Sukses

HEADLINE: Gempa Beruntun dan Kuat Guncang Majene Sulbar, Waspada Bencana Susulan

Liputan6.com, Majene - Andika bergegas membangunkan sanak saudaranya yang tengah terlelap saat gempa bumi susulan berkekuatan Magnitudo 6,2 mengguncang Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat dini hari (15/1/2021). Seisi rumah langsung berhamburan ke luar, guncangan gempa sangat keras dirasakan. 

"Perabotan rumah saya berjatuhan," kata Andika. 

Di luar rumah warga panik, mereka berbondong-bondong mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Di kepala mereka, tsunami akan segera datang. Situasi itu membuat Kota Mamuju yang biasanya sepi kini ramai lalu lalang orang.

Sambil membawa sanak saudara dan bekal seadanya, mereka tersebar pergi menuju Anjoro Pitu, Pattidi, dan Salleto. Tiga kawasan dataran tinggi yang ada di wilayah Mamuju.

Situasi tambah mencekam lantaran aliran listrik mati, hujan turun, dan kepanikan akibat gempa sebelumnya juga masih terbayang-bayang di kepala mereka. Berdiam diri juga tak ada artinya, dengan penerangan seadanya mereka berduyun-duyung mencari tempat yang lebih tinggi.

Selang beberapa menit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis informasi, gempa Majene berkekuatan Magnitudo 6,2 terjadi Jumat dini hari, (15/1/2021) pukul 02.28 Wita. Gempa berpusat di 2,98 LS, 118,94 BT atau 6 kilometer Timur Laut Majene. Guncangan gempa turut dirasakan di pusat ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, yakni Kabupaten Mamuju yang hanya berjarak 34 kilometer dari pusat gempa. 

Menurut data BMKG, gempa Majene guncangannya dirasakan di daerah Majene dan Mamuju pada skala IV-V MMI serta Palu, Mamuju Tengah, Mamuju Utara, dan Mamasa pada skala III MMI. Pada skala III MMI getaran gempa dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk berlalu.

Sebelumnya, gempa berkekuatan Magnitudo 5,9 juga melanda kawasan itu, Kamis (14/1/2021), pukul 13.35.49 WIB atau sekitar pukul 14.30 Wita. Data BMKG menyebut, gempa Majene pertama ini juga bersifat merusak karena guncangan gempa mencapai skala intensitas VI MMI. Bahkan tidak hanya merusak, gempa pertama juga memicu dampak ikutan gempa (collateral hazard), berupa runtuhan batu (rockfall) di tebing-tebung perbukitan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono kepada Liputan6.com mengatakan, gempa pertama Majene dirasakan juga hingga ke seberang pulau. 

"Dilaporkan banyak warga di Kabupaten Paser dan Balikpapan di Kalimantan Timur ikut merasakan guncangan gempa Majene," katanya.

Daryono mengatakan, gempa Majene pada Kamis siang dipicu sumber gempa Sesar Naik Mamuju (Mamuju Thrust). Sesar ini di lepas pantai sebgai fold-thrust-belt yang sangat aktif. Hal ini sesuai sengan analisis mekanisme sumber BMKG yang menunjukkan pergerakan naik (thrust fault).

"Pusat gempa Majene ini sangat berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969 dengan kekuatan 6,9 pada kedalaman 13 Km," katanya.

Saat itu, gempa dan tsunami menyebabkan 64 orang meninggal, 97 orang luka-luka, dan 1.287 rumah dan tempat ibadah mengalami kerusakan. Dermaga pelabuhan pecah, timbul tsunami dengan ketinggian 4 meter di Pelattoang dan 1,5 m di Parasanga dan Palili.

"Sesar Naik Mamuju memiliki magnitudo tertarget mencapai 7,0 dengan laju geser sesar 2 milimeter/tahun sehingga sesar ini memang harus diwaspadai karena mampu memicu gempa kuat," katanya.

 

 

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 7 halaman

Waspada Potensi Gempa Susulan

Meningkatnya kekuatan gempa susulan menjadi Magnitudo 6,2 dari sebelumnya Magnitudo 5,9 membuat gempa kedua menjadi lebih merusak dan lebih luas cakupan dampaknya.

Daryono memberi contoh, jika kondisi bangunan dampak gempa kemarin sudah mengalami retak-retak atau rusak sebagian, maka dengan terjadinya gempa yang lebih kuat ini, dampak kerusakan akan lebih lebih parah.

Seperti halnya gempa pertama kemarin, dampak gempa kedua tadi pagi dini hari tadi menyebabkan guncangan gempa dirasakan di Majene dan Mamuju mencapai skala intensitas V-VI MMI (memicu kerusakan), sedangkan di Palu, Mamuju Tengah, Mamuju Utara dan Mamasa mencapai skala intensitas III-IV MMI (benda-benda terpelanting)

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, baik gempa signifikan pertama dan kedua yang terjadi merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar aktif Mamuju-Majene Thrust. Mekanisme sesar naik ini mirip dengan pembangkit gempa Lombok 2018, di mana bidang sesarnya membentuk kemiringan ke bawah daratan Majene.

"Sejak Kamis 14 Januari 2021 pukul 13.35.49 WIB hingga pagi ini Jumat 15 Januari 2021 pukul 06.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi gempa sebanyak 28 kali di Majene," katanya.

BMKG terus mengingatkan warga di Mamuju dan Majene untuk tetap waspada. Gempa susulan masih akan terus terjadi, seperti lazimnya usai gempa kuat akan diikuti rangkaian gempa susulan, untuk itu masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan gempa susulan yang kekuatannya signifikan.

"Melihat gempa tadi pagi, gempa kemarin statusnya menjadi gempa pembuka," kata Daryono.

Untuk sementara saat ini, gempa yang terjadi pada Jumat dini hari statusnya menjadi gempa utama (mainshocks), semoga status ini tidak berubah dan justru akan meluruh, melemah hanya terjadi gempa susulan (aftershocks) dengan kekuatan yang terus mengecil dan kembali stabil.

Masyarakat yang tempat tinggalnya sudah rusak atau rusak sebagian, diimbau untuk tidak menempatinya lagi, karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh.

Selain itu, masyarakat yang yang bermukim di kawasan perbukitan dan tebing curam juga perlu waspada. Pasalnya gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rock fall). Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil.

BMKG juga mengingatkan warga Majene yang tinggal di pesisir, untuk segera meninggalkan wilayahnya jika merasakan gempa kuat, tanpa menunggu peringakatan dari pihak BMKG. Merunut sejarahnya, pada 1969 gempa yang memicu tsunami pernah terjadi di kawasan tersebut.

"Masyarakat juga jangan percaya hoaks mengenai prediksi dan ramalan gempa yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi tsunami," katanya. 

3 dari 7 halaman

Dampak Gempa dan Cerita Penyelamatan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene Jumat pagi (15/1/2021) merilis kabar, akibat gempa bumi beruntun di Sulbar tersebut, setidaknya 8 orang meninggal dunia dan lebih dari 600 orang lainnya mengalami luka-luka. 

Data terbaru Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 15 Januari 2021, pukul 14.00 WIB menyebut, sebanyak 34 orang meninggal dunia akibat gempa Sulbar Magnitudo 6,2. Dengan rincian, 26 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 8 orang di Kabupaten Majane.

BPBD Mejene juga mencatat, ada 62 unit rumah rusak, 1 unit puskesmas rusak berat, 1 kantor danramil Maluda rusak berat, jaringan listrik padam, komunikasi selular tidak stabil, dan longsor di 3 titik sepanjang jalan poros Majene – Mamuju.

Sedangkan di Kabupaten Mamuju, BPBD setempat menginformasikan kerusakan berat, antara lain Hotel Maleo, kantor Gubernur Sulawesi Barat dan sebuah mini market. Jaringan listrik dan komunikasi selular juga terganggu di wilayah Mamuju. Pantauan Liputan6.com di lokasi, kerusakan rumah warga di Mamuju sangat masif sehingga belum bisa terdata dengan pasti.

Namun demikian, yang pasti banyak sekali warga yang rumahnya mengalami kerusakan, selain juga fasilitas umum, seperti rumah sakit dan tempat ibadah, akibat gempa beruntun tersebut. Salah satunya Rumah Sakit Mitra Manakarra, yang gedungnya ambruk dan membuat 8 orang terjebak di dalam reruntuhan bangunan.

