Sukses

Kisah KSAD Jenderal Mulyono dan Kaos Tokoh Komunis China

Di era teknologi informasi tanpa batas, TNI dituntut mampu berperan dalam segala bentuk pertahanan nasional.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono punya cerita unik ketika marak larangan atribut komunis di Indonesia beberapa waktu lalu. Tidak dinyana, niatnya untuk berfoto bareng anak-anak di sebuah desa di Sukabumi berujung kegaduhan.

Bagaimana tidak, anak-anak yang berfoto saat itu menggunakan kaos bergambar tokoh Komunis China, Mao Zedong. Mao juga disebut sebagai bapak China Baru karena membangkitkan China dari keterpurukan sosial, ekonomi, dan politik.

Saat itu adalah momen di mana Mulyono tengah menghadiri proses bakti sosial pembangunan irigasi di sebuah desa di Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya tidak sadar kalau ternyata anak-anak yang ikut saya nanam bersama memakai kaos Mao Zedong," cerita Mulyono di hadapan para Pemimpin Redaksi di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu 10 Agustus 2016.

Kegiatan berlalu. Sampai akhirnya isu komunisme mulai menyeruak ke tengah masyarakat. Beberapa kegiatan seperti diskusi atau membedah teori-teori Marxis dibubarkan. Mereka yang kedapatan mengunakan lambang Palu-Arit tanpa pembelaan dicap sebagai penyebar paham komunis.

Jenderal Mulyono memiliki firasat bahwa foto bersama anak-anak beberapa waktu lalu itu akan menjadi buah bibir di masyarakat. "Tadinya sepi-sepi saja. Pas ramai isu komunisme, saya nanam sama anak-anak itu (yang mengenakan kaos Mao Zedong) jadi dipersoalkan," dia membeberkan.

Menurut jenderal kelahiran Boyolali ini, ideologi yang pantas di Indonesia tak lain dan tak bukan adalah Pancasila yang sudah sejak tahun 1945 menjadi ruh bangsa Indonesia. Sementara pihaknya akan menutup pintu untuk komunisme yang dinilai bertentangan dengan isi Pancasila, berada di Indonesia.

"Ideologi kita ya Pancasila. TNI maju dan siap untuk menjaga Pancasila. Jadi ideologi lain seperti komunisme dan lain sebagainya kita larang untuk masuk," tegas Mulyono.

Tantangan Global TNI

Di era saat ini bukan lagi perang terbuka yang menjadi tantangan TNI. Di era teknologi informasi tanpa batas, TNI dituntut untuk mampu berperan dalam menangkal segala bentuk gangguan pertahanan.

"Tantangan dalam lingkup global itu seperti konflik ISIS, terorisme, konflik Laut Cina Selatan, penyanderaan oleh Abu Sayyaf, kegiatan ilegal dan sengketa di wilayah perbatasan, aksi-aksi terkait tewasnya Santoso, isu SARA dan separatisme di Papua serta maraknya narkoba di Indonesia," kata Mulyono.

"Semua (permasalahan) itu akan jadi tanggung jawab kita untuk menjaga kedaulatan bangsa di berbagai bidang," Mulyono menandaskan. (Winda Prisilia)

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.