Prasmanan MBG Diuji, BGN Klaim Lebih Segar dan Minim Sisa Makanan

Murid bisa nambah jika makanan disajikan masih ada sisa.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 11:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Uji coba makan bergizi gratis (MBG) sistem prasmanan dimulai untuk kualitas dan minimalkan sisa.
  • Sistem prasmanan memungkinkan penerima ambil sesuai kebutuhan, mengurangi sisa makanan (waste).
  • Uji coba melibatkan sekolah, memperkuat edukasi, dan memerlukan kesiapan semua pihak.

 

Liputan6.com, Jakarta - Penyajian makan bergizi gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diuji coba di sejumlah daerah. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan selain menjaga kualitas, sistem tersebut meminimalisir sisa makanan.

Sistem ini dinilai memungkinkan penerima manfaat mengambil makanan sesuai kebutuhan. Sementara makanan yang masih tersedia, dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya.

"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh (segar), kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, dan waste (sisa)-nya lebih sedikit karena prasmanan," kata Sudaryono dikutip Antara, Selasa (6/10/2026).

 

Uji Coba di 60 SPPG

BGN juga menilai sistem tersebut tidak sekadar perubahan teknis dalam distribusi makanan. Tetapi juga bagian dari penguatan fungsi edukasi dalam pelaksanaan MBG.

Dalam skema ini sekolah turut dilibatkan untuk memastikan proses penyajian berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, katanya, pelaksanaan prasmanan membutuhkan kesiapan baik dari pihak dapur maupun sekolah. Siswa juga dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara terjadwal, dengan tetap memperhatikan penggunaan perlengkapan yang sesuai dan tata kelola kebersihan.

"Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain, namun memang perlu ada training (pelatihan) yang cukup," tuturnya.

BGN saat ini terus memantau pelaksanaan uji coba di berbagai wilayah. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk menentukan pengembangan model prasmanan secara lebih luas, dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, serta karakteristik penerima manfaat di masing-masing daerah.

Uji coba MBG prasmanan saat ini menyasar lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Wilayah jalannya piloting mencakup Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jayapura, Papua.

Proses memasak di dapur pusat (Central Kitchen) tidak berubah. Makanan diolah di dapur SPPG, lalu dikirim dalam kondisi hangat ke sekolah untuk disajikan langsung di kelas. Skema ini menggantikan penggunaan wadah ompreng sekat per porsi.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6