Sukses

Ketika Dwitunggal Menjadi Dwitanggal

Liputan6.com, Jakarta: Gaya kepemimpinan Soekarno dan Mohammad Hatta seperti langit dan bumi. Soekarno bersikap bak mercusuar. "Dia itu insiyur artis dengan cita-cita politik yang tinggi," kata pengamat sosial Selo Soemardjan. Sebaliknya, Mohammad Hatta cenderung bersikap low profile dalam menyikapi gaya Soekarno. Perbedaan tadi lambat laun mengakar di antara mereka. Puncak keretakan kedua tokoh proklamator tak pelak mencuat pertengahan 1950. Buntutnya, putra kelahiran Bukit Tinggi 12 Agustus 1902 itu memilih mundur sebagai wakil presiden. Uniknya, persahabatan mereka tetap utuh sampai Bung Karno menghembuskan napas pada 1970.

Sebenarnya, jurang antara Soekarno dan Hatta terlihat sejak sama-sama menggalang kekuatan pada 1920. Kala itu, kedua putra Indonesia tersebut getol berjuang melawan Belanda dengan cara masing-masing. Hatta remaja yang tengah belajar di Belanda membentuk Perhimpunan Indonesia. Pada waktu bersamaan, Soekarno juga giat memperjuangkan lahirnya negara Indonesia. Prinsip perjuangan kelompok mereka pun berseberangan. Kendati begitu, hubungan individu Soekarno-Hatta sangat erat, meski terpisahkan jarak dan waktu.

Nama Soekarno-Hatta mengharum setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945. Dwitunggal ini pun berbagi tugas untuk mengangkat nama Indonesia di mata internasional. Bung Hatta yang piawai berdiplomasi ditugasi mengikuti konferensi tingkat dunia. Sementara Bung Karno tetap berperan sebagai penggelora semangat revolusi rakyat Indonesia.

Awalnya, perbedaan pribadi dan model kepemimpinan yang mencolok bukan menjadi masalah besar. Karena, "warna-warni" yang mereka miliki bisa saling mengisi untuk memperjuangan Indonesia Satu. Belakangan, kerikil-kerikil perpecahan menajam. Bahkan, Bung Hatta menilai perjuangan Soekarno semakin menyimpang dari tujuan kemerdekaan. Kenyataan yang dikhawatirkan Bangsa pun terjadi, saat Soekarno berkeras mencanangkan Demokrasi Terpimpin. Hatta menganggap sikap Presiden tadi sebagai perang terbuka. Ia balik menyerang dengan mengecam konsep Demokrasi Terpimpin. Di mata Hatta, Demokrasi Terpimpin adalah bentuk kediktatoran. "Pertempuran" tak kunjung padam. Puncaknya terjadi ketika Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden, 1956 atau tepat 11 tahun setelah proklamasi kemerdekaan. "In a good Minangkabau style, ya, saya mundur saja. Saya kasih kamu kesempatan karena semua pihak makan di sekitar kamu," kata wartawan senior Rosihan Anwar mengutip pernyataan Hatta.

Keputusan Hatta mengagetkan sejumlah kalangan. Mereka menyayangkan pilihan tersebut. Lembaga perwakilan rakyat yang ada pada saat itu sulit meredam emosi Hatta. Upaya mempertemukan Soekarno-Hatta juga kerap menemui jalan buntu. Akhirnya, mereka membiarkan kontroversi tersebut berlanjut. Hatta yang gusar terus melancarkan kritik dengan berbagai cara.

Anehnya, Soekarno tak pernah membantah serangan sahabat karibnya. Bung Karno hanya mengucapkan terima kasih atau sesekali menanyakan kapan mereka bisa bertemu. "Ruang pribadi mereka terjaga. Inilah uniknya karena secara politik bermusuhan, tapi pribadi tidak," kata sejarawan Taufik Abdullah. Sikap negarawan dan persahabatan pribadi di antara keduanyalah yang membuat mereka tak bermusuhan. Soekarno pernah melamar Rahmi Rachim untuk Hatta [baca: Cerita Cinta Hatta ]. Sedangkan Hatta pernah menjadi wali ketika Guntur Sukarnoputra menikah.

Sejak itu, episode pentas Dwitunggal berakhir. Bung Karno terus melenggang sampai jatuh dari tampuk kekuasaannya. Sementara Hatta berjuang dengan caranya sendiri, yaitu berbagi ilmu buat anak-anak didik dan keluarganya. Tetap dengan gaya khas Hatta yang sederhana dan membumi.(KEN/Indriati Yulistiani dan Kurnia Supriatna)