Sukses

Ternyata, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas Sudah Ada Sejak Tahun 1800-an

Liputan6.com, Jakarta -

Semua pengguna jalan raya seharusnya sudah tahu dengan rambu lampu merah atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL). Rambu yang berfungsi untuk  mengatur setiap perlintasan orang dan kendaraan bermotor ini rupanya sudah ada sejak tahun 1800-an.

Lalu-lintas dan kemacetan itu bukan barang baru dan bukan peristiwa yang terjadi di era modern ketika ditemukannya mobil. Dari tahun 1800-an, kuda dan kereta kuda suka tabrakan di persimpangan jalan dan persimpangan juga bisa membahayakan nyawa polisi lalu lintas.

Karena saking seringnya terjadi kecelakaan, maka dicarikan cara agar persimpangan jalan menjadi aman baik bagi pemakai kereta kuda, orang, polisi maupun kudanya. Akhirnya muncul penemuan rambu lalu lintas di London, Inggris, pada tahun 1868 yang dioperasikan secara manual.

Sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi pun berevolusi. Populasi kendaraan dengan tenaga mesin semakin bertambah banyak. Pada tahun 1923, Garrett Morgan seorang penemu kulit hitam asal Amerika Serikat menciptakan rambu lalu lintas semaphore mirip dengan yang dipakai di perlintasan kerea api. Disitu terdapat tanda kata “Maju” dan “Berhenti”.

2 dari 5 halaman

Model Lentera

Rambu lalu lintas yang pertama kali ditemukan adalah model lentera berputar dan untuk diaktifkan membutuhkan tenaga manusia. Berupa rambu dua warna yang dinyalakan oleh energi dari gas dan dipasang di dekat Parliament Square, London, Inggris, tahun 1868.

Awalnya sih rambu ini bagus, tapi setelah satu bulan terpasang meledak. Seorang polisi yang mengoperasikan rambu terluka saat itu. Kelemahan dari rambu ini adalah kendaraan yang lewat harus dipaksa berhenti mendadak mengikuti arahan rambu, jadi tak ada peringatan terlebih dahulu kepada pemakai jalan agar memelankan kereta kuda, kudanya atau mobilnya. Tabrakan pun masih sering terjadi.

Garret Morgan sendiri adalah orang kulit hitam pertama di Cleveland yang punya mobil. Karena tahu banyak masalah dengan rambu lalu-lintas, Ia pun membuat rambu dengan tiang berbentuk huruf T. Di situ terdapat tulisan, Stop, Go dan Tanda Stop untuk semua arah agar pejalan kaki bisa lewat. Akhirnya penemuan Morgan ini dibeli hak patennya oleh General Electric Corporation. Seharga US$ 40.000 atau kalau dikonversikan sekarang kisaran US$ 500.000.

 
3 dari 5 halaman

Hak paten mesin jahit dan topeng kebakaran

 

Morgan sendiri lahir di Paris, Kentucky dan merupakan cucu tentara Konfederasi ketika pecah perang saudara di Amerika. Ia hanya mengenyam pendidikan SD ketika bekerja sebagai mekanik mesin jahit. Menginjak remaja Ia pindah ke Ohio. Di kota ini ia meraih kesuksesan dalam bisnis dan mengantungi hak paten untuk mesin jahit.

Ia juga menjadi pemegang beberapa paten lainnya. Misalnya paten mendesain dan membuat prototipe masker gas yang digunakan oleh pemadam kebarakan dan pekerja tambang pada tahun 1914. Morgan pernah menyewa aktor berkulit putih dan aktor itu berpura-pura sebagai penemu untuk menghindari diskriminasi ras di Amerika Selatan. Morgan menyaru jadi asistennya dan mendemonstrasikan masker gas di dalam api.

Ketika terjadi ledakan di sebuah terowongan di bawah Danau Erie, Morgan dan adiknya memakai topeng gas temuannya untuk membantu misi penyelamatan. Dari misi ini Ia mendapatkan publikasi media, tapi sayang rasisme masih kuat banyak yang membeli topeng temuannya karena Morgan berkulit hitam.

Sebelum meninggal dunia tahun 1963, Morgan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah AS atas penemuan rambu lalu lintasnya. Kini, prototipe rambu lalu lintas temuannya itu disimpang di Smithsonian’s American History Museum, sedangkan topeng gasnya tersimpang di Smithsonian’s National Museum of African American History and Culture.

Sumber: Carvaganza.com

4 dari 5 halaman

Infografis 4 Manfaat Penting Vaksinasi Covid-19.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: