Indonesia Siapkan Forum Konservasi Terumbu Karang di AS

Indonesia menyiapkan forum internasional di Washington pada 2027 untuk memperluas dukungan pembiayaan dan kerja sama konservasi terumbu karang.

Diterbitkan 25 Oktober 2026, 17:33 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Indonesia akan adakan forum 2027 di AS untuk perluas dukungan konservasi terumbu karang.
  • Segitiga Terumbu Karang penting, rumah bagi 76% karang dunia, menopang 120 juta orang.
  • Indonesia mencari kolaborasi internasional untuk pembiayaan dan teknologi konservasi laut.

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menyiapkan forum internasional di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada musim semi 2027 untuk memperluas dukungan bagi konservasi terumbu karang di kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle.

Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Forum itu direncanakan mempertemukan lembaga keuangan pembangunan, organisasi konservasi, dan filantropis internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pembiayaan dan kerja sama pelestarian ekosistem laut, terutama di kawasan yang menjadi pusat keanekaragaman hayati dunia.

Indonesia memiliki posisi penting dalam agenda konservasi tersebut. Kawasan Segitiga Terumbu Karang mencakup enam negara dan menjadi habitat bagi lebih dari 3.000 spesies ikan karang serta sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia. Lebih dari 120 juta penduduk di kawasan itu bergantung pada laut untuk pangan dan mata pencaharian.

Terumbu karang juga memiliki nilai ekonomi yang besar. Selain menopang perikanan dan pariwisata, ekosistem ini berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari gelombang dan badai.

Karena itu, upaya konservasi tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan, tetapi juga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Indonesia telah menjalankan sejumlah program konservasi, salah satunya Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP), yang dimulai pada 1998. Program ini bertujuan memulihkan ekosistem terumbu karang, memperkuat pengelolaan kawasan konservasi, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat pesisir.

Pada fase terakhirnya, COREMAP-CTI memperoleh dukungan pinjaman Bank Dunia sebesar US$47,38 juta, hibah Global Environment Facility (GEF) sebesar US$10 juta, serta kontribusi pemerintah Indonesia sebesar US$5,74 juta. Total pembiayaan program tersebut mencapai lebih dari US$62 juta.

Pengalaman itu menjadi salah satu landasan pengembangan program lanjutan, yakni Oceans for Prosperity Program atau Program Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA), senilai US$210 juta. Program yang melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Kementerian PPN/Bappenas tersebut diarahkan untuk memperkuat 20 kawasan konservasi perairan di 11 provinsi Indonesia timur, dengan cakupan pengelolaan mencapai 8,3 juta hektare.

 

Perluas Kolaborasi Lembaga Internasional

LAUTRA juga memperoleh dukungan hibah dari PROBLUE Multi-Donor Trust Fund sebesar US$5 juta dan Pemerintah Kanada melalui Oceans Multi-Donor Trust Fund sebesar US$7,3 juta. Program ini turut mendorong penguatan kapasitas pembiayaan biru untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya laut.

Dalam rencana forum di Washington, Indonesia berharap dapat memperluas kolaborasi dengan sejumlah lembaga internasional, termasuk Bank Dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN), World Wide Fund for Nature (WWF), The Nature Conservancy (TNC), World Resources Institute (WRI), Conservation International (CI), dan GEF.

Melalui forum tersebut, Indonesia berupaya mempertemukan agenda konservasi dengan pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan.

Dukungan internasional diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk pembiayaan, pertukaran pengetahuan, teknologi, serta program yang memberikan manfaat bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6