Hasil Sidak Menteri LH di Kawasan Industri Nikel Morowali

Jika industri tidak disiplin, maka rakyat yang menanggung akibatnya.

Diperbarui 31 Mei 2025, 22:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Morowali - Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq melakukan kunjungan kerja ke Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Bahodopi, didampingi jajaran pejabat teknis serta pemerintah Kabupaten Morowali, Kamis-Jumat (29-30/5).

Kunjungan tersebut merespon sejumlah tindakan dugaan pencemaran dan potensi bencana ekologis di kawasan industri pengolahan dan pemurnian nikel di Morowali, Sulawesi Tengah

Kunjungan ini menyasar beberapa titik rawan, termasuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bahomakmur milik PT IMIP, area terdampak banjir di PT ONI, dan unit smelter PT ITSS yang sebelumnya mengalami ledakan fatal. Pemeriksaan lapangan mengungkap sejumlah praktik yang membahayakan lingkungan dan keselamatan warga sekitar.

Di TPA Bahomakmur, ditemukan praktik open dumping yang berisiko mencemari tanah dan air. Di kawasan PT ONI, air banjir dialirkan langsung ke laut tanpa pengendalian limbah memadai. Aktivitas pembuangan slag nikel dan tailing di sejumlah titik juga dinilai tidak diawasi secara teknis, meningkatkan kekhawatiran akan pencemaran logam berat.

Sementara itu, PT ITSS tercatat memiliki 26 sumber emisi tak bergerak, namun hanya sebagian yang diawasi melalui sistem Continuous Emission Monitoring System (CEMS). Perusahaan ini juga menjadi sorotan setelah insiden ledakan tungku pada 24 Desember 2023 menewaskan 21 orang dan melukai puluhan lainnya.

“Ini bukan hanya soal pelanggaran administratif. Ini soal nyawa, soal masa depan lingkungan, dan soal tanggung jawab. Negara akan hadir lebih kuat dan lebih tegas,” tegas Menteri Hanif dalam peninjauan langsung.

Menteri Hanif menegaskan pentingnya tata kelola industri yang mengutamakan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa negara tidak akan membiarkan pengabaian regulasi lingkungan berlangsung terus-menerus.

“Negara tidak boleh lengah. Kita hadir untuk memastikan bahwa keselamatan lingkungan dan manusia menjadi prioritas. Tidak boleh lagi ada bencana akibat abainya tata kelola industri terhadap lingkungan,” ujarnya.

Usai meninjau kawasan industri, Menteri Hanif turut mengunjungi desa-desa terdampak banjir di Desa Labota Kecamatan Bahodopi yang lokasinya berdekatan dengan wilayah operasi PT Walcin dan PT Kinriu. Dalam kunjungan tersebut, ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menegaskan akan memberikan teguran keras kepada perusahaan yang terbukti lalai dalam menjalankan tanggung jawab pengelolaan lingkungan secara benar.

“Jika industri tidak disiplin, maka rakyat yang menanggung akibatnya. Saya minta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan ini untuk segera berbenah. Kami tidak akan ragu memberikan sanksi bagi yang melanggar,” tegas Menteri.

Pemerintah mengajak seluruh pelaku industri untuk lebih proaktif dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang patuh dan keberlanjutan,  tidak sekadar mengejar keuntungan. Kepada masyarakat, Menteri juga menghimbau untuk tidak segan melaporkan indikasi pencemaran atau aktivitas berisiko di sekitar lingkungan mereka.

“Kepatuhan terhadap lingkungan bukan hanya kewajiban hukum, tapi tanggung jawab moral kita bersama. Mari jaga bumi Morowali ini agar tetap layak dihuni dan lestari untuk generasi mendatang,” katanya.