Sukses

Dubes Inggris Takjub Lihat Wanita Berjilbab Naik Motor

Liputan6.com, Yogyakarta - Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, Moazzam Malik, menyatakan kekagumannya atas budaya toleransi Indonesia. Dia mendorong agar pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat membagikan pengalaman ini ke negara-negara lain di dunia.

"Dari semua negara di mana saya pernah bekerja, Indonesia bisa dibilang yang paling sukses dalam melindungi toleransi dan mempromosikan moderasi," kata dia dalam kunjungannya ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dilansir Antara, Kamis (24/11/2016).

Dubes mengaku memperoleh pengalaman yang istimewa dalam kunjungan pertamanya ke Indonesia beberapa tahun silam. Sebagai seorang muslim yang dibesarkan di Inggris ia heran sekaligus kagum melihat seorang perempuan dalam busana Muslim bisa mengendarai sepeda motor di jalanan umum.

Selain itu dia juga takjub saat menghadiri pertemuan di Istana Negara yang dipimpin seorang pemimpin wanita. Hal ini, menurutnya, adalah sesuatu yang tidak bisa ditemukan di banyak negara Muslim lain.

"Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, melihat perempuan memakai jilbab mengendarai sepeda motor. Tapi bagi saya hal itu begitu luar biasa sampai saya langsung mengambil foto dan mengirimkannya pada anak perempuan saya," terang Malik.

"Di beberapa negara muslim ini bisa menimbulkan kontroversi yang begitu hebat."

Malik melihat hal ini sebagai keunikan tersendiri di dalam kehidupan beragama di Indonesia. Dalam skala yang lebih besar dapat menjadi potensi solusi bagi persoalan intoleransi di dunia.

Mahasiswa Inggris Ikut KKN

Malik menyatakan ingin mengirim mahasiswa dari negaranya untuk belajar di Yogyakarta, termasuk menitip mahasiswa mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (KKN UGM).

"Dubes Malik telah menyampaikan secara langsung keinginan negaranya mengirim mahasiswa ke Yogyakarta," kata Rektor UGM Dwikorita Karnawati.

Dia mengatakan ketika 30 tahun yang lalu orang belum bicara tentang 'education for sustainable development' atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, UGM sudah memulainya dengan program KKN.

melalui skema kerja sama, kata Dwikoritas, UGM dapat memfasilitasi mahasiswa Inggris untuk mengikuti KKN, dan tema program tersebut bisa dikaitkan dengan proyek-proyek mengenai pluralitas dan toleransi seperti yang disampaikan oleh Duta Besar Malik dalam kuliah umum.

Selain kerja sama dalam program KKN, Duta Besar dann Rektor juga membahas rencana kerja sama dalam bidang manufaktur melalui "teaching industry" atau Pengajaran Industri yang dibangun oleh UGM.

Bidang kerja sama lainnya adalah di bidang akademik serta kemungkinan kerja sama di bidang-bidang lain antara UGM dengan Kedutaan Besar Inggris dan perguruan tinggi di Inggris.