Sukses

Calon Pendatang Baru BEI Pekan Depan 12-16 Februari 2024

Liputan6.com, Jakarta - Minat pencatatan saham melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada awal tahun ini masih semarak.

Hingga 7 Februari 2024, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 13 emiten baru dengan dana dihimpun Rp 3 triliun. Adapun saat ini, terdapat 24 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Beberapa di antaranya akan listing atau mencatatkan saham perdana dan diperdagangkan di Bursa pekan depan.

Perusahaan-perusahaan tersebut, antara lain, PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE), PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA), PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP), dan PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN). Jika tak ada aral melintang, keempat calon emiten itu akan tercatat pada Senin, 12 Februari 2024.

PT Homeco Victoria Makmur Tbk menawarkan sebanyak-banyaknya 808,35 juta lembar saham dalam rangka IPO. Perseroan telah menetapkan harga penawaran final yakni Rp 148 per lembar.

Dengan demikian, perseroan akan mengantongi dana segar Rp 119,64 miliar dari IPO. Sebesar 58 persen dana IPO PT Homeco Victoria Makmur Tbk akan dialokasikan untuk modal kerja. Lalu masing-masing 21 persen atau sekitar Rp 25 miliar akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang perseroan dan pelunasan sebagian utang perseroan kepada entitas anak PT Trisinar Indopratama.

- PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA)

Dalam rangka IPO, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 480 juta lembar saham dengan harga penawaran Rp 103 per lembar. Dengan demikian, perseroan akan mengantongi dana segar Rp 49,44 miliar dari IPO. Perseroan berencana mengalokasikan sekitar 24 persen dana IPO atau sekitar Rp 10,9 miliar untuk pembelian aset tetap berupa peralatan kerja kantor peralatan kerja proyek dan kendaraan.

 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Saham MKAP-HYGN

Kemudian sekitar 4 persen akan dialokasikan untuk sewa bangunan dan kendaraan serta pengembangan sistem informasi dan jaringan. Sisanya sekitar 72 persen atau Rp 32,7 miliar akan digunakan untuk modal kerja perseroan antara lain namun tidak terbatas untuk pembelian persediaan bahan baku, biaya kontraktor, desain interior dan pengadaan furnitur.

- PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP)

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 650.000.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 50 per lembar. Perseroan telah menetapkan harga penawaran final yakni Rp 115 per lembar. Dengan demikian, perseroan akan mengantongi dana segar Rp 74,75 miliar dari IPO. Seluruh dana IPO atau 100 persen akan digunakan untuk modal kerja perseroan.

- PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN)

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 252 juta lembar saham dengan nilai nominal Rp 20 per lembar. Perseroan telah menetapkan harga penawaran final yakni Rp 145 per lembar. Dengan demikian, perseroan akan mengantongi dana segar Rp 76,13 miliar dari IPO.

Sekitar 49,2 persen dana IPO akan digunakan untuk modal kerja, 18,5 persen untuk belanja modal, 13,5 persen untuk pembelian gudang di Bogor dari pihak afiliasi, 10,8 persen untuk penyetoran modal kepada anak usaha PT Tukang Bersih Indonesia, dan 8 persen untuk penyetoran modal kepada anak usaha PT Indocitra Pacific.

 

3 dari 4 halaman

BEI Incar 62 IPO pada 2024

Sebelumnya diberitakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sekitar 62 saham baru tercatat melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan raihan IPO 2023 yang mencapai 79 emiten.

"Kalau kita bicara IPO saham tahun depan itu 61 atau 62," ujar Direktur Utama BEI Iman Rachman , dikutip Senin (1/1/2024).

Hingga akhir 2023, Bursa telah mengantongi setidaknya setengah dari target IPO dalam pipeline, yakni 30 perusahaan. Merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat 9 perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar. Kemudian 19 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, sisanya 2 perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp 50 miliar. Sementara, rincian sektornya adalah sebagai berikut:

• 3 Perusahaan dari sektor basic materials

• 6 Perusahaan dari sektor consumer cyclicals

• 4 Perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals

• 2 Perusahaan dari sektor energy

• 0 Perusahaan dari sektor financials

• 0 Perusahaan dari sektor healthcare

• 5 Perusahaan dari sektor industrials

• 3 Perusahaan dari sektor infrastructures

• 1 Perusahaan dari sektor properties & real estate

• 5 Perusahaan dari sektor technology

• 1 Perusahaan dari sektor transportation & logistic

Secara keseluruhan, Bursa menargetkan pencatatan efek baru yang terdiri dari pencatatan saham, efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta rights issue sebanyak 230 pencatatan pada 2024.

Target tersebut naik dari target revisi tahun ini sebanyak 200 pencatatan, namun turun signifikan dari realisasi akhir tahun lalu yang telah mencapai 385 pencatatan hingga 27 Desember 2023.

Selain itu, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) 12,25 triliun dan penambahan 2 juta investor baru. Tahun depan, Bursa juga akan meluncurkan instrumen investasi kontrak berjangka saham atau single stock futures (SSF) pada kuartal I 2024.

 

 

4 dari 4 halaman

BEI Cetak Rekor IPO Terbanyak ke-6 di Dunia

Sebelumnya diberitakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan capaian mengesankan sepanjang 2023. Salah satunya, Bursa mencatatkan perusahaan IPO terbanyak ke-6 di dunia dengan 79 emiten baru.

"Kalau dari jumlah IPO di Indonesia untuk 2023 itu 79 emiten, atau 6 persen dari total global IPO, itu nomor 6 di dunia,” kata Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam konferensi pers di Jakarta, ditulis Sabtu (30/12/2023).

Secara global, terdapat 1.298 IPO pada 2023. Posisi Indonesia tepat berada di bawah bursa Tokyo dengan 86 IPO atau setara 7 persen dari IPO global.

Di urutan pertama, ada bursa India dengan 220 IPO atau setara 17 persen dari total IPO, disusul Shenzhen 129 IPO atau 10 persen dari total IPO.Kemudian posisi ketiga ada bursa AS dengan 105 IPO atau setara 8 persen dari total IPO global, serta Shanghai dengan 86 IPO atau 8 persen dari total IPO global.

Sementara dari sisi dana yang berhasil dihimpun lewat penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), Indonesia berada di posisi ke-9 dengan raihan USD 3,6 miliar. Capaian itu setara 3 persen dari total dana yang berhasil dihimpun dari IPO global yang mencapai USD 123,3 miliar.

Sepanjang 2023, pencatatan efek baru di BEI meliputi 79 saham, 120 emisi obligasi, 3 ETF, 2 EBA-SP, dan 182 waran terstruktur dengan total fund-raised saham sebesar Rp 54,14 triliun dan obligasi sebesar Rp 126,97 triliun.

"Penambahan pencatatan sebanyak 79 saham baru pada tahun 2023. "Ini merupakan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia," imbuh Iman.

Jumlah perusahaan tercatat saham di BEI telah mencapai 903 emiten sampai dengan saat ini. Jumlah tersebut tumbuh 9,3 persen ytd. Menempati posisi kedua terbesar di kawasan Asen setelah bursa Malaysia dengan 990 emiten atau tumbuh 2,1 persen ytd.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini