Sukses

Tetap Waspada, Sisa Material Banjir Lahar Dingin Masih Ada di Hulu Sungai Marapi

Selain merusak vegetasi yang ada, sejumlah titik terdampak juga masih terdapat sisa sedimen yang masih tertahan di atas lereng gunung dan sekitar aliran sungai.

Liputan6.com, Padang - Lebih dari sepekan sejak kejadian banjir lahar dingin yang melanda sejumlah daerah di kawasan Gunung Marapi Sumatera Barat, tetapi sisa-sisa petaka pada Sabtu (11/5/2024) masih terlihat jelas di wilayah terdampak.

Begitu juga di bagian hulu sungai yang membawa material banjir lahar dingin. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melakukan pengamatan udara di wilayah terdampak bencana banjir lahar hujan dan tanah longsor di sekitar lereng Gunung Marapi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, pengamatan visual tersebut dilakukan dengan berfokus pada titik lokasi terdampak, dan kawasan hulu sungai di Gunung Marapi, khususnya pada bagian alur sungai dengan vegetasi yang rusak akibat diterjang debit air banjir.

"Pengamatan jejak ketinggian air di dinding tebing dari vegetasi yang tersapu air akan memberikan gambaran debit air saat bencana terjadi," katanya melalui keterangan tertulisnya yang dikutip pada Senin (20/5/2024).

Pengamatan udara juga bertujuan guna melakukan pemetaan potensi lokasi-lokasi yang akan dibangun sabo dam sebagai upaya mitigasi untuk mencegah bencana serupa di kemudian hari.

"Selain merusak vegetasi yang ada, sejumlah titik terdampak juga masih terdapat sisa sedimen yang masih tertahan di atas lereng gunung dan sekitar aliran sungai. Berdasarkan hasil pengamatan, sedimen tersebut merupakan sisa dari banjir lahar hujan yang terjadi," sebutnya.

Peneliti PVMBG Mamay Sumaryadi usai melakukan tinjauan menjelaskan, sebagai tindak lanjut dari pengamatan ini, pihaknya akan menghitung terlebih dahulu sisa sedimen yang masih tertahan di atas lereng dan sekitar aliran sungai.

"Hasil tersebut nantinya akan menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menentukan titik lokasi pembuatan sabo dam yang direncanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," ungkapnya.

Selain mengamati aliran sungai dan lahar yang tersumbat, sisa sedimentasi dan wilayah terdampak, BNPB-PVMBG juga melakukan pengamatan untuk melihat dan memetakan masih ada atau tidaknya daerah yang berpotensi terdampak.

"Pemetaan tersebut juga akan diusulkan dalam perencanaan pembuatan sabo dam selanjutnya," kata dia.

Kepala PVMBG Hendra Gunawan mengatakan, dari pengamatan tersebut, dirinya bersama tim PVMBG sudah dapat mengidentifikasi area mana yang akan disurvei lebih detail menggunakan drone guna menghitung volume yang masih tersisa. Sehingga, nantinya dapat diketahui berapa besaran volume dam yang dibutuhkan.

"Kemarin bersama BMKG di timur, hari ini di barat jadi kesimpulannya kita sudah bisa mengidentifikasi area mana yang dari tim Badan Geologi dan BNPB yang akan kita survei drone," kata Hendra usai melakukan tinjauan udara.

Seiring dengan masih dinamisnya cuaca di wilayah Sumatra Barat, BNPB juga terus mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan terus menerus selama lebih dari satu jam.

Apabila terjadi, masyarakat yang berada di jalur aliran sungai segera mengevakuasi diri secara mandiri.

Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan peringatan dini, BNPB bersama pemerintah daerah akan memasang rambu penanda zona berbahaya serta sistem peringatan dini banjir lahar dingin.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.