Merayakan Tradisi Wiwit Kopi yang Hidup Kembali

Setelah vakum 15 tahun, tradisi Wiwit Kopi di Pegunungan Muria Kudus kembali digelar.

Diperbarui 11 Agustus 2025, 15:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kudus - Aroma seduhan kopi khas Pegunungan Muria tak hanya hadir di dalam cangkir. Harumnya juga menjadi denyut nadi kehidupan bagi warga Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah.

Ranum bunga biji-biji kopi, bukan hanya sekadar komoditas bernilai jual tinggi. Budidaya, panen kopi, hingga proses pengolahan kopi, menjelma sebagai tradisi kearifan lokal turun-temurun bagi warga desa setempat, yang mereka menyebutnya Wiwit Kopi.

Pada tahun ini bersamaan bulan kemerdekaan Agustus, tradisi Wiwit Kopi kembali dilakukan para petani kopi dan warga. Pesta rakyat ini dilakukan di Bukit Guyangan, Desa Japan, setelah vakum selama 15 tahun lamanya.

Rangkaian tradisi diiringi kirab gunungan hasil bumi di Pegunungan Muria. Gunungan berisi buah buahan seperti alpukat, mangga, jeruk pamelo, sayuran dan umbi umbian.

Yang menarik, juga disertakan buah parijoto yang hanya tumbuh di Pegunungan Muria. Selain sesaji gunungan, juga ditampilkan tarian wiwit kopi, hingga prosesi ngruwok atau memetik kopi langsung dari pohonnya. 

Penyelenggaran tradisi Wiwit kopi ini, menandai dimulainya musim panen raya petani kopi di Pegunungan Muria. Mereka memetik kopi yang biasanya dilakukan pada Juli hingga September 2025.

Ketua Desa Wisata Japan, Mutohar mengatakan, tradisi Wiwit Kopi merupakan bentuk syukur atas hasil panen dan mengguyubkan kebersamaan warga di Pegunungan Muria.

"Ini bukan sekadar ritual panen, tetapi simbol budaya yang kami lestarikan agar nilai-nilai lokal tetap hidup," ujar Mutohar kepada Liputan6.com, Senin (11/8/2025).

Pegelaran tradisi Wiwit Kopi ini terasa istimewa. Sebab dihadiri Bupati Kudus Samani Intakoris serta Ketua Komisi E DPRD Jateng. Mereka guyub penuh suka cita membaur bersama warga Japan.

Bupati Kudus didapuk untuk mengawali prosesi ngruwok kopi. Rangkaian ini dilakukan usai doa bersama dan rebutan gunungan hasil bumi.

 

Negeri Kopi di Pegunungan Muria

Uniknya tradisi kearifan lokal warga Japan yang sarat budaya dan nilai nilai religius warisan Sunan Muria, menginspirasi Sam’ani untuk mentahbiskan menjadi ikon budaya dan destinasi wisata unggulan Kota Kretek Kudus. 

"Potensi kopi di Desa Japan, Rahtawu, dan Desa Colo di Pegunungan Muria sangatlag melimpah. Tradisi ini bisa menjadi ciri khas Kudus yang dikenal luas," cetus Sam'ani.

Tak hanya itu, Sam'ani juga menggagas rebranding kopi Muria menjadi 'Kopi Kudus'. Tentunya agar kopi Robusta khas Muria Kudus memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar luar daerah. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah, menilai wiwit kopi sebagai magnet wisata yang mampu menggerakkan ekonomi desa-desa yang berada di kaki Pegunungan Muria.

"Tradisi ini bisa menggugah semangat petani dan pelaku UMKM kopi untuk mengeksplorasi potensi kopi Muria, sehingga mendapat nilai tambah dan naik kelas," terang Mutrikah.

Kemeriahan pagelaran wiwit kopi pada tahun ini, wujud syukur petani kopi Desa Japan dengan panen melimpah. Selain itu, juga meneguhkan identitasnya sebagai 'Negeri Kopi' di kaki Pegunungan Muria.

Â