Fenomena Double Job, Siasat Kelas Menengah agar Tak Jatuh Miskin

Tim Medsos Liputan6.com baru saja mengunggah jajak pendapat di Instagram terkait fenomena double job. Hasilnya? Sudah bisa ditebak.

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 08:43 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tim Medsos Liputan6.com baru saja mengunggah jajak pendapat di Instagram terkait fenomena double job atau kerja sampingan, yang belakangan jadi satu mekanisme cara bertahan hidup kelas menengah Indonesia in this economy. Tiga pertanyaan mendasar disebar untuk meng-grabbing isu tersebut, yang intinya untuk mencari tahu mengapa orang-orang saat ini bekerja sampingan dan apa dampak yang paling dirasakan dari pilihan itu.

Hasilnya? Sudah bisa ditebak. Sebanyak 34% responden menjalani kerja sampingan karena terdesak kebutuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga responden mengambil pekerjaan sampingan bukan sebagai pilihan gaya hidup, melainkan karena tuntutan biaya hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan gaji dari pekerjaan utama.

Sementara itu, masih dalam jajak pendapat yang sama, sebanyak 87% responden mengaku punya pekerjaan sampingan, atau sedang aktif mencari. Artinya jelas, sebagian besar kelas menengah saat ini merasa perlu punya lebih dari satu sumber penghasilan. Dan hanya 13% masyarakat yang merasa aman hanya dengan mengandalkan satu gaji dari pekerjaan utama.

Ini mengindikasikan tingkat kepuasan terhadap kecukupan upah di kelas pekerja masih sangat rendah.

Sementara dari empat poin alasan mengapa kelas menengah perlu mencari pekerjaan sampingan, jawaban yang paling banyak adalah pemenuhan biaya hidup (41%), gaji di pekerjaan utama stagnan (28%), takut terkena PHK (18%), dan sekadar mengembangkan passion (13%). Dari temuan itu secara umum dapat disimpulkan faktor ekonomi menjadi pendorong utama seseorang perlu punya pekerjaan sampingan. Angka ini menegaskan lagi bahwa bagi sebagian besar kelas menengah, penghasilan dari satu pekerjaan saja secara riil tidak cukup lagi untuk memenuhi biaya hidup selama sebulan.

Gaji yang stagnan menjadi alasan kedua terbesar mengapa seseorang perlu punya kerja sampingan. Saat terjadi inflasi yang menyebabkan harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik, sementara gaji segitu-gitu saja bahkan malah dipotong untuk membayar utang, mencari kerja tambahan walau lelah tetap dilakukan, karena hanya itu satu-satunya jalan untuk menjaga dapur tetap ngebul.

Ketidakpastian ekonomi yang dapat dilihat dari makin banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), jadi motivasi lainnya mengapa seseorang mencari pemasukan tambahan.

Tidak melulu formal, pemasukan tambahan yang dimaksud bisa juga didapat dari bekerja serabutan, berdagang, dan lain sebagainya. Hal ini mencerminkan, in this economy, saat industri lesu dan PHK marak, orang-orang merasa perlu memiliki sumber pendapatan alternatif untuk berjaga-jaga. Sisanya, hanya 13% kelas menengah yang merasa kerja sampingan hanya untuk pemenuhan passion.

 

Double Job Bukan untuk Kaya Raya

Banyaknya kelas menengah yang merasa perlu punya kerja sampingan untuk bertahan hidup, tentu membawa dampak psikologis. Dari polling yang disebar terkait dampak yang dirasakan dari menjalani kerja sampingan, sebanyak 57% responden menjawab burnout dan waktu istirahat berkurang. Masalah fisik dan mental menjadi dampak yang paling dirasa saat seseorang menjalani side hustle.

Sementara 24% responden merasa kehilangan waktu untuk keluarga saat mengambil kerja sampingan. Jika digabungkan dengan angka burnout, sebanyak 81% atau mayoritas responden merasakan dampak kualitas hidup berkurang dari mengejar penghasilan tambahan. Hal ini penting untuk jadi perhatian serius pemangku kebijakan.

Menariknya, hanya 12% dari responden yang menilai keuangan menjadi lebih sehat dengan menjalani kerja sampingan. Ini mengonfirmasi temuan sebelumnya: kerja sampingan dilakukan mayoritas kelas menengah hanya untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan pokok, jauh dari anggapan menimbun kekayaan apalagi untuk investasi.

Dampak paling minim selanjutnya adalah pekerjaan utama terganggu, angkanya hanya 7%. Artinya, meski menjalani kerja sampingan, kelas menengah cenderung menjaga performa tetap unggul di pekerjaan utama, meski memang harus dibayar dengan rasa lelah dan kualitas hidup berkurang.

Secara garis besar, polling yang disebar tim Medsos Liputan6.com mengirimkan sinyal kuat betapa rapuhnya kondisi kelas menengah saat ini. Sulit mendapat kerja, setelah sudah dapat kerja perlu lagi mencari kerja tambahan demi menopang kondisi finansial tetap terjaga in this economy. Parahnya semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial yang mahal: burnout, tekanan mental, dan berkurangnya waktu bersama keluarga.

