Sukses

Singkawang, Bukan Sekadar Kota Seribu Kelenteng

Liputan6.com, Singkawang: Kota Singkawang di Kalimantan Barat selama ini terkenal dengan perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Namun selain itu ternyata ada keindahan lain yang juga perlu dikenal dari Singkawang, yakni berbagai kelezatan kuliner yang memanjakan lidah.

Satu di antaranya adalah kopi tubruk atau kopi saring. Kopi ini banyak ditemui di Singkawang. Uniknya, tak ada mesin untuk membuat kopi tersebut. Semuanya tradisional. Itu tidak berubah sejak tahun 1990-an. Kendati begitu, kedai kopi saring selalu ramai dikunjungi.

Selain kopi, bakmi Singkawang juga sangat terkenal. Sudah ada sejak tahun 1960-an. Terasa spesial karena lengkap dengan ayam kecap, bakso tahu, bakso sapi, udang, potongan heikang, pangsit, irisan telur dadar, dan sayur-sayuran. Komplit. Satu mangkuknya dijual dengan harga Rp 20 ribu.

Di Singkawang juga ada taman rekreasi yang bisa menjadi alternatif untuk berlibur. Namanya Taman Rekreasi Sinka Island. Lokasinya sekitar delapan kilometer sebelum masuk pusat Kota Singkawang. Di sini ada tempat kencan favorit buat pasangan kekasih.

Ada juga Pulau Simping. Air laut di sana memang tidak biru jernih. Namun pantainya pas sekali untuk meresapi keindahan bentang alam Singkawang--tentu saja dengan segala kekurangannya.

Singkawang berasal dari kata San Keuw Jong. Berasal dari bahasa Hakka, salah satu etnis Tionghoa. Artinya kota di antara gunung dan laut.

Singkawang juga terkenal dengan sebutan kota seribu kelenteng. Satu di antaranya adalah Kelenteng Tri Darma Bumi Raya. Lokasinya tepat di jantung kota. Bersebelahan dengan Masjid Raya Singkawang yang berdiri megah. Inilah bentuk toleransi beragama masyarakat daerah tersebut.

Sejarah Kelenteng Tri Darma Raya sama tuanya dengan sejarah Kota Singkawang. Dulu Singkawang adalah hutan angker yang konon banyak hantunya. Berangkat dari sanalah dibangun kelenteng yang belakangan ternyata menjadi magnet wisata bagi para pelancong.

Jika malam menjelang, ada baiknya Anda mencicipi kuliner khas Singkawang yang lain. Namanya sotong bakar. Makanan ini dibuat dengan cara sederhana. Tapi jika tak menguasai tekniknya, bisa-bisa rasanya menjadi tak enak.

Setelah dibakar sampai melengkung, sotong lalu digulung. Selagi masih panas, sotong dipukul keras berkali-kali dengan cepat. Alat pukulnya itu mirip seperti yang dimiliki para tukang bangunan. Harga sotong bakar bervariasi. Antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu.

Selain sotong bakar, ada juga sotong kangkung. Ini lebih unik lagi. Soalnya sotong direndam air gunung dua hingga tiga hari untuk menghilangkan lendir. Baru setelah itu direbus satu menit, sebelum dipotong.

Kangkungnya dipilih yang segar. Bisa disajikan dengan bubuk kacang sangrai, saos dari kanji, gula merah, dan asam jawa. Harganya relatif terjangkau, yakni Rp 12 ribu per porsi.

Satu lagi yang tak boleh dilewatkan apabila Anda berkunjung ke Singkawang, yakni menyaksikan penampilan grup musik Pat Jim Pan. Sudah lebih 50 tahun grup itu mengisi berbagai acara. Mereka menghibur masyarakat dengan delapan jenis alat musik petik maupun gesek. Tentu saja lengkap dengan lagu-lagu Mandarin.

Sayangnya, kesenian ini seperti ditinggalkan. Tak banyak generasi muda yang mau mempelajari alat musiknya. Sehingga grup musik Pat Jim Pan masih terdiri mereka yang sudah kakek-kakek.(ULF)