Sukses

Ikut Kegiatan Mapala, Mahasiswa STMIK Tewas Di Gunung Dempo

Mahasiswa semester awal ini meninggal dunia di Gunung Dempo setelah mengalami hipotermia saat ikut kegiatan mapala.

Liputan6.com, Palembang Kasus meninggalnya peserta kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) kembali terjadi. Kali ini dialami oleh salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Managemen Informatika dan Komputer (STMIK) Palcomtech Palembang, Febrianto Akbar (20).

Mahasiswa semester awal ini meninggal dunia di Gunung Dempo, Kabupaten Pagaralam, Sumatera Selatan (Sumsel) setelah mengalami hipotermia atau kedinginan yang akut.

Saat itu, Oky, sapaan akrabnya bersama kelima temannya sedang mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar oleh Mapala Pajarpala STMIK Palcomtech.

Diungkapkan Ade Putri (23), kakak korban, adiknya sudah meminta izin ke orang tuanya jika ingin mendaki Gunung Dempo bersama peserta dan panitia mapala dikampusnya. Mereka akhirnya berangkat pada tanggal 18 Febuari 2017 ke Pagaralam.

Namun pada hari Minggu, 26 Februari 2017 malam, sekitar pukul 21.00 WIB, dirinya mendapati kabar bahwa adik bungsunya sudah meninggal dunia saat mengikuti kegiatan mapala di Gunung Dempo.

"Awalnya ada temannya yang menanyakan dimana rumah Oky, dari situ kami sudah cemas. Lalu, Kepala Kemahasiswaan kampusnya memberitahu kalau Oky sudah meninggal," ujarnya kepada Liputan6.com, saat ditemui dirumah duka di Palembang, Senin (27/2/2017).

Para keluarga pun tampak syok mendengar kabar tersebut. Karena sebelum Oky berangkat, tidak ada sama sekali ada tanda-tanda buruk. Pada Senin pagi ini, pihak kampus STMIK Palcomtech mendatangi rumah duka di Jalan Kadir TKR, Lorong Muda Sepakat No. 607,Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1 Palembang.

Pihak kampus lalu menyatakan permohonan maaf dan akan membantu pihak keluarga yang sedang berduka. Jenazah korban pun langsung diantarkan dari Pagaralam ke Palembang pada Minggu malam.

"Tidak ada kekerasan yang dialami Oky, mungkin dia kelelahan. Kita juga tidak menyalahkan siapapun, mungkin ini sudah takdirnya," ujarnya.

Sang adik yang merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara ini memang tidak pernah mengikuti kegiatan yang menguras fisik. Bahkan, lanjut Ade, jika merasakan kelelahan yang parah, adiknya akan mengalami sesak nafas dan tidak bisa merasakan udara dingin dengan suhu yang tinggi.

Kesedihannya pun menjadi setelah Ade teringat bahwa sang adik baru saja merayakan ulang tahunnya ke-20 pada 10 Febuari 2017 kemarin.

“Kalau pulang dari pendakian gunung, Oky bilang mau beli handphone android keluaran terbaru. Kita tidak menyangka kalau jadinya seperti ini,” katanya.

Oky sudah lama meminta izin kepada orangtuanya agar diperbolehkan mendaki gunung. Namun barulah saat kegiatan organisasi di kampusnya, Oky mendapatkan izin ikut mapala.

Dimata Ade, sang adik merupakan anak yang paling pintar dan punya segudang prestasi. Bahkan saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Warga 2 Palembang, Oky selalu menyabet juara kelas hingga juara umum. Terlebih Oky sangat fasih berbahasa Inggris.

Jenazah Oky sampai dirumah duka pada Senin pagi, sekitar pukul 09.00 WIB. Pihak keluarga langsung memakamkan Oky di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pancasila pada Senin siang.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Alami Hypothermia Akut

Meninggalnya Oky disinyalir karena mengalami hipotermia atau kedinginan dalam tingkat yang akut. Saat memulai pendakian Gunung Dempo pada Sabtu pagi, enam orang peserta Bimtek Mapala Pajarpala Palembang didampingi 15 orang panitia yang merupakan anggota Mapala Pajarpala Palembang.

Ketika mencapai di ketinggian sekitar 2.500 Mdpl, tepatnya dibawah jalur Cadas Gunung Dempo, Oky dan peserta lainnya terserang hipotermia. Namun hanya Oky yang mengalami hypothermia akut.

Pihak panitia langsung memberikan berbagai pertolongan pertama, seperti memberikan bantuan oksigen, nafas buatan hingga menyelimuti seluruh tubuh korban dengan menggunakan kertas Alumunium Foil.

Karena melihat kondisi Oky yang belum membaik, beberapa orang panitia langsung turun ke Kampung IV Pagaralam untuk meminta bantuan. Sedangkan panitia lainnya bertugas menjaga Oky dan peserta lainnya.

“Kita turun pada Sabtu malam sekitar pukul 21.00 WIB dan sampai dikampung warga pukul Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB,” ungkap Hendro, panita Bimtek Mapala Pajarpala STMIK Palcomtech Palembang.

Mereka langsung meminta bantuan kepada warga dan menceritakan kondisi salah satu peserta kegiatannya. Karena kondisi larut malam dan cuaca tidak mendukung, barulah Minggu pagi para warga secara bertahap menyusul ke lokasi peserta.

Sekitar Minggu sore, barulah para warga sampai ke lokasi dan langsung mengevakuasi korban dan peserta lainnya. Oky langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan dinyatakan meninggal dunia oleh pihak medis pada Minggu malam.

“Saat turun, kita tidak tahu apakah Oky masih hidup atau sudah meninggal, kita hanya langsung turun dan meminta bantuan saja,” katanya.

Pihaknya pun menyangkal kabar yang beredar bahwa peserta meninggal saat ditinggal panitia dan peserta lainnya. Menurut Hendro, para peserta tidak pernah ditinggal oleh panitia dengan perbekalan peralatan P3K yang lengkap.

Ganda Hutasoit, Pembantu Ketua II Bidang Kemahasiswaan STMIK Palcomtech Palembang mengatakan, kegiatan Bimtek yang digelar sudah sesuai prosedur dan surat izin kegiatan yang lengkap.

“Baru kali ini terjadi tapi tidak ada kekerasan yang dialami korban. Kita juga sudah menyampaikan permintaan maaf dan memberikan bantuan ke keluarga korban. Setelah selesai masalah ini, kita akan evaluasi (Mapala Pajarpala),” ujarnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.