Muflih salah seorang Bidan di RS Mitra Manakarra mengatakan, kedelapan korban itu terdiri dari dua orang perawat, satu pegawai apotek, empat orang pasien berpasangan, dan satu bayi yang berada di dalam inkubator. Mereka terjebak karena tidak sempat menyelamatkan diri saat gempa bumi menggunjang Majene dan Mamuju untuk kedua kalinya.

"Empat korban terdeteksi masih hidup, karena beberapa saat yang lalu, saat subuh mereka masih meminta pertolongan. Sedangkan empat lainnya belum diketahui kondisinya," katanya kepada Liputan6.com, Jumat pagi (15/1/2021).

Ibnu Imat Totori, salah seorang anggota tim penyelamat mengatakan, tidak adanya alat berat menyulitkan pihaknya untuk mengevakuasi korban dengan cepat dari reruntuhan beton bangunan rumah sakit.

Guncangan gempa kedua yang dirasakan begitu kuat, juga membuat bangunan kokoh Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang beralamat di Jalan Abdul Malik Pattana Endeng, Rangas, Kecamatan Simboro Dan Kepulauan, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, luluh lantak rata dengan tanah. Tak hanya itu, bahkan dua petugas keamanan yang sedang berjaga malam di kantor tersebut ikut tertimbun reruntuhan bangunan, lantaran tak sempat menyelamatkan diri saat terjadi gempa.

Menurut pantauan Liputan6.com di lokasi, Jumat siang (15/1/2021), tim gabungan yang bertugas di lokasi telah berhasil mengevakuasi dua petugas keamanan Kantor Gubernur Sulbar atas nama Isra dan Rahmat, setelah 11 jam keduanya bertahan di dalam reruntuhan bangunan.   

Terkait hal itu, Kepala BPBD Sulawesi Barat, Darno Majid kepada Liputan6.com menjelaskan, kedua petugas itu berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.50 Wita, setelah tim gabungan mengerahkan tiga unit alat berat. 

"Alhamdulillah mereka sudah selamat, saat ini sudah kita evakuasi ke rumah sakit," kata Darno.

Sedangkan, Provos Regu II Kemanan Kantor Gubernur Sulawesi Barat, Muhammad Effendy bersyukur kedua rekannya berjaga saat peristiwa itu terjadi berhasil selamat. Ia menceritakan, kedua rekannya itu tengah berjaga di area lobi kantor Gubernur Sulawesi Barat saat gempa bumi.

"Mereka tidak bisa menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Karena bangunan kantor tiba-tiba roboh sesaat setelah gempa. Saya juga tidak tahu mau berbuat apa, selain mencari pertolongan. Alhamdulillah mereka selamat," katanya.

 

4 dari 7 halaman

Menilik Sesar Aktif Lain

Usai gempa beruntun melanda Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika meminta masyarakat Papua dan Papua Barat waspada. Pasalnya di wilayah itu ada pergerakan 9 sesar atau patahan yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan gempa bumi.

Kepala Sub Bidang Pengumpulan dan Penyebaran Balai BMKG Wilayah V Jayapura Dedy Irjayanto, Jumat (15/1/2021) mengatakan, sepanjang 2020 terjadi 1.597 kali gempa di kedua provinsi akibat pergerakan 9 sesar tersebut.

"Sembilan sesar atau patahan yang wajib diwaspadai masyarakat di Papua dan Papua Barat karena pergerakannya yang sangat aktif, hal inilah yang memicu rawan terjadi gempa bumi tektonik," katanya.

Menurut Dedy, adapun 9 sesar aktif di Papua ini meliputi Sesar Sorong di Sorong dan Sesar Ransiki di Ransiki pada wilayah Papua Barat, sementara di wilayah Papua adalah Sesar Yapen di wilayah Serui dan Biak, Zona Patahan Waipoga, Wandamen, Sesar Sungkup Weyland di Nabire dan sekitarnya, Zona Lajur Anjak Mamberamo di wilayah Sarmi dan sekitarnya, Zona pengangkatan Cycloop di Jayapura dan sekitarnya serta Lajur Anjak Pegunungan Tengah di wilayah Wamena dan sekitarnya.

