Sukses

Terjadi di Jabodetabek, Waspada Polusi Udara Kian Parah di Musim Kemarau

Kualitas udara di Indonesia, terkhusus di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kerap berada di tingkat yang buruk hingga menimbulkan kekhawatiran. Kondisi ini salah satunya disumbang oleh polusi udara yang membuat langit di Jabodetabek berubah menjadi abu-abu.

Liputan6.com, Jakarta - Kualitas udara di Indonesia, terkhusus di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kerap berada di tingkat yang buruk belakangan ini hingga menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Kondisi ini salah satunya disumbang oleh polusi udara yang membuat langit di Jabodetabek berubah menjadi abu-abu.

"Based on data yang sudah diolah, jadi biasanya polusi udara tertinggi di bulan Mei sampai Agustus karena lagi kemarau dan adanya kelembapan dan lain-lain," kata Co-Founder Bicara Udara Novita Natalia dalam talkshow "Green Harmony: A Symphony of Sustainability" yang digelar Greeneration Foundation di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 17 Juni 2023.

Vita, begitu ia akrab disapa, melanjutkan atmosfer hingga angin turut berpengaruh pada tingkat polusi udara di Jabodetabek. Ia menyebut bahwa saat musim hujan, polusi udara akan lebih sedikit. "Itu bukan karena hujan tapi karena angin, jadi yang berpengaruh itu angin," terangnya.

Vita melanjutkan, "Kalau bicara kualitas udara, kenapa cuaca memengaruhi, itu karena angin. Sebenarnya, polusi udara source-nya ada yang alam dan buatan manusia."

Ia menjelaskan bahwa tingginya aktivitas manusia tak sebanding dengan banyaknya angin. "Tapi balik lagi, source-nya itu tadi, transportasi, PLTU, dan industri," katanya. "Sumber polusi udara itu nempel, tapi karena enggak ada anginnya dia akan tetap banyak," ungkap Vita.

Lantas, kapan polusi udara akan mereda? Vita memprediksi kualitas udara akan membaik pada rentang waktu Agustus hingga September.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tren Peningkatan Polusi Udara

"Saya baru dapat data dari AQLI (Air Quality Life Index) University of Chicago, ternyata memang dari 1998 sampai sekarang, ada terjadi tren peningkatan untuk polusi udara PM2.5," tutur Vita.

Dikutip dari BMKG, Particulate Matter (PM2.5) merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2.5 µm (mikrometer). Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar Beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µm/m3).

"Walau pun ada peningkatan, kalau kita breakdown lagi memang, misalnya kita lihat berubah sesuai dengan musim-musimnya, tapi kalau peningkatan itu pasti. Ada peningkatan yang lumayan signifikan kalau kita buat rata-ratanya," kata Vita.

Ia melihat saat ini sudah banyak masyarakat yang mulai mengecek kualitas udara melalui beragam aplikasi sebelum bepergian. "Terutama yang jalan kaki, atau yang pagi mau olahraga. Coba dipikir dulu karena biasanya polusi tertinggi itu ada di pagi," katanya.

Vita menambahkan, "Siang ke sore biasanya udaranya sudah lebih moderate jadi bisa olahraga."

3 dari 4 halaman

Polusi Udara Menurut WHO

Dikutip dari laman WHO, polusi udara adalah pencemaran lingkungan di dalam atau di luar ruangan oleh bahan kimia, fisik, atau biologis apa pun yang mengubah karakteristik alami atmosfer. Alat pembakaran rumah tangga, kendaraan bermotor, fasilitas industri dan kebakaran hutan merupakan sumber umum pencemaran udara.

Polutan yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat termasuk partikel, karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Polusi udara luar dan dalam ruangan menyebabkan penyakit pernapasan dan penyakit lainnya serta merupakan sumber penting morbiditas dan mortalitas.

Data WHO menunjukkan bahwa hampir semua populasi global (99 persen) menghirup udara yang melebihi batas pedoman WHO dan mengandung polutan tingkat tinggi, dengan negara berpenghasilan rendah dan menengah menderita paparan tertinggi. Kualitas udara terkait erat dengan iklim dan ekosistem bumi secara global.

Ada banyak penyebab polusi udara, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, juga merupakan sumber emisi gas rumah kaca. Maka, kebijakan untuk mengurangi polusi udara menawarkan strategi win-win untuk iklim dan kesehatan, menurunkan beban penyakit yang disebabkan oleh polusi udara, serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim jangka pendek dan jangka panjang.

4 dari 4 halaman

Dampak Polusi Udara

Dari kabut asap yang menggantung di kota hingga asap di dalam rumah, polusi udara adalah ancaman besar bagi kesehatan dan iklim. Polusi udara ambien (luar ruangan) baik di kota maupun di pedesaan menyebabkan partikel halus yang mengakibatkan stroke, penyakit jantung, kanker paru-paru, penyakit pernapasan akut dan kronis.

Selain itu, sekitar 2,4 miliar orang terpapar polusi udara rumah tangga tingkat berbahaya, saat menggunakan api terbuka atau kompor sederhana untuk memasak berbahan bakar minyak tanah, biomassa (kayu, kotoran hewan dan limbah tanaman) dan batu bara. Efek gabungan dari polusi udara ambien dan polusi udara rumah tangga dikaitkan dengan 7 juta kematian dini setiap tahunnya.

Sumber polusi udara beragam dan spesifik konteks. Sumber polusi luar ruangan utama, termasuk energi rumah tangga untuk memasak dan pemanas, kendaraan, pembangkit listrik, pembakaran pertanian atau limbah, dan industri.

Kebijakan dan investasi yang mendukung penggunaan lahan berkelanjutan, energi dan transportasi rumah tangga yang lebih bersih, perumahan hemat energi, pembangkit listrik, industri, dan pengelolaan limbah kota yang lebih baik dapat secara efektif mengurangi sumber utama polusi udara ambien.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini