Sukses

Respons GoTo Usai Dikabarkan Merger dengan Grab

Liputan6.com, Jakarta - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) angkat bicara mengenai kabar merger dengan Grab Holdings Ltd.

Head of Corporate Communications Goto, Sinta Setyaningsih membantah kabar merger GoTo dan Grab. Ia menuturkan, tidak ada diskusi merger antara GoTo dan Grab.

"Kami tidak mengomentari rumor yang beredar di pasar. Saat ini tidak ada diskusi terkait hal tersebut,” ujar Sinta saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat, Senin (12/2/2024).

Sinta menegaskan,GoTo saat ini memiliki fundamental dan posisi keuangan yang semakin solid. “Kami telah berhasil mencapai target Adjusted EBITDA positif di kuartal IV 2023. Arus kas kami juga semakin kuat dengan adanya revenue berupa fee dari Tokopedia secara kuartalan,” kata dia.

Ia mengatakan, fokus GoTo ke depan adalah untuk tumbuh secara sehat dan meraih profitabilitas dengan mendorong pengembangan bisnis dan inovasi dari unit bisnis On Demand Service dan Fintech.

Sebelumnya diberitakan, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) atau Goto Group melanjutkan rencana penggabungan usaha (merger) dengan Grab Holdings Ltd. dan GoTo Group. Hal ini mencuat sebagai salah satu upaya untuk menutup kerugian bertahun-tahun akibat persaingan ketat antara keduanya.

Kedua pihak sedang dalam diskusi awal mengenai berbagai skenario, kata orang-orang yang mengetahui rencana tersebut. Salah satu opsi potensial adalah Grab yang berbasis di Singapura akan akuisisi GoTo menggunakan uang tunai, saham, atau kombinasi keduanya.

Sumber tersebut menambahkan,perusahaan Indonesia lebih terbuka terhadap kesepakatan setelah Patrick Walujo mengambil alih jabatan CEO tahun lalu.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Opsi-Opsi yang Dijajaki

Melansir Yahoo Finance, Sabtu (9/12/2024), para pemegang saham utama kedua perusahaan mendukung kesepakatan tersebut dan mendorong perundingan tersebut.

Opsi-opsi yang telah dijajaki oleh perusahaan-perusahaan tersebut juga mencakup pemisahan pasar-pasar utama mereka, dengan Grab mendapatkan kendali atas basis mereka di Singapura dan beberapa pasar lainnya, sementara GoTo tetap memegang kendali di Indonesia.

Di sisi lain, valuasi nampaknya menjadi hambatan utama dalam kesepakatan. Pasalnya, saham GOTO telah anjlok sekitar 30 persen dalam 12 bulan terakhir. Kekhawatiran lainnya termasuk struktur kesepakatan dan tata kelola. Melansir data Google Finance, saham GOTO parkir di posisi 84 pada penutupan Kami, 7 Februari 2024. Posisi itu turun 25 persen dalam setahun.

Hingga berita ini dikutip, perwakilan GoTo mengatakan tidak ada diskusi seperti itu yang dilakukan. Sementara perwakilan Grab menolak berkomentar. Persaingan antara Grab dan GoTo telah membuat harga bagi konsumen menjadi sangat rendah di negara-negara seperti Indonesia.

Di pasar terbesar di Asia Tenggara di mana regulator juga secara aktif memastikan tarif terjangkau, biaya naik skuter bisa kurang dari USD 1 dan perjalanan dengan mobil tidak lebih dari itu.

Hal ini memberikan tekanan pada perusahaan transportasi untuk memperluas layanan yang berdekatan seperti pengiriman dan pembayaran digital. Grab dan GoTo telah mempertimbangkan potensi merger sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.

 

3 dari 3 halaman

Diskusi Grab dan GOTO Kembali Dimulai

Kali ini, diskusi dimulai kembali setelah GoTo melepaskan kendali unit e-commerce Tokopedia ke TikTok milik ByteDance Ltd. pada Desember. Kesepakatan ini menjadikan Grab dan GoTo berpotensi menjadi pasangan yang lebih kuat. Salah satu tantangan dalam negosiasi di masa lalu adalah pengendalian.

CEO Grab Anthony Tan, yang memegang sekitar 60 persen hak suara di perusahaannya, telah mengajukan diri untuk memimpin entitas hasil penggabungan.

Adapun Patrick Walujo, yang mengambil alih perseroan pada Juni lalu berhasil mengarahkan GoTo menuju profitabilitas berdasarkan penyesuaian pada kuartal keempat. Patrick Waluyo yang terafiliasi dengan Northstar Group itu menjadi katalis utama bagi para pesaing untuk berunding kali ini.

Terutama setelah mantan pemimpin dua bisnis utama GoTo, Kevin Aluwi yang merupakan CEO Gojek dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengundurkan diri. Grab dan GoTo telah mengadakan pembicaraan berulang-ulang untuk menggabungkan keduanya tetapi tidak membuahkan hasil.

Beberapa tahun yang lalu, keduanya mencapai kemajuan besar dalam mencapai kesepakatan, tetapi perundingan terhenti karena mereka berselisih mengenai cara mengelola pasar utama di Indonesia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini