Sukses

Evvy Kartini, Ahli Nuklir Kaliber Internasional

Liputan6.com, Serpong: Di Indonesia, teknologi tenaga nuklir masih menjadi hal yang asing. Namun ternyata kita boleh berbangga, sebab Indonesia justru memiliki seorang ahli yang prestasinya telah diakui dunia. Doktor rer. Nat. (rerum naturalium) Evvy Kartini adalah salah satu dari hanya sepuluh ahli sejenis yang ada di dunia. Di kalangan internasional, Evvy memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas.

Bagi kebanyakan orang, gelas biasanya hanya dipergunakan sebagai barang pecah belah alat rumah tangga. Namun tidak begitu bagi Evyy Kartini. Karena itulah, saat mendapat kesempatan belajar di Jerman, ia mulai menjajaki penelitian terhadap material gelas. Saat itu sarjana Fisika lulusan Institut Teknologi Bandung itu magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Evvy pun dibimbing ahli hamburan neutron Prof. Dr. Ferenc Mezei.

Adapun karier penelitian Evvy dimulai ketika menyelesaikan S2-nya. Waktu itu ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Evyy kemudian membuat berbagai penelitian dari bahan gelas. Seperti saat ini, ia membuat baterai mikro yang dapat diisi ulang. Baterai yang merupakan hasil proses dengan metode teknik hamburan neutron itu, mampu menghasilkan daya yang lebih besar dibanding baterai yang ada saat ini dan juga ramah lingkungan.

Hasil riset yang dilakukan oleh Evvy sudah mendapat tanggapan dari para pelaku industri di dalam negeri. Kolega-koleganya di dunia internasional juga telah mengirimkan surat kesediaan untuk mengucurkan dana puluhan ribu dolar Amerika Serikat guna penelitian penerima Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Megawati Sukarnoputri--presiden saat itu. Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO).

Keberhasilan yang diperoleh Evvy sekarang ternyata tidak didapat begitu saja. Sebelum menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar listrik superionik, sempat membuatnya putus asa. Karena, biaya dan fasilitas penelitian di Tanah Air, tidak memungkinkan dilakukan penelitian. Bahkan, saat melanjutkan studinya di Jerman, banyak pengorbanan yang dilakukannya. Akibat kegigihan dan semangat pantang menyerah, Evvy mendapat gelar doktor dengan predikat cum laude atau terpuji.

Sederet prestasi lainnya juga didapat saat Evvy berada di Jerman. Dan, yang paling berkesan adalah saat terpilih sebagai wanita Asia pertama yang mengikuti Program Hercules. Pada 1994, namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B. Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras. Akhirnya pada 1998-2000 namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama.

Segudang prestasi berkaliber internasional tidak membuat Evvy lupa dengan kodratnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Di rumah, ibu dua anak kelahiran 22 April 1965 itu, selalu menyempatkan diri mendampingi buah hatinya beraktivitas. Beragam kegiatan, pastilah rasa lelah kadang menghinggapi Evvy. Namun ia memiliki cara jitu untuk mengusirnya yakni cukup dengan bermain piano.(JUM/Ariyo Ardi dan Agus Kusno)