Double Job di Tengah Tekanan Ekonomi, Ketika Lelah Tak Bisa Berhenti

Kaum tengah menjalani double job demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi dan menjaga kesehatan.

Diterbitkan 20 Oktober 2026, 11:37 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani dua pekerjaan atau double job menjadi pilihan bagi sebagian orang guna memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi. Bagi kaum tengah, penghasilan dari pekerjaan utama yang belum cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari membuat pekerjaan sampingan menjadi salah satu cara agar keuangan keluarga tetap berjalan.

Dalam Voice of Middle Class, realitas ini memperlihatkan bahwa bertahan di tengah tekanan ekonomi bukan hanya soal mengatur pengeluaran. Sebagian pekerja juga harus mengorbankan waktu istirahat, kebersamaan dengan keluarga, hingga kesempatan menikmati kehidupan pribadi demi mendapatkan penghasilan tambahan.

Jamilah, 40 tahun, merasakan kondisi tersebut. Setiap hari, dia bekerja sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Setelah mengajar, dia masih harus menyiapkan makanan, mengurus anak-anak, dan menjemput anak sulungnya pulang sekolah.

Kesibukannya tidak berhenti sampai di situ. Setelah menyelesaikan urusan rumah tangga, Jamilah kembali bekerja sebagai buruh cuci di dua rumah. Pekerjaan tambahan itu dijalaninya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Bersama suaminya yang bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) sekaligus mengajar mengaji, Jamilah harus mencukupi kebutuhan tiga anak mereka.

Dari pekerjaan mencuci pakaian, dia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan. "Yang penting halal," kata Jamilah kepada Journal Kaum Tengah Liputan6.com melalui sambungan telepon.

Bagi Jamilah, rasa lelah harus dikesampingkan karena kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu. Ketiga anaknya masih bersekolah, termasuk seorang anak yang akan masuk SMP. Biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari membuatnya harus terus bekerja.

"Kalau saya mah dijalanin aja. Namanya juga punya anak tiga, kebutuhan banyak. Kadang capek juga. Pagi ngajar, pulang ngurus anak, habis itu masih nyuci di rumah orang. Tapi ya mau gimana lagi, kalau nggak begitu, kebutuhan anak-anak gimana?," ujarnya.

Double Job demi Memenuhi Kebutuhan Keluarga

Cerita serupa dialami Tia, karyawan di salah satu perusahaan rintisan (startup) terkemuka di Jakarta. Selain bekerja pada hari kerja, dia menerima pekerjaan tambahan sebagai perias pengantin setiap akhir pekan.

Sejak bercerai dua tahun lalu, Tia harus memenuhi kebutuhan dirinya dan kedua anak laki-lakinya. Saat dia bekerja, sang ibu membantu merawat anak-anaknya.

Penghasilan dari pekerjaan utama perlu ditambah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak. Pengeluaran sekolah tidak hanya muncul saat tahun ajaran baru, tapi juga mencakup uang saku, perlengkapan belajar, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Oleh sebab itu, Tia tetap menerima pelanggan rias pengantin meskipun waktu istirahatnya semakin terbatas. "Capek rasanya, tapi hidup terus berjalan," ujar Tia.

Di balik keputusannya menjalani double job, ada pengorbanan yang tidak selalu terlihat. Tia kerap merasa sedih karena tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anaknya.

Keinginannya untuk menemani mereka tumbuh besar harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab mencari nafkah. Sebagai orang tua tunggal, ia perlu memastikan kebutuhan kedua anaknya tetap terpenuhi.

Tekanan Ekonomi Membuat Pekerja Sulit Berhenti

Kisah Jamilah dan Tia menggambarkan bahwa double job tidak selalu dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup atau memenuhi keinginan pribadi. Bagi sebagian pekerja, pekerjaan tambahan menjadi cara untuk mempertahankan kehidupan keluarga di tengah kebutuhan yang terus berjalan.