"Warga yang bermukim di sembilan jalur sesar ini harus meningkatkan mitigasi karena wilayah Papua dan Papua Barat merupakan kawasan rawan terjadi gempa," ujarnya.

Dia menjelaskan sepanjang 2020 terjadi 1.597 kali gempa bumi tektonik dengan klasifikasi gempa bumi signifikan atau dirasakan mencapai sebanyak 58 kali.

"Adapun ditinjau dari sisi kekuatan magnitudo, 1.597 gempa ini meliputi 1.420 kali gempa dengan kekuatan di bawah magnitudo empat, 165 kali gempa dengan magnitudo empat hingga lima dan 12 kali gempa dengan magnitudo di atas lima," katanya.

Dia menambahkan ditinjau dari kedalaman, gempa bumi tersebut didominasi oleh gempa bumi dangkal dengan kedalaman kurang dari 70 kilometer sebanyak 1.516 kali, gempa bumi kedalaman menengah dari 71 hingga 80 kilometer sebanyak 20 kali gempa dan satu kali gempa dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer.

"Gempa ini juga rawan memicu gelombang tsunami dalam waktu beberapa menit saja," katanya.

Dirinya menjelaskan, potensi tsunami apabila terjadi gempa bumi di atas magnitudo tujuh dan kedalaman dangkal, maka warga harus segera mencari tempat yang aman.

"Masyarakat bisa segera melakukan mitigasi bencana dan evakuasi mandiri dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku ketika terjadi gempa bumi berkekuatan besar," ujarnya menambahkan.

 

5 dari 7 halaman

Penanganan dan Revitalisasi Pascagempa

Presiden Joko Widodo bersama jajaran terkait langsung bergerak cepat melakukan penanganan dan upaya revitalisasi pascagempa di yang terjadi di Mamuju dan Majene Sulawesi Barat. Jokowi mengimbau masyarakat di lokasi tersebut untuk tetap tenang. 

"Ikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh petugas di lapangan," kata Jokowi melalui Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (15/1/2021).

Presiden Jokowi juga sudah meminta Gubernur Sulbar bergerak cepat terkait langkah-langkah penanggulangan bencana. Bahkan, menginstruksikan Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Panglima TNI, Polri, dan Menteri Sosial, untuk mengambil langkah tanggap darurat.

"Untuk segera melakukan langkah-langkah tanggap darurat, mencari dan menemukan korban, serta melakukan perawatan kepada korban yang luka-luka," kata Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyampaikan belasungkawa atas korban yang meninggal dunia akibat gempa di Majene dan Mamuju.

"Saya atas nama pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia menyampaikan duka yang mendalam atas korban yang meninggal dunia," kata Jokowi.

Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang Majene, Sulawesi Barat pada Jumat dini hari (15/1/2021). Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menerjunkan personelnya untuk membantu evakuasi korban dari reruntuhan.

"Kami Basarnas telah menurunkan Tim SAR di Mamuju dan saat ini telah ada di lokasi dan sudah langsung beraksi melaksanakan evakuasi korban di dalam bangunan-bangunan runtuh," kata Kepala Basarnas (Kabasarnas) Bagus Puruhito di International Container Terminal (JICT) 2, Jakarta Utara, Jumat (15/1/2021).

Bagus menerangkan, Basarnas juga mengirim tim SAR beserta regu penyelamat dari Makassar menggunakan KN SAR Kamajaya dan dari Balikpapan menumpangi KN SAR Wisanggeni. Sementara Tim SAR dari Palu berangkat ke Majene dan Mamuju melalui jalan darat.

Bagus menyampaikan, tim SAR dari Jakarta juga ada yang diterjunkan ke lokasi. Mereka terbang menggunakan pesawat Hercules dari TNI AU.

"Yang dari Jakarta berangkat ke Mamuju, kita sertakan satu tim urban SAR dari pusat. Kami lengkapi dengan peralatan tambahan untuk alat ekstrikasi terurama pada bangunan-bangunan runtuh," katanya.

Sementara itu, sudah ada 10 titik lokasi pengungsian di Kabupaten Majene, antara lain di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua yang terdapat di Kecamatan Ulumanda, Kecamatan Malunda serta Kecamatan Sendana. Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat 5 titik pengungsian yang berada di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro.

6 dari 7 halaman

Infografis

7 dari 7 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: