sementara itu, harga minyak Brent melonjak 1% hingga diperdagangkan di atas US$ 110 per barel.

Di pasar obligasi, harga surat utang pemerintah AS atau US Treasury melemah pada perdagangan di New York.

Laporan keuangan terbaru perusahaan teknologi akan menjadi ujian bagi keberlanjutan investasi di sektor AI. Investor menimbang prospek pertumbuhan yang kuat dengan meningkatnya biaya untuk membiayai ekspansi industri tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, kekhawatiran meningkat bahwa belanja besar-besaran untuk membangun pusat data dan menambah kapasitas komputasi membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan keuntungan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin selektif dalam menilai perusahaan yang mengandalkan pertumbuhan bisnis AI.

Tesla Jadi Sorotan

Tesla menjadi salah satu perusahaan yang disorot investor terkait besarnya kebutuhan investasi untuk mendukung ekspansi bisnis. Dalam laporan hasil keuangan pada Rabu, perusahaan tersebut menyampaikan belanja modal atau capital expenditure (capex) diperkirakan mencapai sekitar US$ 20 miliar pada tahun ini.

Angka tersebut menandai perubahan dari perkiraan sebelumnya pada tahun berjalan. Besarnya belanja modal Tesla menjadi perhatian karena investor menilai kemampuan perusahaan teknologi dalam menjaga pertumbuhan sekaligus mengendalikan biaya investasi.

Secara lebih luas, perkembangan ini memperkuat perhatian pasar terhadap keberlanjutan perdagangan saham bertema AI. Investor ingin memastikan bahwa pengeluaran besar untuk pusat data, perangkat komputasi, dan infrastruktur pendukung dapat menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik menambah tantangan bagi pasar keuangan global. Kombinasi ketidakpastian prospek investasi AI dan tekanan dari pasar energi membuat arah pergerakan bursa Asia tetap bergantung pada perkembangan laporan keuangan perusahaan serta situasi geopolitik.