Saat Lansia Harus Memikul Air: Kisah Kesunyian di Hepang Usai Gempa

Meski gempa telah berlalu, namun penderitaan warga Hepang belum berakhir.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 12:46 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di usianya yang ke-70, Marsiales Mehan seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Namun setiap pagi, langkah kakinya masih harus menembus jalan setapak berdebu, memikul empat jeriken kosong menuju satu-satunya mata air yang menjadi harapan hidup warga Dusun Hepang, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT.

Jalan setapak di tengah kebun yang kering itu bukan perjalanan pendek. Dia berjalan perlahan, pikulan bambu di pundaknya menopang beban yang terasa semakin berat, bukan sekadar berat jeriken yang nanti akan berisi air, melainkan beban kebutuhan hidup yang semakin sulit dipenuhi.

Dari kejauhan, terlihat bak penampung mata air yang dibangun warga secara swadaya. Seng bekas berkarat yang ditindih batu kali menjadi penutupnya. Di titik lain, hanya pelepah daun kelapa kering dan kayu yang menutup sumber kehidupan itu. Di dalamnya, air terlihat keruh kecoklatan bercampur lumpur dan dedaunan kering. Aliran dari pipa paralon kecil itu menetes begitu pelan, seolah waktu pun ikut berhenti menunggu.

Sebelum gempa datang, air di sini mengalir melimpah. Kini, setelah guncangan mengguncang bumi mereka, mata air seakan ikut berduka. Tiga hari setelah gempa, air berubah keruh pekat seperti santan kelapa. Sejak saat itu, alirannya perlahan menyusut, hingga kini nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekecil apa pun.

"Saat gempa baru saja mengguncang, beberapa mata air terlihat keruh seperti santan kelapa selama sekitar tiga hari. Kini debit airnya semakin menipis," cerita Marsiales dengan nada pasrah.

"Kami memohon pemerintah untuk membantu menyediakan profil tank bagi warga," sambungnya.

 

Talang Bambu dan Harapan yang Terputus

Di Hepang, air belum mengalir lewat pipa yang rapi. Sebagian warga memang sudah mendapat bantuan pipa dari desa, tetapi sebagian besar masih mengandalkan talang bambu yang disambung-sambung seadanya, sederhana, rapuh, dan sering kali tak sampai.

Bapa Yakobus, warga lain yang juga menanti di mata air itu, menunjuk bak kecil di depannya.

"Bak sederhana ini kami bangun atas upaya warga sendiri. Kami berharap pemerintah dapat membantu memasang profil tank di dekat mata air, sehingga air bisa dialirkan ke rumah-rumah warga. Tanpa bak penampungan, memang sangat sulit bagi kami," katanya.

Kesulitan ini tak hanya dirasakan di rumah. Di SDN Hepang, guru Dino Lewar juga merasakan dampaknya. Anak-anak datang ke sekolah, tetapi fasilitas paling dasar pun sulit dipenuhi.

"Di sekolah kami pun kesulitan mendapatkan air bersih. Kami memohon pihak terkait untuk membantu menyediakan profil tank yang cukup guna menampung air di lingkungan sekolah," ujar Dino.

 

Di Antara Kerinduan dan Harapan

Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah Hepang, tetapi dampaknya terus terasa dalam setiap tetes air yang semakin sulit didapat. Marsiales Mehan dan warga lainnya tidak meminta kemewahan. Mereka hanya membutuhkan tempat menampung air yang memadai, profil tank di dekat mata air, jaringan pipa yang mengalir hingga ke rumah dan sekolah, serta kepastian bahwa kebutuhan paling dasar mereka akan terpenuhi.

Pemerintah Desa Nenbura, Pemerintah Kecamatan Doreng, dan Pemerintah Kabupaten Sikka menjadi harapan satu-satunya. Sementara itu, di sebuah sudut kecil di Sikka, lansia berusia 70 tahun itu masih memikul jeriken-jerikennya, berjalan pulang-pergi, berharap hari ini air yang ia bawa pulang cukup untuk minum dan memasak makan keluarganya.