Tekanan tersebut juga perlu dilihat dalam konteks kondisi kelas menengah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS), dalam publikasi Kelas Menengah Indonesia Krusial sebagai Bantalan Ekonomi Nasional, mencatat bahwa kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk Indonesia pada 2024. Kedua kelompok tersebut menyumbang 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya daya beli masyarakat bagi perekonomian. Namun, kondisi keuangan setiap keluarga berbeda, bergantung pada penghasilan, jumlah tanggungan, dan kebutuhan rumah tangga.

Bagi keluarga dengan anak usia sekolah, misalnya, biaya pendidikan menjadi pengeluaran yang harus disiapkan secara berkelanjutan.

Berdasarkan publikasi BPS Statistik Penunjang Pendidikan 2024, rata-rata total pengeluaran pendidikan per siswa pada tahun ajaran 2023/2024 mencapai Rp 4,56 juta per tahun untuk jenjang SD, Rp 7,34 juta untuk SMP, serta Rp 10,19 juta untuk SMA/SMK.

Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan pendidikan, seperti uang pendaftaran, uang saku, transportasi, seragam, buku, alat tulis, dan biaya operasional pendidikan. Dengan demikian, angka tersebut tidak semata-mata menggambarkan biaya yang dibayarkan kepada sekolah.

Dalam situasi seperti ini, mengambil pekerjaan tambahan bisa menjadi pilihan yang masuk akal secara finansial. Namun, semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, semakin sedikit pula kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.

Ketika Kelelahan Menjadi Bagian dari Rutinitas

Selain memengaruhi kehidupan keluarga, menjalani double job juga dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, terutama jika pekerjaan tambahan terus mengurangi waktu istirahat.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FICA mengatakan bahwa pola kerja yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Jam kerja panjang, kurang istirahat, dan stres berkepanjangan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan oleh orang-orang yang menjalani pekerjaan rangkap.

"Stres itu salah satu faktor risiko yang memang sudah diakui menjadi peningkatan risiko penyakit jantung," kata Vito saat dihubungi Journal Kaum Tengah Liputan6.com pada Senin, 19 Oktober 2026.

Menurutnya, bekerja terlalu banyak memang bisa memicu stres. Namun, kondisi sebaliknya juga dapat terjadi. Ketika seseorang kekurangan pekerjaan sehingga penghasilannya berkurang, tekanan finansial juga bisa menjadi sumber stres.

Oleh sebab itu, menjalani double job demi tambahan penghasilan perlu diimbangi dengan pengelolaan waktu dan kesehatan yang baik.

Double Job dan Kurang Istirahat Bisa Membebani Jantung

Vito menjelaskan bahwa jam kerja yang panjang dan waktu istirahat yang terbatas justru dapat menambah beban fisik maupun mental. Jika stres berkepanjangan diatasi dengan mengambil pekerjaan tambahan, tekanan yang dialami seseorang bisa semakin besar.

"Waktu istirahat tidak bisa dikorbankan untuk menambah pekerjaan, seharusnya demikian," ujarnya.

Kebiasaan tidur larut malam, kurang tidur, dan bekerja tanpa waktu pemulihan dapat memperburuk kondisi tubuh. Situasi tersebut juga bisa memengaruhi kebiasaan makan dan aktivitas fisik.

Orang yang sibuk bekerja mungkin tidak sempat berolahraga atau makan secara teratur. Pilihan makanan pun berisiko menjadi kurang terkontrol karena seseorang cenderung memilih makanan yang mudah dijangkau atau minuman manis untuk mengatasi rasa lelah.

Jika berlangsung terus-menerus, kombinasi stres, pola makan tidak sehat, dan kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan obesitas.

Vito menjelaskan bahwa obesitas dan stres juga dapat saling memengaruhi. Keduanya berkaitan dengan proses peradangan yang dapat berdampak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sementara itu, Founder of Health Collaborative Center (HCC) sekaligus Advocate for Mental & Community Health, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, Ph.D., mengingatkan pentingnya mengatur prioritas serta menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat.

