Sukses

Soal Program Makan Siang Gratis, Kepala BKKBN: Jangan Lupa untuk Ibu Hamil

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengingatkan, program makan siang gratis harus bisa menyasar pada kelompok masyarakat yang berisiko stunting. Mereka adalah ibu hamil dan 1000 hari pertama kehidupan.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengaku, hingga kini pihaknya belum secara resmi dilibatkan dalam program makan siang gratis Prabowo-Gibran.

Meski belum dilibatkan, Hasto mengingatkan, program makan siang gratis harus bisa menyasar pada kelompok masyarakat yang berisiko stunting. Mereka adalah ibu hamil dan 1000 hari pertama kehidupan.

"Maka kami selalu sampaikan jangan lupa untuk ibu hamil dan untuk 1000 hari pertama kehidupan," kata Hasto dikutip dari kanal YouTube Liputan6, Jumat (17/5/2024).

Hasto yakin, program makan siang gratis akan terealisasi ketika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

BKKBN, kata Hasto, siap jika dilibatkan dalam program makan siang gratis. Menurutnya, program tersebut sangat beririsan dengan program yang ada di BKKBN.

"Kami senang kalau dilibatkan. Karena kami punya kepentingan, kepentingannya adalah alokasi anggaran yang untuk makan siang itu sebagian bisa beririsan dengan keluarga berisiko tinggi stunting," tambah Hasto.

Sebelumnya, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, siap jika diminta memberi usulan terkait kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan program makan siang gratis. Menurut Hasto, sebaiknya keluarga berisiko tinggi stunting jadi sasaran utama program makan siang gratis.

"Paling tidak usulan kami, keluarga berisiko tinggi stunting. By name, by address-nya ada itu. Itulah yang jadi sasaran utama," kata Hasto dikutip dari kanal YouTube Liputan6, Jumat (17/5/2024).

Selain keluarga berisiko tinggi stunting, kelompok masyarakat lain yang harus jadi sasaran program makan siang gratis yaitu calon pengantin kekurangan kalori dan proten.

"Dengan ciri bahwa lingkar lengannya kurang dari 23,5 cm. Kalau hamil itu anaknya stunting. Itu harus jadi sasaran untuk perbaikan gizi. Supaya sebelum hamil, dia sudah gemuk dulu sedikit" ungkap Hasto.

Ia menambahkan, jumlah keluarga berisiko tinggi stunting dan calon pengantin kekurangan kalori dan protein tersebut berdasarkan data BKKBN tahun 2023 lalu.

"By nameby address-nya kan ada orang-orang itu, nah itu lah yang menjadi sasaran," tambah Hasto.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Bappenas Tegaskan Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran Tak Gunakan Dana BOS

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan bahwa program makan siang gratis gagasan Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tidak akan menggunakan dana operasional Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Salah satu progam andalan Prabowo-Gibran itu nantinya bakal direalisasikan pada tahun 2025.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami usai acara 'Peluncuran Indeks Integritas Pendidikan 2023 dan Sosialisasi SPI Pendidikan 2024 KPK'.

"Untuk makan siang tidak diambil dari dana BOS. Itu kan juga di tahun yang akan datang tahun 2025," kata Amich saat konferensi pers di Gedung Dewas KPK pada Selasa (30/4/2024) kemarin.

Amich menyebut, saat ini Bappenas tengah mempertimbangkan sumber pendanaan dalam program unggulan makan siang gratis ala Prabowo-Gibran bersama dengan Kementerian Keuangan.

Dia menegaskan, program ini harus memenuhi asupan gizi anak-anak sekolah. Hal itu sebagaimana tindak lanjut untuk mencetak generasi emas yang diprediksi pada tahun 2045 mendatang.

"Sesuatu yang juga nanti akan memberikan manfaat besar, terutama asupan nutrisi gizi bagi anak-anak usia sekolah dan yang mungkin akan sangat membantu adalah nanti makan siang gratis untuk anak-anak di Paud dan di SD karena itu sedang dalam tumbuh kembang," kata Amich.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.