Liputan6.com, Jakarta - Meski usianya baru 17 tahun, namun Rais Dirja Rahmadi mampu menorehkan prestasi di bidang keamanan siber. Yang mengejutkan, Rais sempat diganjar pengakuan dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA.
Tak hanya itu, pelajar asal Sragen, Jawa Tengah, ini juga menerima sertifikat apresiasi dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sragen. Penghargaan itu ia terima, setelah menemukan celah keamanan pada situs web lembaga tersebut.
Siswa kelas XII IPA 2 SMAN 1 Tangen Sragen itu, mempelajari pemrograman dan keamanan siber secara mandiri sejak remaja. Kemampuannya mengidentifikasi kerentanan digital, dibuktikan melalui laporan yang disampaikan kepada sejumlah lembaga, termasuk NASA.
Advertisement
Rais mengaku menemukan celah keamanan pada sistem NASA secara tidak sengaja. Kerentanan yang diidentifikasinya antara lain broken link hijacking (BLH), yang berkaitan dengan penyalahgunaan tautan tidak aktif. Selain itu, cross-site scripting (XSS), yakni celah yang dapat memungkinkan penyisipan skrip berbahaya ke halaman web.
Temuan tersebut dilaporkan Rais melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP), mekanisme resmi NASA untuk menerima laporan kerentanan sistem digital.
"Temuan itu saya laporkan melalui VDP resmi NASA dan telah diterima serta divalidasi," ujar Rais kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).
Kerap Mendapat Pengakuan NASA
Perjalanan Rais memperoleh pengakuan dari NASA tidak berlangsung mudah. Sejumlah laporan Rais awalnya tidak dinyatakan valid karena masuk kategori out of scope, atau merupakan temuan duplikat, atau kerentanannya telah ditemukan pihak lain.
Namun, dia terus belajar dan mencoba hingga salah satu laporannya berupa kerentanan XSS mendapat pengakuan pada 2025. Pada 15 Agustus tahun itu, namanya masuk dalam daftar Hall of Fame NASA.
Selanjutnya pada tahun 2026, Rais kembali menemukan kerentanan pada domain NASA yang berbeda. Dia menyebut temuannya pada Maret dan Juni tahun ini mendapat pengakuan.
Dari sejumlah temuan tersebut, Rais mengaku memperoleh dua sertifikat dan satu penghargaan Hall of Fame dari NASA.
Selain NASA, Rais juga menemukan kerentanan pada situs web sejumlah lembaga di Indonesia. Di antaranya RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dan Lapas Kelas IIA Sragen. Dia juga menyebut pernah melaporkan kerentanan kepada Universitas Airlangga dan BMKG.
Temuan pada situs Lapas Kelas IIA Sragen mendapat apresiasi langsung dari pihak lembaga tersebut. Rais diundang ke lapas setempat, Selasa (29/9/2026). Rais menerima sertifikat apresiasi dari Kepala Lapas Kelas IIA Sragen, Giyono.
Rais mengaku menemukan kerentanan di Lapas Sragen tersebut, saat ia menelusuri sejumlah situs berdomain .id menggunakan teknik Google Dorking, yakni metode pencarian informasi tertentu melalui mesin pencari.
Sementara itu, dia mengaku belum mendapat respons dari DPRD Sragen setelah melaporkan kerentanan pada situs web lembaga tersebut.
Ketertarikan Rais terhadap teknologi informasi, tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Dia mulai belajar pemrograman sekitar tahun 2021. Kemudian mendalami keamanan siber secara lebih serius sejak 2022, ketika berusia 13 tahun.
Rais merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Rois Fathurohim dan Sarah. Ayahnya bekerja sebagai network engineer, yang turut memperkenalkannya pada dunia teknologi.
Meski telah mendapat pengakuan atas temuannya, Rais mengaku belum puas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk memperdalam keahlian di bidang keamanan siber.
"Saya belum puas dengan ilmu yang saya dapat saat ini. Saya ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas Airlangga (Unair) atau Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN)," terang Rais.
Rais bercita-cita menjadi profesional keamanan siber. Niatnya untuk memanfaatkan kemampuan yang dimiliki Rais untuk membantu berbagai lembaga mengidentifikasi serta memperbaiki kelemahan sistem digital.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375486/original/079437900_1792149415-cek_fakta_-OJK_pinjol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350102/original/012008800_1789559335-Cek_fakta_-_ustaz_Abdul_Somad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375195/original/050145200_1792134418-Screenshot_2026-10-16_132433.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375276/original/040735700_1792137600-cek_fakta_-_ustaz_wijayanto_-bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375589/original/046837500_1792162667-IMG_20261016_192527.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)