Sukses

Mengembalikan Kemasyhuran Vanili Jawa, Emas Hijau Primadona Dunia

Liputan6.com, Cilacap - Tanah Nusantara pernah begitu terkenal di dunia dengan produksi rempahnya. Salah satu yang bernilai tinggi adalah vanili.

Di dunia, vanili Indonesia diakui paling berkualitas dan bahkan mengalahkan negara muasal vanili, Perneli atau Panili, Meksiko. Dilintasi garis khatulistiwa dengan garis edar matahari yang begitu dekat membuat vanili Indonesia digandrungi dunia.

Bahkan, masyarakat Eropa punya julukan khusus untuk vanili Indonesia, 'Java Vanilla Beans'. Diartikan secara harafiah, berarti 'polong vanili Jawa', meski tak semua vanili Indonesia berasal dari Pulau Jawa.

Hingga kini, masyarakat di pedesaan masih ada yang membudidayakan vanili, meski tak seintensif pada masa jayanya, di kisaran sebelum tahun 1980-an.

Dalam berbagai literatur, vanili disebut masuk ke Indonesia dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda langsung dari negara asalnya pada abad 19. Ternyata, produktivitas dan kualitasnya justru mengalahkan negara asal vanili, Meksiko.

"Dulu pernah harga Rp 60 ribu per kilogram, kemudian jatuh jadi Rp 4.000. Jadi, masyarakat malas membudidayakan vanili," kata Ibnu Ansari, petani vanili yang tampak begitu paham dengan perjalanan bisnis vanili di Indonesia.

Jangan salah, Rp 60 ribu yang disebut Ibnu adalah rupiah pada tahun 1970-an. Dia memang tak membandingkan nilai nominalnya sekarang. Tetapi, menurutn dia, menjual panenan vanili saat itu akan membuat seorang petani kaya dadakan.

Namun, mendadak, harga vanili jatuh. Ada yang menyebut, lantaran petani dan pemasok nakal.

Mereka mengoplos vanili berkualitas A dengan vanili muda. Konon pula, ada polong vanili kering yang disuntik dengan pasir besi, sehingga bobotnya bertambah.

Bagi petani, harga rendah itu tak sepadan dengan biaya tinggi dan repotnya merawat vanili, mulai dari perawatan tanaman, mengawinkan vanili, merawat polong, panen, dan cara pengolahan pascapanennya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Vanili Sistem Multikultur untuk Investasi Jangka Panjang

Budidaya vanili sampai menyebabkan orang memiliki ujaran khusus. "Repotnya seperti mengurus bayi," ujar petani Majenang Kabupaten Cilacap ini.

Banyak petani yang lantas membabat habis vanilinya. Di kebun-kebun, vanili yang tersisa adalah bekas tanaman yang bertahan dari kepunahan yang disengaja.

Barangkali, vanili yang tersisa itu adalah merambat, membelit, dan diam-diam bersembunyi di antara rerimbunan semak atau pepohonan nan lebat.

Selama lebih dari 15 tahun, vanili tak dilirik. Ia hanya menjadi pelengkap kebun-kebun warga desa. Menjalar di pagar hidup kebun atau pepohonan.

Roda terus berputar, zaman pun berganti. Nasib vanili beberapa tahun belakangan ini membaik.

Bahkan, di pasar dunia vanili kering kualitas terbaik mencapai harga Rp 7 juta. Di tingkat petani, vanili dihargai kisaran Rp 3,5 juta hingga Rp 4,5 juta.

Harga vanili membaik dan terus naik, sesuai dengan julukannya, si emas hijau. Konon ceritanya, lantaran pasokan vanili dunia berkurang jauh.

"Kalau pengalaman saya, tiap 10 tahun pasti ada siklus harga rempah. Kadang tinggi, kadang juga tiba-tiba jatuh," Ibnu berujar.

Selain membudidayakan vanili, Ibnu memang menanam merica, kemukus dan beberapa jenis kayu keras. Menurut dia, kayu-kayu itu sekaligus sebagai investasi jangka menengah dan panjang, selain fungsinya sebagai naungan dan rambatan.

Kini, vanili di kebun milik Ibnu memang tak terlampau banyak. Vanili mesti berbagi tempat dengan kemukus dan merica.

3 dari 3 halaman

Memulai Kembali Era Kejayaan

Diperkirakan hasil panen nanti di kisaran 30 kilogram vanili basah atau jika dikeringkan mencapai 3-4 kilogram. Soalnya, sejak dua tahun lalu, Ibnu meremajakan sebagian besar tanaman vanili yang sempat terserang penyakit atau sudah tak produktif lantaran sudah tua.

Namun, diperkirakan panen vanilinya akan bertambah tinggi tahun esok dan tahun berikutnya seturut berproduksinya tanaman vanili yang kini berumur rata-rata dua dan satu tahun.

Salah satu yang mengikuti jejak Ibnu membudidayakan vanili adalah Rahmat, warga Sepatnunggal, Majenang. Dia mengenal vanili dari guru SD-nya yang asal Yogyakarta.

Saat itu, dia menyebut banyak petani yang membudidayakan vanili. Tetapi, tak lama kemudian harga vanili jatuh dan menyebabkan petani membabat habis vanilinya.

"Bibit yang saya dapat itu tadinya merambat di pohon, tinggalan orang tua. Saya ingat, terus saya tanam lagi di kebun dan pekarangan," ucap Rahmat.

Dia sempat mencicipi harga tinggi, saat vanilinya dibeli dengan harga Rp 300 ribu vanili basah kualitas A dan Rp 200 ribu-an untuk vanili kualitas di bawahnya.

Sayangnya, saat mengecap manisnya harga vanili, pekarangannya beralih fungsi. Ia mendirikan bengkel sepeda motor dan las.

Belakangan, empat bulan lalu, ia juga membangun rumah, berimpitan dengan bengkelnya sekarang. Vanilinya pun banyak berkurang.

"Saya menanam lagi di kebun sama pekarangan. Cuma sekarang kan masih muda, baru usia tiga bulan," Rahmat menuturkan.

Petani-petani mulai kembali menanam vanili. Barangkali di tangan-tangan mereka-lah “Java Vanilla Beans” bakal kembali berjaya di dunia.

Loading