Sukses

Cerita Warga Pendatang Tiba di Jakarta Mengadu Nasib Demi Rupiah

 

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan orang pendatang diperkirakan akan memadati Ibu Kota, banyak motif dari mereka untuk datang ke Jakarta. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, meski sudah melonggar.

Seperti halnya, Nur pria asal Kudus yang Jumat siang tiba di Jakarta untuk menjalani kehidupan barunya sebagai pekerja di perusahaan swasta. Mengenakan jaket, dia turun dari bus akap di Terminal Kalideres, Jakarta Barat.

Terlihat wajahnya yang kelimpungan untuk kemana dia harus menuju usai turun dari bus. Sempat bertanya ke beberapa orang, untuk kemudian mengetahui area penjemputan angkutan antarkota yang menuju kawasan Jakarta Pusat.

Dengan hangat, Nur memperkenalkan dirinya sebagai pendatang. Sembari duduk di halte, dia mengatakan kalau dirinya datang ke Jakarta ingin mengadu nasib merantau untuk mencari secercah rupiah.

"Mau ke Jakarta Utara ke rumah bule, buat persiapan kerja nanti mas, kebetulan dipanggil kerja," kata Nur saat ditemui di Terminal Kalideres, Jakbar, Jumat (6/5/2022).

Dengan logat Jawa, namun yang fasih juga ketika diajak bahasa sunda terlihat ketika dia memesan secangkir kopi kepada penjual warung kaki lima yang kebetulan berlogat sunda.

"Berapaan teh kopi hidengnya?" tanya Nur.

"Goceng, A," jawab si penjual kopi.

Sembari membayar kopi, Nur mengungkapkan kalau harga kopi di Kudus lenih murah dari Jakarta. "Di Kudus Rp3 ribu. Rp2 ribu aja masih ada yang kaga pakai gula. Mahal ya," ujar dia.

 

 

 

 

2 dari 3 halaman

Kesan Pendatang

Pria lulus UIN Bandung itu, dengan ditemani secangkir kopi sembari menunggu angkot. Lantas bercerita jika alasannya datang ke Jakarta sebelumnya karena memang telah dipanggil kerja.

Usai libur lebaran, kehidupannya sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Barat, semenjak bulan Maret lolos tes interview secara daring barulah nanti di awal Mei pekerjaan itu baru dimulai.

"Seneng mas, bisa kerja di Jakarta. Jarang-jarang kan saya yang baru lulus Desember tahun kemarin, terus bisa dipanggil kerja ke Jakarta lagi," tuturnya.

Menurut Nur, kesempatannya bekerja di Jakarta saat ini juga ikut didukung keluarganya yang ada di Kudus. Bahkan dia sempat dinasehati sang ayah untuk serius dan semangat bekerja di Jakarta.

"Ada, katanya ayah saya dia pesennya harus semangat kerja, jangan lemah. Harus mampu bersaing, soalnya dia ngeliat kalau kerja di Jakarta yang kota gini kan berat ya," ujarnya.

Sedangkan sang ibu lebih menasihat. "Kalau ibu, minta ibadah jangan ditinggalin. Dia mintanya itu aja, biar gusti Allah selalu kasih pertolongan gitu," sambungnya.

Percakapan sempat terhenti, ketika dering telepon Nur berbunyi. Dia terlihat mengangkat telepon dari bibinya dengan suara loudspeaker. Sambil tersenyum, ia saling bercakap-cakap dengan bibinya sembari menyeruput kopi.

Wis tekan le (sudah sampai nak)?”

Sampun bulek (Sudah Bu), alhamdulilah, niki nunggu angkot (Sekarang nunggu angkot),”

Yo wis cepetan, ati-ati yo, karo sopo nunggune (Dengan siapa menunggunya)?,”

“Iki kalihan wartawan, lagi diwawancara bulek. hahaha,”

Loh wawancara opo? Lagi tekan Jakarta ojo macem-macem lho,” ujar sang Bibi.

"Boten, ini cuman wawancara kesane piye lagi pisanan tekan Jakarta. Yowes ya bi aku tutup yo,"

“Oalah yowis, ati-ati yo, bulek tunggu, wassalamuallaikum,”

 

3 dari 3 halaman

Harapan Pendatang

Selepas telepon ditutup, Nur kembali menceritakan harapannya ketika mengadu nasib di Jakarta untuk nantinya bisa menjadi sukses. Hingga membahagiakan kedua orang tuanya di Kudus, bahkan memboyong mereka untuk main ke Jakarta.

"Semoga sukses di sini, kerjaan lancar. Syukur-syukur bisa ajak orang tua main ke Jakarta," tuturnya.

Terkait kondisi Jakarta yang masih dilanda pandemi Covid-19, Nur sudah tak merasa terlalu khawatir. Karena saat ini memang kondisi sudah lebih membaik dan terlebih dirinya telah mendapatkan vaksin dosis tiga alias booster.

"Covid, ya udah kaga khawatir lah. Udah booster juga orang kondisi juga udah kayak gini kan. Beda kalau tahun lalu, baru serem kalau ke Jakarta," katanya.

Menurutnya, angka covid-19 yang sudah bisa dikendalikan dengan kekuatan imun masyarakat yang semakin menguat. Nur berharap, keputusannya untuk merantau mencari secercah rupiah di Jakarta bisa berbuah manis.

Nur mungkin adalah satu dari 30.000 warga pendatang yang diprediksi Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta datang ke Ibukota untuk mengadu nasib disini

"Benar, kami memperkirakan 20.000 sampai dengan 30.000 pendatang baru," kata Kepala Dinas Dukcapil, Budi Awaludin saat dikonfirmasi, Rabu (4/5).

Kendati banyaknya angka warga pendatang nanti, lanjut Budi, pihak Dukcapil DKI belum akan melakukan operasi yustisi terhadap para pendatang ke Jakarta.

"Tidak ada operasi yustisi untuk para pendatang ke Jakarta," tuturnya.

Dia menjelaskan, tidak ada operasi yustisi bagi warga pendatang mengingat bahwa Jakarta merupakan wilayah bagian dari negara kesatuan republik Indonesia.

Artinya, imbuh Budi, seluruh warga Indonesia memiliki kesempatan sama berada di Jakarta. Karena warga pendatang baru pascalibur lebaran merupakan tren yang kerap terjadi.

Hanya saja, berdasarkan data Dinas Dukcapil, pada periode 2020-2021, jumlah warga pendatang mengalami penurunan.

"(Penurunan jumlah warga pendatang) karena pandemi Covid-19," tutupnya.

Berikut data jumlah warga urban Jakarta;

Tahun 2018 151.017 orang

Tahun 2019 169.778 orang

Tahun 2020 113.814 orang

Tahun 2021 138.740 orang.

 

Reporter: Bachtiarudun Alam/Merdeka.com