PR Air dan Sampah, Perubahan Dimulai dari Sekolah

Sebanyak 120 siswa di kawasan transmigrasi PALI mendapat edukasi kesehatan lingkungan melalui metode belajar sambil bermain.

Diterbitkan 04 Oktober 2025, 08:49 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan air bersih dan sampah masih menjadi pekerjaan rumah di kawasan transmigrasi Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.

Persoalan itu kemudian menjadi salah satu perhatian Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip). Alih-alih hanya membicarakan persoalan lingkungan dari sisi infrastruktur, tim memilih masuk melalui sekolah dan mengajak anak-anak mengenal kebiasaan hidup bersih sejak dini.

Sebanyak 120 siswa dari sejumlah sekolah di kawasan transmigrasi mengikuti edukasi kesehatan lingkungan. Mereka diperkenalkan dengan berbagai penyakit yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, seperti diare, cacingan hingga penyakit kulit.

Materinya dibuat sederhana agar mudah dipahami anak-anak. Poster, modul bergambar, kartu permainan hingga flashcard digunakan dalam proses pembelajaran.

Anak-anak tidak hanya diajak mengetahui penyakit yang dapat muncul akibat lingkungan yang kotor. Mereka juga dikenalkan dengan cara memilah dan mengelola sampah serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit dan stunting.

Bagi guru, pendekatan seperti ini tidak berhenti pada penyampaian materi.

Guru SDN 2 Penukal Utara, Yeni, mengatakan edukasi lingkungan penting karena kebiasaan menjaga kebersihan perlu dibentuk sejak sekolah dasar.

"Saya sangat mendukung adanya program ini karena tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa untuk peduli pada lingkungan sekitar," ujar Yeni, Senin (28/9/2026).

Metode pembelajaran yang menggunakan permainan juga membuat materi lebih mudah diterima siswa.

Kharir, siswa SDN 3 Penukal Utara, mengaku menikmati kegiatan tersebut karena bisa belajar tanpa hanya duduk mendengarkan penjelasan.

"Kelas belajarnya seru karena aku bisa belajar sambil bermain. Terima kasih kakak-kakak TEP Undip, tetap semangat untuk mengajar," kata Kharir.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Undip, Yusniar Hanani, mengatakan program tersebut memang dirancang agar siswa tidak berhenti pada pengetahuan mengenai penyakit.

Mereka juga perlu mengetahui apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

"Dalam program ini, kami menghadirkan modul pencegahan penyakit berbasis lingkungan hingga stunting. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga praktik interaktif menggunakan media seperti flashcard agar siswa dapat langsung mencocokkan jawaban serta berkomitmen menjaga lingkungannya," ujar Yusniar.

 

Bukan Hanya Persoalan Infrastruktur

Persoalan yang ditemukan di Tempirai Selatan tidak bisa dilepaskan dari konteks pembangunan kawasan transmigrasi.

Kementerian Transmigrasi mendorong pembangunan kawasan transmigrasi dilakukan secara berkelanjutan. Artinya, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai rumah, jalan dan fasilitas fisik, tetapi juga kondisi lingkungan serta kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menegaskan pembangunan kawasan transmigrasi tidak bisa dilakukan secara instan dan tidak boleh mengabaikan lingkungan maupun budaya masyarakat setempat.

"Pembangunan kawasan harus berkelanjutan. Tidak ada yang instan. Pembangunan juga tidak boleh mengabaikan lingkungan dan budaya masyarakat setempat," ujar Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Selasa (11/8/2026).

Dalam konteks Tempirai Selatan, persoalan air bersih dan sampah menjadi bagian dari tantangan tersebut.

Sebab, ketika sebuah kawasan transmigrasi dibangun dan dihuni masyarakat, keberlanjutan kawasan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya fasilitas fisik. Kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat juga ikut menentukan kualitas kehidupan warga.

Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan edukasi lingkungan diarahkan kepada anak-anak.

Kebiasaan sederhana seperti membuang dan memilah sampah, menjaga kebersihan diri serta memahami sumber penyakit diperkenalkan sejak sekolah. Harapannya, pengetahuan tersebut tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terbawa ke rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Dorongan agar temuan di lapangan tidak berhenti sebagai laporan juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono.

Saat berdialog dengan peserta Ekspedisi Patriot di Jayapura, Papua, AHY meminta persoalan yang ditemukan selama ekspedisi diikuti dengan gagasan penyelesaian yang dapat diterapkan.

"Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal," ujar AHY, Kamis (17/9/2026).

Di Tempirai Selatan, pendidikan kesehatan lingkungan menjadi salah satu bentuk respons terhadap persoalan yang ditemukan di lapangan.

Â