Sukses

Ular Kobra Khas Jawa

Liputan6.com, Yogyakarta - Pedukuhan yang dikenal sebagai Kampung Pelangi dilanda waspada. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir tamu yang tak diundang kerap menyatroni wilayah tersebut. Tamu tersebut adalah ular sanca. Malam belum begitu larut, dan kesunyian itu pecah. Seekor ular tertangkap mata di sungai yang membelah wilayah pedukuhan.

Kaum lelaki sontak berhamburan ke lokasi. Bermodal cahaya senter, beberapa warga menyisir kali kecil. Peralatan memang seadanya, tapi urusan nyali tak perlu diragukan. Ular sanca kembang sepanjang lebih dari dua meter berhasil dilumpuhkan.

Sorak sorai membahana bagaikan menyambut kemenangan dari medan laga. Ini merupakan ular kelima yang ditangkap warga Ledoksari. Kampung Pelangi kini punya warga baru.

Lima ekor reptil bernama latin Malayopiton Reticulatus berukuran satu setengah hingga tiga setengah meter ini jadi pusat perhatian. Akan tetapi, rasa was-was masih menyelimuti warga Ledoksari.

Meski tak berbisa, ular piton nyatanya berbahaya dan ancaman itu masih mengintai. Semburat cahaya memancar dari sisik yang membungkus tubuh panjangnya.

Inilah ciri yang dimiliki salah satu ular paling mematikan di dunia, Kobra Jawa. Inilah target Nur Santoso dan kawan-kawan, para pemburu kobra dari Bantul, Yogyakarta.

Tak cuma bermodal berani dan nekat, Nur juga mesti paham kapan waktu yang tepat menemukan kobra. Persawahan dan ladang jadi zona ideal berburu Kobra Jawa. Leher melebar dan desis jadi indikator utama reptilia ganas ini siap menyerang.

Dan dalam situasi ini, kecermatan dan ketelitian sangat diperlukan guna meredam kecepatan kobra. Kobra atau ular sendok merupakan jenis ular berbisa tinggi. Jika merasa terancam, tak jarang ular sendok ini menyemburkan bisanya yang dapat membutakan mata.

Sejak kecil, Nur Santoso sudah bersinggungan dengan ular. Pengalaman menempanya terampil dalam memisahkan organ demi organ kobra. Tak sekadar pemburu, Nur Santoso menampung hingga dua kuintal beberapa jenis ular, bahkan dari luar Yogyakarta.

Profesi yang tak lazim ini digariskan dari sang ayah yang memulainya sejak pertengahan tahun 1980-an. Organ empedu, sumsum, dan darah kobra diyakini berkhasiat secara turun temurun.