Kebakaran Hutan Tanjung Puting Ancam Habitat Orangutan

Tanjung Puting merupakan pusat konservasi dan rehabilitasi orangutan terbesar di dunia.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 14:37 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menjadi sorotan banyak pihak. Pasalnya Tanjung Puting merupakan pusat konservasi dan rehabilitasi orangutan terbesar di dunia yang seharusnya lestari.

Fakta menyebut, hewan langka bernama latin Pongo pygmaeus itu jumlahnya kian menyusut seiring dengan laju deforestasi dan kejadian kebakaran hutan. Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikan status konservasi orangutan Kalimantan sebagai Kritis (Critically Endangered).

Direktur Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Kalteng Wancino saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (14/10/2026) mengatakan, kebakaran hutan di Kalteng, khususnya di kawasan Tanjung Puting menjadi derita tambahan bagi populasi orangutan Kalimantan yang sebelumnya tersiksa dengan laju deforestasi gila-gilaan di wilayah tersebut. 

"Dari laporan tim, orangutan Tanjung Puting dievakuasi, ada beberapa yang diarahkan di satu titik (aman), yang terjebak kemungkinan meninggal. Belum diketahui pasti jumlahnya," katanya.

Seperti diketahui, kebakaran hutan gambut tidak bisa dipadamkan dengan cara-cara biasa. Terlebih kondisi hutan gambut Kalimantan yang karakteristiknya sudah berubah. Laju deforestasi, pembukaan lahan sawit, ditambah musim kemarau yang panjang membuat hutan gambut Kalimantan tidak mampu menjaga kelembapannya, sehingga mudah terbakar dan sulit dipadamkan jika sudah terbakar.

Wancino juga mengatakan, kebakaran hutan di Kalteng bukan bencana biasa, karena menyangkut kompleksitas kepentingan para pihak. 

"Ada politik hutan, hutan sudah dikavling-kavling oleh oknum dan korporasi. Dengan cost politik yang tinggi, mereka gadaikan hutan-hutan di daerah," katanya.

Wancino berharap adanya penegakan hukum yang serius bagi kejahatan hutan, izin-izin korporasi yang tidak taat hukum perlu jadi perhatian. 

"Coba Kemenhut periksa lagi izin-izin penggunaan lahan hutan," katanya.

Kebakaran hutan yang berulang di Kalimantan juga menjadi sorotan Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono. Dirinya mengatakan, kebakaran hutan terus berulang karena faktor pemicunya belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sementara kondisi lingkungan tertentu sangat mendukung terjadinya dan meluasnya kebakaran.

Secara ilmiah, terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan. Pertama, faktor iklim dan cuaca. Pada musim kemarau, terutama ketika terjadi El Niño atau kekeringan berkepanjangan, kelembapan vegetasi dan tanah dapat menurun secara signifikan. Kondisi ini meningkatkan kemudahan bahan organik untuk terbakar.

Temperatur tinggi, kelembapan udara rendah, dan angin kencang juga dapat mempercepat penyebaran api apabila kebakaran telah terjadi. Namun, perlu dipahami bahwa kekeringan bukan berarti kebakaran pasti terjadi. Kekeringan terutama meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap sumber penyulutan api.

"Kedua, faktor aktivitas manusia," katanya.

Sebagian kejadian kebakaran hutan berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk penggunaan api dalam pembukaan atau pengelolaan lahan, aktivitas yang tidak disengaja, maupun kelalaian. Meski demikian, penyebab setiap kejadian harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan lapangan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak tepat menggeneralisasi bahwa seluruh kebakaran disebabkan oleh satu kelompok atau aktivitas tertentu.

Ketiga, faktor kerentanan ekosistem. Lahan gambut memiliki karakteristik khusus karena tersusun dari akumulasi material organik. Dalam kondisi alami yang basah, gambut relatif sulit terbakar.

Namun, ketika mengalami pengeringan, gangguan tata air, atau penurunan muka air tanah, gambut menjadi jauh lebih rentan terhadap kebakaran.

"Ketiga faktor tersebut dapat saling memperkuat. Kekeringan meningkatkan kerentanan, sumber api memicu penyulutan, sedangkan kondisi vegetasi, gambut, dan angin menentukan perkembangan kebakaran," kata Daryono

Kebakaran hutan menurut Daryono merupakan hasil interaksi antara bahaya, kerentanan lingkungan, dan aktivitas manusia. Selama sumber kerentanan dan faktor pemicu belum dikendalikan secara konsisten, kebakaran hutan akan terus berulang.