Mengapa Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumsel Tak Kunjung Padam?

Di lokasi terdampak parah kebakaran hutan, jarak pandang bisa menyentuh ratusan meter pada jam-jam kritis.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 09:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera Selatan (Sumsel) kian parah. Meski pemadaman telah berlangsung cukup lama, titik panas masih ditemukan dan sebaran asap terus mengancam kualitas udara di sejumlah daerah bahkan negara tetangga.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari cuaca kering, angin, hingga karakteristik lahan gambut yang membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Akibatnya, api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar mati.

"Api di permukaan mungkin sudah padam, tetapi bara di dalam gambut masih bertahan dan dapat memicu kebakaran kembali," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Barton Panjaitan, dalam wawancara via Whatsapp dengan Liputan6.com, Selasa (13/10/2026).

 

Bara di Bawah Permukaan Gambut

Karakteristik lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat pemadaman karhutla membutuhkan waktu lebih lama. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat merambat melalui lapisan organik di bawah tanah.

Dalam kondisi tersebut, bara api dapat bertahan meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat. Ketika kondisi kembali kering dan tersedia oksigen, bara tersebut berpotensi memicu kebakaran baru.

“Karakteristik lahan gambut memang membuat penanganan karhutla jauh lebih sulit. Api yang terlihat di permukaan bisa saja sudah padam, tetapi bara di lapisan gambut di bawahnya masih bertahan,” katanya.

Karena itu, pemadaman perlu dilanjutkan dengan proses pendinginan dan pembasahan secara menyeluruh. Petugas juga harus memeriksa lapisan gambut yang terbakar untuk memastikan tidak ada bara tersisa.

“Setelah api permukaan padam, petugas harus melakukan pendinginan dan pembasahan secara menyeluruh, memeriksa lapisan gambut yang terbakar, serta memastikan tidak ada bara yang tersisa,” ujarnya.

Proses tersebut membutuhkan air, peralatan yang sesuai, dan waktu yang cukup, terutama pada lokasi dengan lapisan gambut yang dalam.

 

Cuaca Kering dan Angin Perluas Sebaran Asap

Selain karakteristik lahan, kondisi cuaca turut memengaruhi tingkat kesulitan penanganan karhutla. Curah hujan yang rendah membuat vegetasi dan lapisan organik tanah semakin kering sehingga api lebih mudah bertahan dan menyebar.

Angin juga dapat mempercepat perkembangan kebakaran sekaligus membawa asap dari lokasi kebakaran ke wilayah lain. Sementara itu, kondisi atmosfer tertentu dapat membuat asap bertahan dan terkonsentrasi di suatu wilayah.

"Curah hujan yang rendah membuat vegetasi dan lapisan organik tanah semakin kering sehingga api lebih mudah bertahan dan menyebar," ujarnya.

Ketika beberapa titik kebakaran aktif secara bersamaan, asap dari berbagai lokasi dapat bergabung dan memperburuk kualitas udara dalam cakupan yang lebih luas.

Kemunculan titik panas setelah pemadaman juga perlu dicermati. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan bara yang kembali aktif di area yang sebelumnya terbakar maupun kebakaran baru di lokasi lain.

 

Satgas Darat dan Udara Perlu Bersinergi

Dia menambahkan, penanganan karhutla membutuhkan kerja terpadu antara petugas yang melakukan pemadaman langsung di lapangan maupun dari udara.

Satuan Tugas (Satgas) Darat punya peran penting dalam memadamkan api, melakukan pembasahan, memeriksa lapisan gambut, serta memantau kemungkinan munculnya kembali titik api.

"Satgas Darat memiliki peran penting, bukan hanya memadamkan api, tetapi juga melakukan pendinginan dan pemantauan lanjutan untuk mencegah kebakaran berulang," kata ujarnya.

Sementara itu, dukungan Satgas Udara melalui operasi pemboman air atau water bombing dapat membantu menekan kebakaran di lokasi tertentu. Namun, upaya tersebut lagi-lagi tetap perlu penanganan langsung di darat untuk memastikan pendinginan berlangsung menyeluruh.

Pemantauan setelah pemadaman juga diperlukan, terutama ketika cuaca masih kering dan risiko kebakaran berulang tetap tinggi.

 

Parahnya Kualitas Udara dan Jarak Pandang

Dampak karhutla memang membuat kualitas udara di Sumsel dan Kalimantan sangat buruk dan membahayakan kesehatan masyarakat.

"Angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan konsentrasi PM2.5 di beberapa titik wilayah Kalimantan dan Sumsel masuk dalam kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya(melebihi ambang batas aman)," ujarnya.

PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan asap karhutla berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi balita, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.

Selain itu, tebalnya asap juga menurunkan jarak pandang atau visibility drop ekstrem. Bahkan di lokasi terdampak parah, katanya, jarak pandang bisa di bawah 1.000 meter.

"Bahkan hingga menyentuh kisaran ratusan meter pada jam-jam kritis (pagi dan sore hari), yang secara langsung mengganggu keselamatan penerbangan, lalu lintas darat, dan transportasi sungai," ujarnya.

 

Bukan Sekadar Padamkan Api

Masih ditemukannya titik panas setelah pemadaman menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan mematikan api yang terlihat. Pendinginan lapisan tanah, pemantauan titik api, dan pencegahan kebakaran baru menjadi bagian penting dari upaya pengendalian.

“Pemadaman harus disertai pendinginan secara menyeluruh dan pemantauan lanjutan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa,” ujarnya.

Kondisi lahan gambut, cuaca kering, angin, dan luasnya sebaran sumber kebakaran menjadi tantangan yang saling berkaitan. Di saat yang sama, asap yang terbawa angin dapat memperluas dampak karhutla hingga ke wilayah yang jauh dari sumber api.

Sehingga, ujarnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari padamnya api di permukaan, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran berulang dan mengendalikan dampak asap terhadap masyarakat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6