Mensos Pastikan Sekolah Rakyat Tetap Berjalan Meski Ada Guru dan Siswa Mundur

Dari data Kemensos, tercatat 143 guru atau sekitar 9,7 persen dari total guru Sekolah Rakyat mengundurkan diri.

Diterbitkan 09 Agustus 2025, 23:44 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Program Sekolah Rakyat tetap berjalan meski ada pengunduran diri guru dan siswa.
  • Sekolah Rakyat fokus pada pemetaan bakat, bukan tes akademik formal.
  • Tujuannya menjangkau anak rentan dan memutus mata rantai kemiskinan.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sosial Syaifullah Yusuf memastikan Program Sekolah Rakyat tetap berjalan meski sejumlah guru dan siswa mengundurkan diri dari kegiatan belajar-mengajar. Program pendidikan berbasis inklusi dan bakat ini saat ini telah beroperasi di 70 titik.

"Mereka yang mundur tidak lantas membuat proses berhenti. Alhamdulillah, kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung di titik-titik yang sudah beroperasi," kata Syaifullah usai meninjau kegiatan Sekolah Rakyat di SRMP 9 Bandung, Kompleks Wyataguna, Bandung, Sabtu (9/8/2025) malam.

Dari data Kemensos, tercatat 143 guru atau sekitar 9,7 persen dari total guru Sekolah Rakyat mengundurkan diri. Mereka yang mundur adalah guru yang telah lolos seleksi, namun memilih keluar sebelum menjalani penempatan. Sementara dari kalangan siswa, sekitar 1,4 persen menarik diri, dengan sebagian di antaranya kembali bergabung setelah dilakukan pendekatan.

"Kami tidak memaksa. Itu pilihan, dan kami hormati. Tapi kami juga siapkan pengganti," ujarnya.

Program Sekolah Rakyat yang tidak menggunakan tes akademik ini mengganti seleksi masuk dengan pemetaan bakat (talent mapping) sebagai dasar pembelajaran. Hingga akhir 2025, program ini ditargetkan beroperasi di 159 titik dari Sabang sampai Merauke, termasuk Miangas hingga Rote.

"InsyaAllah pada 15 Agustus nanti akan mencapai 100 titik kalau sarprasnya sudah siap, dan menyusul 59 titik tambahan pada September," kata Syaifullah.

 

Jangan Samakan Sekolah Rakyat dengan Sekolah Umum

Pria yang biasa disapa Gus Ipul itu menegaskan, Sekolah Rakyat bukan sekolah formal konvensional, melainkan wadah pembinaan berbasis potensi anak.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak menyamakan sistemnya dengan sekolah umum yang memiliki standar akademik tinggi.

"Ini tidak ada tes akademik, yang ada adalah talent mapping untuk melihat kemampuan anak sebagai pedoman guru membimbing siswa. Masa matrikulasi juga lebih lama daripada sekolah umum," jelasnya.

Program Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya pemerintah menjangkau anak-anak dari kelompok rentan hingga miskin ekstrem yang tidak terserap pendidikan formal, dengan tujuan memutus mata rantai kemiskinan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6