Itu yang dialami Dwi Rachmawati (29), seorang pekerja swasta di Jakarta. Kepada tim Journal Liputan6.com, Dwi merasa biaya belanja bulanan, untuk beli susu anak dan kebutuhan sekolah, semua naik drastis, yang memaksanya untuk mencari tambahan penghasilan meski sebenarnya dia sudah punya pekerjaan. Bekerja sehari 8 jam Senin-Jumat bahkan di waktu-waktu diharuskan lembur ditambah peran sebagai ibu rumah tangga, membuat Dwi harus memutar otak bagaimana caranya dapat penghasilan tambahan tapi kepala 'tidak pecah'.

Dwi akhirnya menemukan cara, yakni berjualan makanan berupa dessert pre-order yang dilakoninya jika ada waktu senggang dan di akhir pekan.

"Jujur sangat berpengaruh ke kesehatan dan mental ya, saya sebagai ibu pekerja di saat yang sama juga harus jadi pelaku UMKM, ditambah lagi harus ada tanggung jawab membagi waktu dan tugas di kantor dan di rumah, pastinya sangat berat," katanya.

Meski berat, Dwi tetap melakoni kerja sampingan sebisa mungkin agar kebutuhan hidup keluarganya tetap terpenuhi. Apalagi dua tahun belakangan ini, menurutnya kondisi perekonomian terasa begitu berat. Harga kebutuhan dirasa mahal, sehingga dia perlu mencari cara mendapatkan penghasilan tambahan.

Kondisi serupa juga dialami Arifqi (42). Dia merasa saat ini kelas menengah perlu double job bahkan triple job. Hal itu terpaksa perlu dilakukan karena menurutnya dalam beberapa tahun terakhir sulit baginya menyentuh titik kestabilan finansial. Pendapatan yang masuk tidak sebanding dengan pengeluaran. KPR menjadi pos pengeluaran yang baginya sangat berpengaruh. Meski mahal, dirinya sebisa mungkin mempertahankan rumah jika terjadi badai pengurangan tenaga kerja dan pekerjaan sampingan tidak mampu memenuhi biaya kebutuhan hidup.

"Paling mobil yang dijual, rumah sebisa mungkin enggak," katanya.

 

Bukan Solusi Jangka Panjang

Terkait bagaimana dampak sosial yang diterima saat menjalani kerja sampingan, Arifqi mengakui, pada akhirnya orang-orang akan 'kebal', artinya mereka tidak peduli lagi dengan efek kesehatan fisik dan mental saat dipaksa bekerja ganda, karena bagi mereka jatuh miskin akan jauh lebih menderita daripada berlelah-lelah cari cuan.

Meski begitu, Arifqy menyadari side hustle bukan solusi jangka panjang, mengingat kerja sampingan, baik jalur formal maupun informal, umurnya tidak akan berkelanjutan. Oleh karenanya dibutuhkan perhatian pemerintah untuk ikut turun tangan mencari solusi atas fenomena ini, agar kelas menengah tidak selalu terjepit di mana pun mereka berada.

Berbeda dengan Dwi dan Arifqy, wanita lajang bernama Marcelia Christine (22), mengaku menjalani kerja sampingan bukan untuk mencari cuan, tapi lebih kepada memanfaatkan waktu sebagai fresh graduate.

"Biar bisa banyak mengeksplorasi kesempatan dan skill yang bisa saya kembangkan. Apalagi sebagai sarjana pertama dalam keluarga, saya dibebani oleh ekspektasi orang tua dan keluarga untuk cepet-cepet dapat kerja. Jadi ya, saya terpaksa menjalani pekerjaan pertama yang gajinya masih belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari, terus cari tambahan lain," katanya.

Meski mengaku lebih karena faktor upgrade skill, pegawai swasta yang bekerja sampingan sebagai guru bimbel itu tak menampik jika gaji pegawai swasta selevel junior staff yang dilakoninya sekarang, tidak cukup besar untuk menutup biaya hidup yang kian mahal. Jika dihitung-hitung dalam seminggu, Christine bekerja lebih dari 35 jam, belum lagi jika ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan. Yang menambah stres bagi Christine, pekerjaan yang ia jalani sekarang tidak sesuai dengan passionnya.

"Jujur, merasa frustasi karena sebenarnya pekerjaan yang saya jalani sekarang nggak sesuai passion saya. Tapi mau gimana lagi, kalau sok idealis, saya nggak bisa makanlah," ungkapnya.

Bagi Christine hari ini, work-life balance hanya ilusi. Yang paling penting in this economy adalah, bagaimana caranya agar bisa bertahan dan tetap relevan di dunia karier yang ceruknya semakin hari semakin sempit. Apalagi sebagai kelas menengah, ia merasa tak pernah ada solusi dari pemerintah terkait masalah lapangan pekerjaan. Pemerintah saat ini malah terkesan lepas tangan dan membiarkan kelas menengah mencari jalan keluarnya sendiri dengan memeras tenaga dan mengurangi kualitas hidup demi satu kata: bertahan.

Akhirnya, menjalani pekerjaan sampingan hari ini bukan lagi sekadar tren, melainkan cara kelas menengah bertahan dari guncangan finansial. Tak peduli kualitas hidup berkurang, yang penting isi dompet jangan sampai lengang. Persis seperti bait dalam lagu hip-hop Side Hustle yang dinyanyikan Saykoji, Iwak K, dan Ras Muhamad:

I just wanna make money on the side ya ya

Biar semua masalah selesai yea yea…

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6