Cara Penyidik KPK Bongkar Pengakuan Koruptor dari Sudut Gelap Ruang Pemeriksaan

KPK memastikan proses pemeriksaan saksi maupun tersangka tak semenegangkan yang banyak orang pikirkan.

Jadi intinya...
  • KPK tidak menggunakan intimidasi saat interogasi, melainkan pendekatan personal.
  • Penyidik KPK melakukan profiling untuk menyesuaikan metode interogasi dengan individu.
  • Interogasi dimulai dengan obrolan santai dan ice-breaking untuk kenyamanan psikologis.

Liputan6.com, Jakarta Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu mengungkap cerita di balik ruang gelap penyidikan. Banyak yang membayangkan, saat saksi atau tersangka diinterogasi, akan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan tendensius, nada tinggi dan intimidasi. Dia pastikan hal itu tidak terjadi.

Sebagai seorang senior di dunia investigasi, Asep mengaku punya perlakuan spesial bagi mereka yang ditangani, khususnya di KPK. Pertama adalah melakukan profiling.

"Pertama, kita lihat dulu, oh ini siapa nih yang mau diperiksa hari ini? Kita lihat dulu, oh ini kayaknya banyak pacarnya. Seperti itu. Nah, ini kita hati-hati! Kenapa? Kalau orang banyak kenalan, banyak pacarnya, karena suka bohongi istri misalnya. Jadi mungkin susah untuk kita gali sebab ada wil-nya itu biasa berbohong," kata Asep kepada awak media dalam acara KPK Media Gathering di Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/11/2025).

Asep menambahkan, cara lain lagi digunakan saat menghadapi seorang yang berlatar agamis. Artinya, penyidik harus mencari hal apa yang disukai mereka sesuai dengan profilnya.

"Jadi sesuai dengan bagaimana profiling mereka. Mereka ini sukanya apa, maunya apa, kita ajak dulu ke sana," jelas Asep.

Atau kasus lainnya, saat saksi datang dengan kecemasan dan ketakutan. Khususnya takut banyak sorot kamera saat berhadapan dengan media.

"Sering mereka mengaku ke saya, pak saya itu takut lho Pak. Tadi dikerubuti wartawan," ujar Asep.

Diawali Ngobrol Santai dan Ice Breaking

Dalam setiap pemeriksaan, katanya, baik saksi atau tersangka akan lebih dulu diajak ngobrol bahkan terkadang makan siang. Menurut dia, ice breaking penting untuk membuat suasana pemeriksaan lebih santai.

"Jadi ngobrol, belum masuk ke materi pemeriksaan. Kita ngobrol aja, ice-breaking lah. Cerita-cerita tentang keluarganya, cerita tentang hobinya, cerita tentang segala macam (sampai psikologiya tenang)," beber Asep.

Namun demikian, Asep memastikan. Walau terkesan santai, penyidik sejatinya sudah monitoring siapa yang akan datang di hari itu. Siapa keluarganya, tinggal di mana, asal sukunya darimana.

"Ya, kalau dia jawa diajak ngobrol jawa, piye kabare? Kalau dari sunda, pakai bahasa sunda, Pak kumaha? Damang?" tutur jenderal polisi bintang satu ini.

"Ngobrol seperti itu. Oh, ini hobinya apa? Oh, kita cerita. Hobinya apa? atau sudah pernah kemana aja (dinas/jalan-jalan)? Jadi, sampai dia bisa kita akhirnya bongkar!" imbuhnya memungkasi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6