Dalam penelitian yang dilakukan pada 2025 terhadap pekerja sektor keuangan di Indonesia, enam dari 10 pekerja dilaporkan mengalami fatigue dan lack of vigor, atau kelelahan dan kekurangan stamina untuk bekerja.

"Ternyata, enam dari 10 pekerja sektor keuangan di Indonesia mengalami fatigue dan lack of vigor atau kekurangan stamina bekerja karena justru pada waktu mereka harus istirahat, masih dipakai untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda," ujar Ray saat ditemui Journal Kaum Tengah Liputan6.com dalam acara Pemaparan Hasil Penelitian Determinan Perkembangan Kapasitas Kognitif dan Imajinasi Anak Usia Sekolah di DKI Jakarta Tahun 2026, Senin, 19 Oktober 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membentuk lingkaran setan. Alih-alih meningkatkan produktivitas, kebiasaan terus bekerja justru membuat seseorang semakin kelelahan dan kehilangan stamina.

Oleh sebab itu, memiliki pekerjaan tambahan perlu diimbangi dengan pengaturan waktu yang tepat. Tambahan penghasilan sebaiknya tidak membuat seseorang mengorbankan kebutuhan dasar untuk beristirahat.

 

Kenali Tanda Burnout akibat Pekerjaan

Kelelahan akibat pekerjaan tidak selalu hilang setelah seseorang berhenti bekerja. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketika rasa lelah tetap muncul meskipun sedang tidak melakukan aktivitas rutin.

Ray menjelaskan bahwa fatigue atau kelelahan akibat burnout dapat membuat seseorang merasa sama-sama lelah, baik ketika menjalankan rutinitas maupun ketika sedang tidak melakukan rutinitas.

Selain itu, seseorang mungkin mulai kesulitan menikmati waktu luang. Aktivitas yang biasanya menyenangkan, seperti menonton Netflix atau menghabiskan waktu bersama keluarga, tidak lagi memberikan perasaan bahagia seperti biasanya.

Dia juga menyoroti risiko pada orang yang memiliki jam kerja panjang, misalnya pekerja yang seharusnya menyelesaikan pekerjaan pukul 17.00, tapi baru pulang pukul 19.00 atau 20.00.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika jam kerja yang panjang terjadi berulang kali dan mengurangi waktu pemulihan tubuh.

Tetapkan Batas Jam Kerja dan Istirahat

Lantas, bagaimana jika seseorang tidak memiliki pilihan untuk berhenti dari pekerjaan sampingan karena kebutuhan finansial?

Ray menyarankan agar pekerja menentukan prioritas, terutama dengan memastikan pekerjaan utama tidak terbengkalai.

"Nomor satu adalah fokus dulu pada sumber penghasilan utama. Harus mengambil lebih dari 50 persen waktu kerja. Setelah itu, baru kemudian kita siasati," ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa pekerjaan tambahan tidak boleh mengambil waktu istirahat. Menurut penjelasannya, seseorang umumnya produktif selama delapan hingga 10 jam sehari. Jika bekerja lebih lama, kelelahan dapat meningkat dan produktivitas justru menurun.

"Yang paling penting adalah punya satu, dua, atau lebih dari dua pekerjaan tetap tidak boleh mengambil waktu istirahat," kata Ray.

Dia, menegaskan, pekerja perlu menyediakan satu hingga dua jam waktu istirahat yang benar-benar terpisah dari pekerjaan.

Dengan demikian, menjalani double job bukan hanya soal menambah penghasilan, tapi juga memastikan tubuh dan pikiran tetap memiliki kesempatan untuk pulih. Sebab, bekerja lebih lama tidak selalu berarti bekerja lebih produktif, terlebih jika kesehatan harus menjadi taruhannya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6