Sukses

Pelantikan Sutiyoso Berjalan Lancar

Liputan6.com, Jakarta: Dengan penjagaan super ketat, akhirnya pasangan Sutiyoso-Fauzi Bowo resmi dikukuhkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta periode 2002-2007. Mereka dilantik di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (7/10), sekitar pukul 09.20 WIB. Proses pelantikan berakhir tanpa hambatan. Padahal, sebelumnya dikabarkan massa anti-Sutiyoso akan berupaya menggagalkan pelantikan. Sebaliknya, sekitar 500 pendukung Sutiyoso justru terlihat memenuhi halaman Gedung DPRD. Mereka antara lain adalah Perkumpulan Orang Betawi dan Ikatan Pekerja Galian Pembangunan Indonesia [baca: Ribuan Orang Akan Menggagalkan Pelantikan Sutiyoso].

Sutiyoso hadir di DPRD dengan didampingi istrinya, Setyo Rini. Dia harus melewati pintu belakang Gedung DPRD, beberapa saat sebelum acara pelantikan digelar. Hadir dalam pelantikan ini Gubernur Nusatenggara Barat Harun Al Rasyid yang pernah menjabat Wagub Jakarta. Serta beberapa Duta Besar negara sahabat seperti Dubes Palestina untuk Indonesia Ribhi Awad. Begitu pula Wali Kota Bangkok dan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno juga menghadiri acara ini. Namun, Wakil Ketua DPRD dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tarmidi Suhardjo tak tampak di ruang pelantikan.

Sebelum duet Sutiyoso-Fauzi disumpah, Mendagri mengingatkan mereka atas sumpah yang akan dibacakan. Sebab, hal itu mengandung tanggung jawab pada negara untuk menyelamatkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta memperhatikan kesejahteraan rakyat. "Sumpah ini di samping disaksikan diri sendiri dan yang hadir, juga harus disadari bahwa sumpah ini disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sumpah ini hendaknya diucapkan dengan sepenuh hati dan kemauan yang sungguh-sungguh. Sumpah ini adalah janji terhadap Tuhan dan manusia yang harus ditepati dengan segala keikhlasan dan kejujuran," pesan Mendagri.

Mantan Panglima Komando Daerah Militer Jaya pun mengucapkan sumpah jabatan. "Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur DKI Jakarta dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan UUD 45 sebagai konstitusi negara, serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi daerah dan NKRI". Setelah Sutiyoso, giliran Fauzi mengucapkan sumpah jabatan. Selanjutnya keduanya menandatangani Berita Acara Pelantikan. Mendagri pun menyematkan tanda jabatan dan pangkat Gubernur dan Wagub.

Beberapa saat setelah dilantik, Sutiyoso meminta seluruh warga Jakarta bahu-membahu membangun Ibu Kota. Dia juga berjanji merangkul semua kalangan, termasuk yang menentang dirinya. &quotIbarat pertandingan, semuanya sudah usai. Inilah demokrasi. Khusus terhadap pihak yang kontra saya, saya mengganggap tindakan mereka masih wajar. Sebab mereka juga adalah penduduk Jakarta. Yang justru tak wajar adalah mereka yang ingin menggagalkan pelantikan saya,&quot ujar Sutiyoso, kalem.

Berdasarkan pemantauan SCTV, hingga pelantikan usai, tak ada aktivitas massa yang berupaya menggagalkan pelantikan. Namun, pengamanan ekstra ketat tampak di luar gedung. Kepolisian Daerah Metro Jaya menyiagakan 4.000 personel di luar Gedung DPRD [baca: Pengamanan DPRD DKI Diperketat Menjelang Pelantikan Sutiyoso]. Setiap undangan yang masuk ke Gedung Wakil Rakyat juga diperiksa dengan alat pendeteksi logam. Bahkan, untuk menjaga kerahasian tempat pelantikan sekitar 100 personel polisi disiagakan di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakpus, sejak kemarin petang. Sampai pelantikan usai, polisi belum beranjak dari sana. Tampak tiga truk, sebuah mobil water canon, dan kendaraan taktis disiagakan. Polisi bersikap santai karena pelantikan berlangsung di Kebon Sirih.

Bang Yos--begitu Sutiyoso disapa--memang telah dilantik sebagai Gubernur DKI. Namun, isu money politics dalam proses pemilihan gubernur masih santer terdengar [baca: Sinyalemen Penyuapan Gubernur DKI Semakin Terkuak]. Dugaan dan sinyalemen praktik politik uang itu ditanggapi Ketua Panitia Pemilihan Gubernur Suwardi, beberapa saat menjelang upacara pelantikan Sutiyoso-Fauzi. Suwardi menyatakan, publik telah diberi kesempatan menguji proses tersebut. Setelah melewati batas waktu tiga hari, ternyata tak ada laporan tertulis mengenai praktik tercela tersebut.

Seperti diketahui, ada beberapa kalangan yang menggugat proses pemilihan tersebut. Forum Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, misalnya. Mereka telah meminta Pengadilan Tata Usaha Negara membatalkan pemilihan. Alasannya, mereka menilai ada sejumlah pelanggaran tata tertib. Apalagi, beberapa anggota DPRD Jakarta juga mengendus bau politik uang dalam proses pemilihan [baca: Persidangan Tuntutan Pembatalan Gubernur DKI Digelar].(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

    Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

    Tutup Video