Sukses

Salam Pagi dari Maratua, Maladewa-nya Indonesia

Liputan6.com, Balikpapan - Jaraknya cukup jauh dari Pulau Derawan. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan perahu cepat alias speed boat untuk menuju salah satu pulau indah di jajaran Kepulauan Derawan ini.

Setelah membelah hamparan biru Laut Sulawesi, terlihat-lah pemandangan tak terlupakan begitu melihat Pulau Maratua. Pemandangan yang membalas rasa lelah terombang-ambing ombak yang cukup kuat.

Rasa tak sabar ingin menjejakkan kaki di pulau yang dikelilingi lautan berwarna toska itu. Decak kagum para wisatawan yang akhirnya sampai di pulau yang konon disebut-sebut sebagai Maladewa-nya Indonesia itu.

Pulau Maratua, sebuah pulau yang berpenduduk sekitar 3 ribu kepala keluarga dalam empat kelurahan ini memang memiliki pemandangan yang maha indah. Air lautnya yang bening, menyegarkan mata yang memandang kuasa Tuhan itu.Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Liputan6.com/ Ramdania El Hida)Beberapa jenis ikan berlalu lalang di sekitar pantai. Ada ikan nila, kue, lumba, bahkan anak-anakan hiu menemani para pengunjung pantai menikmati hangatnya air laut.

Tito, salah seorang penjaga di Pulau Maratua ini menyebutkan untuk singgah dan menikmati pulau ini, hanya dikenai biaya sebesar Rp 40 ribu. "Kalau pendatang dari pulau lain, bayar Rp 40 ribu plus minum dan menggunakan fasilitas di cottage ini," kata dia.

Dia mengaku memang biaya penginapan di Pulau Maratua terbilang lebih mahal dibanding di pulau lain di Kepulauan Derawan. Untuk VIP, yakni penginapan yang berada di atas laut, harganya dipatok Rp 1,1 juta per kepala per hari.

"Harga ini untuk paket minimal 3 orang, kalau cuma seorang atau dua orang, harganya lain," ujar Tito.

Namun, penginapan yang berada di pinggir pantai atau masuk ke dalam pulau, harganya jauh lebih murah, "Ada juga paket yang harganya Rp 660 ribu per kepala per hari sudah dapat makan," Tito menambahkan.Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Liputan6.com/ Ramdania El Hida)Selain menikmati pemandangan yang indah, pengunjung juga bisa mencicipi makanan khas Kepulauan Derawan yang berbahan dasar balelo, hewan sejenis kerang. Jika ingin membeli balelo, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 150 ribu per kilogram.

"Anak-anak di sini suka ambil balelo, lalu dijual. Biasanya di pantai sekitar sini banyak balelo," Tito menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Sambut Pagi di Balik Beningnya Air Laut Pulau Derawan

Sinar matahari membias di balik awan tipis yang menutupi sudut timur Pulau Derawan, Kalimantan Timur. Waktu menunjukkan pukul 05.00 Wita, sesaat warga pulau itu melaksanakan salat Subuh berjemaah.

Belum banyak aktivitas kala itu. Laki-laki berkopiah yang pulang dari masjid, para perempuan yang menyiapkan keperluan rumah tangganya, sejumlah nelayan yang sedang merapikan speed boat-nya, dan wisatawan yang sudah terjaga di beberapa kamar resor pulau itu.

Pulau Derawan yang terkenal dengan kejernihan airnya ini merupakan salah satu pulau di wilayah timur Kalimantan Timur. Dalam kelompok Kepulauan Derawan, pulau ini didampingi pulau lain seperti Pulau Maratua, Pulau Kakaban, dan Pulau Sangalaki.

Tidak hanya wisatawan yang tinggal di pulau ini, ada sekitar 1.000 kepala keluarga yang merupakan penduduk asli pulau ini. Mereka kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan.

"Mayoritas penduduknya nelayan, cuma sekarang sudah ada yang alih profesi jadi motoris (istilah untuk sopir speed boat), wirausaha. Cuma yang jadi PNS atau kantoran tidak ada," ujar Ade, salah seorang pengelola wisata di Pulau Derawan ini, Kamis, 26 Oktober 2017.

Memang, semenjak wisata ke Pulau Derawan ini marak, aktivitas warga di pulau ini pun mulai menggeliat. Terlihat beberapa rumah menjadi pusat suvenir atau membuka jenis usaha lain, seperti warung makan, toko kelontong, bahkan tempat penyewaan sepeda.

Di sekitar pulau ini hidup sejumlah biota laut yang menjadi incaran wisatawan untuk berfoto. Ada penyu dan berbagai jenis ikan. Bergeser sedikit ke arah Pulau Maratua, wisatawan akan melewati jalur kelompok lumba-lumba. Kalau beruntung, pengunjung bisa bertemu kawanan lumba-lumba.

"Sesuai aturan, kami mengingatkan kepada para pengunjung, boleh berfoto dengan biota laut apa saja cuma tidak boleh dipegang," Ade menegaskan.

Matahari mulai beranjak tinggi, riak air laut memancarkan kilauan. Para nelayan pun sudah meluncur ke lautan lepas dengan speed boat. Saatnya bagi para wisatawan mulai menjelajahi warna-warni kehidupan bawah laut di Kepulauan Derawan ini. Semangat pagi!