Sukses

Cuaca Hari Ini Minggu 11 Februari 2024: Hujan Guyur Sebagian Wilayah Jabodetabek Siang Nanti

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian wilayah di Jabodetabek pada siang hari ini, Minggu (11/2/2024) diprakirakan bakal turun hujan. Demikian prakirakan cuaca hari ini.

Berdasarkan laporan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wiliyah di DKI Jakarta siang nanti sebagiannya diprakirakan turun hujan, di antara yakni Jakarata Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sedangkan untuk wilayah di Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu diprakirakan cerah berawan.

Namun, untuk di malam hari, cuaca di seluruh wilayah Jakarta diprakirakan cerah berawan dan berawan.

"Waspada Potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang yang dapat terjadi di sebagian wilayah Jaksel, Jaktim Jakbar, pada sore hari; di Jakut, Kep. Seribu pada dini hari," papar BMKG melalui laman resminya www.bmkg.go.id.

Sementara itu, untuk wilayah penyangga Jakarta yakni Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang, pada siang hari diprediksi bakal turun hujan dengan intensitas ringan hingga petir.

Kemudian untuk di malam hari, Bekasi dan Depok diprediksi berawan, sedangkan Bogor dan Tangerang diprakirakan bakal tetap turun hujan.

Berikut informasi prakiraan cuaca Jabodetabek selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.go.id: 

 Kota  Siang  Malam  Dini Hari
 Jakarta Barat  Hujang Ringan  Berawan  Hujan Sedang
 Jakarta Pusat   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Hujan Sedang
 Jakarta Selatan   Hujan Ringan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Timur   Hujan Ringan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Utara   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Hujan Sedang
 Kepulauan Seribu   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Hujan Lebat
 Bekasi   Hujan Ringan  Berawan  Hujan Ringan
 Depok   Hujan Ringan  Berawan  Berawan
 Kota Bogor   Hujan Petir  Hujan Ringan  Berawan
 Tangerang  Hujan Ringan  Hujan Ringan  Berawan

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Hasil Kajian Iklim BRIN Periode 2021-2050, Cuaca Ekstrem Alami Peningkatan Signifikan

Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan perubahan iklim menunjukkan cuaca ekstrem mengalami peningkatan signifikan khusus wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI).

Pernyataan BRIN itu mengacu kepada hasil kajian perubahan iklim periode 2021-2050 dengan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi dari tim periset, menunjukkan kekeringan dan hujan ekstrem mengalami peningkatan signifikan.

Menurut Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer-BRIN Erma Yulihastin menjelaskan bahwa kekeringan dan hujan ekstrem mengalami peningkatan signifikan, berdampak pada wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan.

"Untuk Pulau Jawa, sebagian besar wilayah terancam mengalami suhu maksimum yang lebih tinggi dan suhu minimum yang lebih rendah khususnya untuk pantura Jawa Timur," ujar Erma dalam keterangan tertulisnya, Bandung, 1 Februari 2024.

Erma mengatakan kekeringan ekstrem di masa mendatang juga berdampak pada wilayah Kalimantan bagian tengah, timur dan selatan (termasuk IKN). Sedangkan, Kalimantan bagian barat diproyeksikan mengalami hari-hari yang lebih basah.

3 dari 3 halaman

Hasil Kajian

Selain kajian proyeksi perubahan iklim tersebut, Erma menjelaskan kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.

Hal ini sebagai bentuk validasi agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.

"Kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal menjadi kunci penting untuk memahami pola cuaca ekstrem yang terjadi di BMI selama dekade terkini sebagai dampak dari pemanasan global," kata Erma.

Pada dasarnya terang Erma, pola hujan diurnal di BMI mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.

Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dinihari dengan frekuensi yang signifikan setara dengan 20 persen untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk DKI Jakarta.

Hujan dini hari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) tersebut bahkan telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.

"Hasil kajian kami menunjukkan karakteristik utama hujan dinihari yang terjadi di utara Jawa bagian barat, yaitu pertama hujan mengalami propagasi yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya, kedua keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dinihari antara 01.00–04.00 WIB, ketiga hujan dini hari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di DKI Jakarta," ucap Erma.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.