Dumbeg, Jajanan Khas Rembang yang Dibungkus Daun Lontar

Dumbeg memiliki bentuk mirip kerucut. Daun lontar melingkar dari atas sampai bawah dumbeg, sedangkan bagian atasnya dibiarkan terbuka.

Diterbitkan 20 Juni 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Rembang - Dumbeg merupakan salah satu jajanan tradisional khas Rembang, Jawa Tengah. Berbeda dengan jajanan lainnya yang umumnya dibungkus dengan daun pisang, dumbeg cukup unik karena dibungkus dengan daun lontar.

Dumbeg memiliki bentuk mirip kerucut. Daun lontar melingkar dari atas sampai bawah dumbeg, sedangkan bagian atasnya dibiarkan terbuka.

Konon, dumbeg sudah ada sejak zaman Wlisongo. Bahkan, dumbeg menjadi salah satu bagian dari strategi dakwah Walisongo.

Mengutip dari beberapa sumber, bentuk lonjong dumbeg memiliki filosofi yang menyimbolkan kesuburan laki-laki. Bentuknya yang panjang diartikan sebagai lingga atau alat kelamin laki-laki.

Menariknya lagi, dumbeg biasanya disajikan bersama jadah genduk yang bentuknya mirip yoni atau alat kelamin perempuan. Perpaduan dua jajanan ini konon menyimbolkan kesuburan pasangan.

 

Makna Religius

Makna religius juga menjadi filosofi lain yang melekat pada jajanan ini. Pembungkus daun lontar diartikan sebagai penanda adanya sifat tawaduk atau kerendahan hati. Hal ini karena daun lontar tumbuhnya selalu menunduk. Sementara itu, lilitan lontar uang mirip seperti tangga diibaratkan sebagai hidup yang harus terus penuh usaha, dari hal kecil hingga besar.

Melalui dumbeg, masyarakat Rembang memperoleh filosofi tentang memahami perjalanan manusia untuk memperoleh manisnya kehidupan. Semuanya dapat dijalani dengan tekun, tawaduk, bersabar, berilmu, serta bersih lahir dan batin.

Dengan filosofi tersebut, tak heran jika dumbeg juga menjadi sajian dalam berbagai upacara adat maupun tradisi sakral, salah satunya pernikahan. Jajanan bercita rasa manis ini juga kerap hadir saat Idulfitri.

Penulis: Resla