Sukses

Cerita Akhir Pekan: Inovasi Ramah Lingkungan untuk Selamatkan Kehidupan Pohon

Liputan6.com, Jakarta - Setiap hari kita sering menggunakan barang-barang yang berhubungan dengan kertas seperti buku, tisu, kardus, koran, dan majalah. Barang-barang tersebut diproduksi dari kayu hasil dari jutaan batang pohon di hutan yang ditebang setiap harinya.

Namun banyaknya pohon di hutan yang ditebang untuk diambil kayunya sebagai bahan utama pembuatan kertas, nantinya bisa berdampak pada berkurangnya jumlah pohon tanpa adanya pembaharuan penanaman pohon kembali. Pohon itu sendiri tergabung dalam ekosistem dan tidak bisa diihat sendiri-sendiri atau hanya pohonnya saja.

Menurut Wahyu Perdana dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi, dampak jangka pendek dari banyaknya pohon yang ditebang adalah terjadinya bencana ekologis, seperti banjir, kekeringan dan kebakaran hutan. Sedangkan dampak panjangnya, bisa terjadi perubahan iklim yang bisa menyebankan banyak bencana ekologis, krisis pangan dan bisa terjadi gagal panen.

"Sebenarnya ambigu menyebut pohon bisa berdiri sendiri. Dalam momen Hari Pohon Sedunia ini, kita ingin kembali mengingatkan, ada beberapa jenis pohon yang hanya bisa ditanam di daerah atau kondisi alam tertentu," jelas Wahyu pada Liputan6.com, Sabtu, 27 November 2021.

"Jadi kalau pohon-pohon di Kalimantan seperti trembesi atau kayu ulin, belum tentu cocok ditanam di daerah lain, di pulau Jawa misalnya. Kita juga tidak bisa menanam satu jenis pohon saja di satu lokasi. Kalau itu terjadi, maka bisa merusak ekosistem di kawasan tersebut. Kami di Walhi tidak menyarakan menanam monokultur secara luas," lanjut Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Walhi ini.

Untuk bisa melestarikan pohon, menurut Wahyu, yang terpenting adalah menjaga apa yang ada sekarang. Ia mencontohkan, pohon kemenyan di daerah Danau Toba banyak yang menebang karena untuk keperluan industri. Hal itu bisa membuat habitat pohon kemenyan terus tergerus.

Beberapa pohon seperti kemenyan, hanya bisa ditanam di daerah mereka biasa tumbuh. Itu karena pohon bisa hidup bersama ruang hidupnya, sama seperti menusia yang merasa lebih nyaman di daerah yang biasa ditinggalinya. Jadi, kalau mau menjaga pohon juga harus menjaga alamnya atau ekosistemnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Gaya Hidup Sederhana

Wahyu menambahkan, kita bisa melakukan hal-hal simpel untuk bisa merawat pohon karena inisiatifnya memang seharusnya ada di masyaralat. Salah satunya adalah berhenti bersikap konsumtif. Misalnya, serat pohon banyak digunakan untuk pakaian.

"Kita hidup di masa fast fashion yang membuat makin konsumtif. Tren mode cepat berubah sehingga ada banyak pakaian baru. Mode pun makin berkembang, bukan sekadar pakaian tapi juga barang-barang yang kita pegang seperti ponsel atau barang elektronik lainnya," tutur Wahyu.

Dalam konteks yang lebh atau jangka panjang. Fokus utamanya tetap jangan konsumtif.  Terapkan gaya hidup sederhana. Beli barang seperlunya saja. Menurut Wahyu, hal itu sebenarnya sudah banyak diketahui oleh masyarakat, seperti dengan menbuang sampah pada tempatya, tidak mencemari lingkungn atau tidak membuang limbah sungai.

"Jangan pernah bosan untuk mengingat, membaca dan mengkritisi tentang pemeliharaan lingkungan, terutama terhadap langkah-langkah yang diambil pemerintah. Karena kalau tidak, bisa saja mengancam nasib anak cucu kita nantinya. Seperti kita tahu istilah lamanya, apa yang ada sekarang akan kita wariskan pada anak cucu kita nantinya," ucapnya lagi.

Salah satu poin terpenting adalah mengurangi pemakaian kertas. Kalau sudah terpakai, maka kita bisa mendaur ulang kertas yang sudah digunakan. Kita bisa mengubahnyamenjadi aneka kerajinan tangan seperti: bingkai foto, origami, kotak tisu, pembungkus barang dan lain lain sesuai dengan kreatifitas dan keinginan kita.

Cara pembuatannya bisa dilihat melalui internet dan buku kerajinan tangan dengan berbagai macam karya karya yang mudah sekali kita dapatkan di era sekarang ini.

3 dari 4 halaman

Gelombang Panas

Penebangan pohon yang sering diambil kayunya bisa memperparah situasi perubahan iklim. Itu bisa terjadi karena penebangan bisa meningkatkan emisi CO2 dan mengurangi kapasitas penyerapan CO2 dari udara. Pendapat itu dikemukakan Wira Dillon, seorang peneliti dari Yayasan Indonesia Cerah.

Dampak lainnya, Wira menambahkan, adalah mengurangi kapasitas penyerapan air hujan dan perlindungan erosi. Kedua hal ini bisa meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir dan longsor

"Penebangan pohon juga bisa mengurangi kemampuan regulasi temperatur daerah. Dampaknya yang paling terasa, akan meningkatkan hari-hari panas maupun frekuensi dan intensitas gelombang panas," terang Wira lewat pesan pada Liputan6.com, Sabtu, 27 November 2021.

Untuk mencegah hal itu terjadi, Wira mengatakan, kita bisa mendukung program penanaman tanaman, mendorong reboisasi lahan bekas tambang atau pengelolaan lahan lainnya. Selain itu, kita juga bisa mendorong perubahan kebijakan ataupun praktek industri.

Ada beberapa hal simpel yang bisa kita lakukan untuk melestarikan lingkngan dan mencegah banyaknya penebangan pohon. Salah satunya, buanglah sampah pada tempatnya.  Lalu, kurangi segala macam konsumsi berlebihan terutama dalam hal pemakaian barang.Konsep reduce - reuse - recycle (mengurangi – menggunakan kembali dan daur ulang) harus makin digiatkan.

Bisa juga dengan mengurangi penggunaan tas plastik yang sudah dilakukan di beberapa daerah. "Jadi, selalu membawa tas belanja sendiri, mendorong pendidikan sadar lingkungan atau menyebarkan pesan-pesan untuk menjaga lingkungan. Bisa juga dengan mendorong perubahan kebijakan agar lebih ramah lingkungan," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Tanaman Sayuran yang Cocok Ditanam di Lahan Sempit