Anak Krakatau Masih Bergejolak, Warga Dilarang Aktivitas Radius 5 Km

Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau mengungkap kondisi terakhir aktivitas gunung di Selat Sunda itu.

Diterbitkan 20 Oktober 2026, 05:44 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang Senin kemarin (19/10/2026), Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, mengalami 77 kali gempa hybrid hingga mengeluarkan abu vulkanik dengan ketinggian abu mencapai 600 meter dari atas puncak.

"Teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50 hingga 600 meter dari puncak," kata Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Amri Puji Hidayatul Muslikhin, Selasa (20/10/2026).

Gunung Anak Krakatau juga mengalami 10 kali gempa low frekuensi, dengan durasi mencapai 13 detik. Selanjutnya terjadi 3 kali gempa letusan atau erupsi, dengan amplitudo 50-55 mm, selama 12 menit. Kemudian 10 kali gempa hembusan dengan amplitudo 08-22 mm selama 19-31 detik.

Gunung berapi di tengah perairan Selat Sunda itu terus menunjukkan aktivitasnya, dengan 37 kali gempa vulkanik dangkal, amplitudonya mulai dari 7 mm hingga 47 mm berdurasi mulai 3 detik sampai 16 detik.

Aktivitasnya belum berhenti, gunung berapi itu terus menggeliat dengan 15 kali gempa vulkanik dalam, dengan amplitudo 26 mm hingga 53 mm, lama gempanya mulai dari 11 detik hingga 53 detik.

"Terjadi 3 kali gempa tremor terus menerus dengan amplitudo antara 1 hingga 14 mm. Selanjutnya terjadi 1 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 45 mm dan lama gempa 2,7 menit," katanya lagi.

Terkait kondisi itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak, serta 1 kilometer dari pulau baru, demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava, baik dengan air laut maupun air hujan," katanya.