Guru, tentu tidak akan bereaksi andai saja pesan itu ucapan sayang dari keluarga atau pesan mesra dari sang pacar. Yang membuat guru kaget dan setengah tak percaya, di handphone remaja itu ada pesan singkat dari lelaki hidung belang yang mengajaknya berkencan.
Kepada guru, Feni menyebut nama Lia sebagai orang yang menghubungkan dirinya dengan sejumlah pria yang mengajaknya indehoi. Belakangan diketahui, ternyata tidak hanya Feni. Ada nama lain seperti Rina yang juga menjadi mangsa laki-laki hidung belang.
Perangkap Lia telah menjerat anak baru gede (ABG) ini. Rina adalah sahabat kecil Feni. Keduanya mengaku menjalani layaknya penjaja seks komersial selepas sekolah. Feni mengaku memperkenalkan Rina ke dunia kelam karena teman masa kecilnya itu butuh biaya untuk membayar sumbangan rutin di sekolah.
Advertisement
Tentu saja pengakuan Feni dan Rina membuat miris guru di sekolah itu. Mereka langsung melaporkan kasus itu ke kepolisian terdekat. Tentu saja dengan harapan bila ada anak didiknya yang juga terjerat jaringan sama, dapat segera terselamatkan.
Kepada polisi, Feni mengaku, rokok yang ditemukan di dalam tas saat razia adalah miliknya sendiri. Namun Feni sempat membantah bahwa SMS mesumnya berasal dari "om-om senang". "Ada satu SMS dari orang itu. Tapi bukan janjian, karena aku minta pulsa," kata Feni.
Setelah didesak polisi, Feni mengaku mengenal Lia Agustus silam yang membantunya mendapatkan pasangan berkencan. Sejak saat itu, paling tidak dua hari dalam satu pekan, Feni melayani jasa seks kepada sejumlah pria dengan tarif Rp 250 ribu sekali kencan. Sementara Lia, mendapat bagian Rp 100 ribu dari sekali kencan.
Dari keterangan Feni dan Rina, kemudian personel Kepolisian Resor Kota Bogor dengan mudah menciduk Lia di rumahnya. Feni dan Rina menyebut Lia sebagai mucikari. Untuk penyelidikan intensif, ibu satu anak itu kini meringkuk di tahanan Polresta Bogor. "Tersangka kita kenakan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2002 dan Pasal 267 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), di mana ancaman hukuman di atas tiga tahun," kata Kepala Polresta Bogor Ajun Komisaris Besar Polisi Irlan.
Jasa seks komersial di Kota Hujan ini kian marak saja. Tak sedikit dari pelaku pelacuran ini adalah mereka yang masih belia dan usia sekolah. Pusat-pusat perbelanjaan dan keramaian umum lainnya menjadi pusat strategis penjaja seks belia. Bila transaksi sudah deal, pelacur belia itu selanjutnya diboyong ke wisma atau hotel-hotel kecil di Kota Bogor dan sekitarnya.
Hasil penelitian Doktor Herien Puspitawati, staf pengajar Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor, menyebutkan pergaulan dan pola hidup konsumtif menjadi alasan para pelajar Bogor menjadi pekerja seks. Herien menyatakan, kasus asusila ini sebagai bentuk kenakalan remaja. "Free sex ini saya golongkan pada kenakalan kriminal karena menyalahi norma," kata Herien.
Pihak terkait segera berupaya untuk mengatasi masalah sosial ini. Kota Bogor yang berstatus daerah penyangga Ibu Kota dan tempat peristirahatan sangat mendukung prostitusi, termasuk kawin kontrak.(YYT/Tim Derap Hukum)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377480/original/078319600_1792466079-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__1_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)