Sukses

Anies Minta Timnas AMIN Cek Kebenaran Kabar Pembobolan Data Pemilih Pemilu 2024

Liputan6.com, Jakarta Calon presiden (capres) nomor urut satu Anies Baswedan menanggapi terkait informasi soal dibobolnya data pemilih untuk pemilihan umum (pemilu) 2024. Anies Baswedan mengaku sudah mendengar informasi tersebut.

"Saya membaca berita itu, tapi saya belum mendengar verifikasinya dan lain-lain," kata Anies usai acara "Desak Anies" di Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/11/2023).

Meski begitu, Anies menyatakan data pemilih untuk Pemilu 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus dipastikan keamanannya. Anies menilai, operator yang menjaga data itu mesti berintegritas.

"Tapi kami merasa perlu yang namanya data itu harus dijaga keamanannya secara amat-amat serius. Bukan saja pada aspek sistemnya, tapi juga integritas operator yang melaksanakannya supaya keamanan data terjaga," jelas Anies.

Saat ditanyai soal kekhawatiran bakal ada kecurangan Pemilu 2024 imbas bobolnya data kependudukan itu, Anies menyampaikan akan meminta Tim Nasional (Timnas) Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) untuk mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

"Nanti saya akan minta teman-teman seperti Pak Leon (Co-Captain Timnas AMIN Leontinus Alpha Edison) untuk membahas lebih jauh, kan hari ini baru pemberitaannya, belum ada rilis resmi," kata Anies.

Oleh sebab itu, Anies menyatakan belum dapat berkomentar lebih jauh terkait bobolnya data pemilih 2024, sebelum semua informasi diperoleh secara utuh dan lengkap.

"Jangan kita berkomentar untuk sesuatu yang kita belum ada informasi lengkap. Dan saya dari dulu tidak pernah mau menceritakan yang belum tuntas dan berkomentar yang belum jelas," ujar Anies.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Data Pemilih Dibobol, Kubu Ganjar-Mahfud Minta KPU Pastikan Hasil Pilpres 2024 Aman

Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Andika Perkasa, menanggapi informasi dugaan pembobolan data pemilih 2024.

Terkait hal ini, dia meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bisa memastikan dan meyakinkan bahwa hasil pilpres 2024 juga aman tanpa ada intervensi melalui aksi peretasan tersebut.

"Siber security breach ini kan diduga sudah terjadi. Yang paling penting bagi kami sebagai salah satu peserta dalam pemilihan presiden kali ini adalah bagaimana tim dari KPU yang harus juga bisa dijelaskan secara detail langkah-langkah," ujar Andika di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (29/11/2023).

"Sehingga data yang sudah terambil ini tidak bisa digunakan untuk, misalnya, mengintervensi apa pun keputusan KPU, khususnya yang hubungannya dengan digital nanti," sambungnya.

Mantan Panglima TNI itu menyatakan sangat mungkin pihak yang tidak bertanggung jawab berupaya mengganggu hasil pilpres 2024 lewat data pemilih yang berhasil diretas dan bahkan diperjualbelikan itu.

"Karena ini jelas, ini sudah berada di tangan orang yang tidak berhak dan sangat mungkin ini digunakan untuk melakukan intervensi terhadap keputusan-keputusan KPU sendiri nantinya," ucap Andika.

Untuk itu, lanjut Andika, KPU bertanggung jawab meyakinkan masyarakat Indonesia, khususnya para kontestan pemilu 2024 bahwa hasil pemilihan nanti telah sesuai dengan aturan tanpa adanya gangguan di kemudian hari.

"Sehingga kami harus mendapatkan keyakinan dari KPU untuk bisa menjelaskan apa troubleshooting yang bisa dilakukan sehingga kami yakin data yang sudah di tangan orang yang tidak berhak ini tidak bisa mengganggu hasil pemilihan nanti," ucap Andika Perkasa.

 

3 dari 4 halaman

Data Pemilih Pemilu 2024 Bocor, DPR Minta KPU Tanggung Jawab

Komisi I DPR RI menyoroti kebocoran data yang kembali terjadi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Hal itu dibahas saat Komisi I menggelar rapat bersama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, mengatakan KPU adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas kasus dugaan peretasan dan kebocoran data pemilih pada pemilu 2024 tersebut.

"Jadi di Undang-Undang PDP (Perlindungan Data Pribadi) itu amanatnya kita enggak mau tahu itu dicolong oleh siapa, itu bagian berikutnya. Tapi kalau sampai kecolongan, harus bertanggung jawab ini KPU," ujar Abdul Kharis dalam rapat, Rabu (29/11/2023).

Tak hanya sebagai pihak yang bertanggung jawab, Abdul Kharis menyebut, KPU juga sebagai pihak yang salah atas dugaan kebocoran data pemilih tersebut.

"Jadi, ya dalam hal ini yang salah adalah KPU langsung. Langsung kita bisa mengatakan yang salah adalah KPU sebagai pengelola data pemilu ya, kalau mengikuti Undang-Undang PDP," ujar dia.

"Jadi bahwa kemudian nanti harus dicari siapa yang nyolong, itu iya. Tapi bahwa pengelola data bertanggung jawab menjamin keamanan. Masih ingat kita karena belum lama ini pembahasannya," sambung Abdul Kharis.

4 dari 4 halaman

KPU Investigasi Pembobolan Data Pemilih Pemilu 2024

Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah menginvestigasi kasus dugaan kebocoran data pemilih pemilu 2024. Hal ini menyikapi klaim hacker "Jimbo" yang mengaku telah meretas situs kpu.go.id dan mendapatkan data daftar pemilih tetap (DPT) dari situs tersebut.

Ketua KPU Hasyim Asy'ari menyatakan, pihaknya baru mengetahui informasi peretasan tersebut dari pemberitaan di sejumlah media online.

Saat ini, KPU bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tengah menyelidiki dugaan peretasan tersebut.

"Kami masih memastikan apakah informasi itu benar atau tidak. Kami bekerja sama dengan tim yang selama ini sudah ada, yaitu tim dari KPU, tim dari BSSN, kemudian dari tim Cyber Crime Mabes Polri, dan juga BIN, dan Kemenkominfo. Ini tim sedang kerja untuk memastikan kebenaran informasi tersebut," ujar Hasyim saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Rabu (29/11/2023).

Dia memastikan bahwa tim yang menangani IT KPU di dalamnya ada unsur kepolisian. Sehingga nanti setelah ditemukan bukti pidana dalam kasus peretasan tersebut, Polri akan langsung menindaklanjutinya dengan penegakan hukum.

"Nanti kalau indikasi-indikasi sudah jelas tentu ada tindakan-tindakan lanjutan. Tapi yang paling penting sekarang sedang diperiksa, sedang dicek, sedang dilacak kebenaran informasi tersebut," ucap Hasyim.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.